Seringnya kita temui, disaat orang yang sedang dimabuk cinta, penuh dengan kemesraan, keromantisan, serta janji-janji, untuk sehidup semati, ingin membahagiakan,dan sebagainya. Yang mungkin dalam mengaplikasikannya, kadang-kadang diluar penalaran, dan tidak mungkin untuk dilaksanakan disaat jenjang perkawinan telah tiba.Khususnya, setelah rumah tangga berjalan cukup lama. Telah banyak pakar-pakar perkawinan seperti Dr Boyke, malah mengajarkan atau memberikan tip lewat cara-cara hubungan sex. Padahal, hubungan badan itu, hanyalah merupakan pendulum, untuk mengetahui apakah didalam kesehariannya ada kecocokan apa tidak, dan bukan merupakan sebab
Karena sebegitu ada ketidak cocokan, maka di hubungan badan itulah akan diketahui. Khususnya bagi laki-laki, saat ada perubahan psychis, maka dia tidak akan mungkin bisa ereksi. Dan, karena takut dikatakan tidak bisa memuaskan istri, serta takut dikatakan ada wanita lain, jadinya minum obat-obatan. Berbeda dengan perempuan, kendatipun dalam keadaan pasif sekalipun masih bisa dipaksakan, karena secara genetika memang begitu Tuhan menciptakan. Semua itu, lantaran ada sesuatu ketidak cocokan, terpendam begitu lama, yang kemudian muncul kepermukaan. Seperti halnya, disaat diminta agar watak yang tidak disukai dirobah, dan sebagainya. Kenapa? Hal ini dikarenakan, cinta itu gila, seperti apa yang ditulis oleh adimas KombesPol Suyono. Dan, memang sah-sah saja bila kita sedang mencintai, atau saling dicintai, Itu adalah merupakan naluri, yang tidak bisa dihindari. Satu hal saja yang membuatnya cocok, pasti akan menimbulkan getaran, terlepas apakah itu cinta kasih, ataupun cinta asmara. Yang ingin saya paparkan disini, bukanlah berbicara masalah cintanya, akan tetapi akan berbicara tentang jodoh, rumah tangga, dan adanya pihak ketiga.
Yakni, disaat kesepakatan cinta itu akan memasuki pada jenjang perkawinan, mestinya dipikirkan ulang. Apakah kiranya, kecocokan-kecocokan yang dirasakan pada saat masa penyesuaian watak mereka, sudah benar-2 cocok atau tidak? Dan, apabila terasa masih ada ganjalan pada masing-masing pihak, agar satu sama lain bertanya pada dirinya sendiri. Bisakah karakter yang tidak disukai itu dirubah? Dan, bila sekiranya tidak bisa dirubah, mampukah kita sebagai pasangannya menerima, bila hal itu akan berkelanjutan terus menerus? Juga, efek samping apa yang akan kita alami. Serta, mampukah hal itu kita atasi. Serta jalan keluar apa yang harus kita pakai, seandainya hal itu terjadi. Seperti halnya adanya kebiasaan-kebiasaan buruk(menurut kita sebagai pasangannya), bagaimana bila kembali kambuh? Begitu pula sebaliknya. Bila kita sedang mencintai seseorang, dan disuruh merobah watak yang menurut kekasih kita, adalah jelek, maukah kita merobahnya? Adakah kerugian bagi kita, bila hal itu akan kita hentikan? Jadi variable-variabel semacam inilah yang harus kita pikirkan ulang.
Hal ini perlu saya ketengahkan disini, sebab sering terjadi, justru ditengah kebahagiaan yang sedang kita reguk bersama, lantas muncul pihak ketiga. Benarkah pihak ketiga itu yang salah? Dan, dikatakan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Padahal, kalau kita kaji lebih dalam, sesungguhnya pihak ketiga itu tidak akan pernah ada, seandainya masing-masing pasangan didalam rumah tangga, saling menyadari, tentang apa sih yang dikatakan perkawinan itu. Definisi perkawinan itu, sebenarnya adalah untuk mempertautkan kembali, antara dua kebutuhan, yang bisa saling isi mengisi. Seperti halnya antara pencipta lagu, dan penyanyi. Sebagaimana yang pernah saya tuliskan terdahulu. Antara Adam, dan hawa, antara positif negatif, atau Yin dan Yang. Yang tentunya, masing-masing mempunyai watak yang berbeda. Didalam perkawinan, diharapkan kebutuhan ini bisa untuk didapatkan. Intinya; masing-masing pihak, suami dan istri, haruslah bisa “menjadi orang yang saling dibutuhkan”. Bukan saling membutuhkan, apalagi menginginkan, atau diinginkan “
Dari sinilah awal perenungan, disaat untuk menikah, baik itu pilihan sendiri, atau pilihan orang tua. Kata-kata “ dibutuhkan” tentu amat jauh berbeda dengan “ membutuhkan.” Kalau dibutuhkan, kita yang dicari(pasif stelsel), tetapi kalau membutuhkan, kita yang mencari(aktif stelsel). Selanjutnya, yang perlu direnungkan adalah ;
· Apakah yang menjadi kebutuhan kita( needs, bukan keinginan), bisa disediakan, atau mampu dilaksanakan oleh pasangan kita apa tidak;
· Bila saat ini pasangan tersebut tidak bisa memenuhi, lantas bisakah suatu saat akan dipenuhi, atau setidak-tidaknya berusaha untuk memenuhinya, dan paling lama sampai kapan, dan apa alasannya;
· Begitu pula sebaliknya, apakah yang menjadi kebutuhan pasangan, kita bisa memenuhi apa tidak, dan sampai kapan bisa dipenuhi;
· Dan yang terakhir, adalah watak kedua belah pihak, bisa cocok atau tidak. Bila tidak, lebih baik jangan diteruskan. Sebab, hanya dengan janji-janji, dan biasanya kita permisif, itu akan membahayakan sekali. Watak seseorang, tidak akan pernah bisa dirobah. Dan Tuhan menciptakan itu, memang sudah saling berpasang-pasangan. Itulah yang dikatakan jodoh. Dan tidak bisa kita meyakini, suatu saat akan berobah, selain dirinya sendiri yang merobahnya.
· Bila masing-masing pasangan benar-benar meyakini, serta bisa menjadi orang yang saling dibutuhkan, perkawinan itu bisa diteruskan.
· Artinya, apa yang menjadi kebutuhan masing-masing pihak, sudah bisa disediakan oleh pasangannya sendiri. Bukan oleh orang lain. Jadi, hal inilah sebenarnya yang dikatakan jodoh, dimana satu sama lain sudah bisa saling isi mengisi, tanpa keterpaksaan, dan tanpa membutuhkan pihak ketiga, baik another woman, maupun another man. ( wil atau Pil)
Kemudian, berbicara tentang adanya pihak ketiga; lni sebenarnya tidak mungkin terjadi, serta tidak mungkin ada didalam rumah tangga. Sebab, kata-kata pihak ketiga itu, hanyalah merupakan alasan pembenar bagi yang merasa dikorbankan. Perselingkuhan, tidak akan pernah terjadi bila kriteria yang saya kemukakan diatas, benar-benar dipatuhi, dan diakui secara jujur. Sering kali, ketidak cocokan itu sudah diketahui, disaat sebelum menikah, akan tetapi kita malah membiarkan, serta berandai-andai. Ah, besok kalau sudah punya anak kan bisa berobah. Kadang, kita tidak sampai hati untuk menyampaikannya. Apalagi setelah rumah tangga. Ah, besok kalau saya sudah kaya bisa saya robah, dan sebagainya. Ini, adalah merupakan kesalahan yang amat fatal sekali. Dan, tentu saja orang yang mengadakan perselingkuhan, merasa serba salah, dan bisa stress. Akan jujur, kalau dirinya tidak bahagia, dikatakan kejam, dikatakan tidak setia, imannya kurang kuat. Koq, watak play boy atau play girlnya kambuh, dan koq tidak pernah berobah dsb. Serta, masih banyak lagi kata-2 yang terloncat, sampai-sampai, seluruh khewan dikebun binatang diucapkan oleh seorang istri pada suami. Atau sebaliknya, bila ketahuan istrinya yang serong. Saya bisa menuliskannya ini, lantaran sering menangani kasus-kasus spt ini. Dalam satu minggu ini, sudah ada 4 orang yang masuk pengadilan agama untuk bercerai. Alhamdulillah, setelah saya beri penjelasan, akhirnya mereka tidak jadi bercerai. Bahkan, sekarang masih bulan madu, melebihi saat pacaran dulu. Namun, memang ada kalanya saya lihat, tidak ada jodoh, yah sudah, saya tidak bisa membantu, terserah mau cerai apa tidak. Dan, saya hanya memberi gambaran, bila diteruskan akan berantakan, atau rumah tangganya akan jalan ditempat terus. Bayangkan, mereka anaknya masih kecil-kecil.
Munculnya pihak ketiga, bukanlah lantaran karena kurang iman, agamanya kurang, dan wataknya jelek dsb. Iman itu adalah merupakan pedoman dasar sebelum kita melakukan sesuatu, sebelum terjadi, dan bukan setelah terjadi. Ini yang penting, bila kita tidak ingin mengalami hal-hal yang tidak diharapkan didalam rumah tangga. Melainkan, semua itu lantaran karena apa yang menjadi kebutuhan, tidak bisa disediakan oleh pasangannya. Bahkan setelah diusahakan berkali-kali tetap tidak bisa dilaksanakan. Sebagaimana tanaman, apa bisa padi dipaksa untuk menjadi jagung? Manusia diciptakan oleh Tuhan mempunyai karakter, kemampuan, dan lokus masing-masing. Yang kesemuanya punya pasangan sendiri-sendiri. Bila bukan pasangannya dipaksakan, cepat atau lambat, akan mulai muncul persilangan pendapat, percekcokan, yang ujung-ujungnya kambing hitamnya adalah pihak ketiga, fatalnya akan menimbulkan perceraian. Kecuali, bila memang sudah merupakan keputusan, karena sudah adanya perkawinan, haruslah menyadari, bila kita salah didalam memilih variabelnya, ya harus selalu berani mengambil resiko, serta dampak yang akan berakibat pada diri mereka. Kalau sudah begini lantas yang jadi kambing hitam adalah takdir, nasib dsb. Namun bagi yang masih single, hendaknya berpikir, disaat akan mau menikah. Terlepas karena cinta atau tidak. yang penting, kebutuhan itu bisa terpenuhi apa tidak, oleh masing-masing pasangan. Sehingga kasarnya adalah ; Ada nilai tambah apa tidak didalam perkawinan, pada masing-masing pasangan. Dan, karena itu sering pula saya nasehatkan pada mereka-mereka yang datang bahwa : Apabila ada seorang suami yang serong, yang salah adalah istrinya. Bila seorang istri yang serong, yang salah adalah suaminya. Adil bukan?
Selama ini, selalu pihak ketiga itu yang harus dipersalahkan. Sama halnya awak tidak pandai menari, lantas dikatakan lantainya yang berjungkit. Sebab, pihak ketiga itupun, hanyalah merupakan variable yang dikirim oleh Tuhan, dan merupakan jawaban bagi kita, terhadap apa yang telah kita lakukan. Apa yang menjadi kebutuhan pokok masing-masing orang, suami maupun istri, adalah apa yang telah diikrarkan bersama, dan yang dituangkan didalam buku nikahnya masing-masing. Selanjutnya, agar didalam perkawinan, khususnya bagi yang sudah terlanjur, hendaknya laksanakanlah sahadat secara rahman. Karena ini, adalah merupakan aplikasi dari sahadat rahim. Adapun tentang perbedaan antara keduanya , akan saya tulis tersendiri. Semoga bermanfaat.
Om, untuk mengetahui apa benar dia jodoh kita bikah dilakukan dengan permohonan doa kepada Allah SWT.
BalasHapusPengalaman saya, waktu belum menikah, saya hanya memohon pada Tuhan bila memang dia jodoh saya tolong didekatkan tetapi bila bukan jodoh saya mohon jauhkan dia dari saya. Ternyata kami akhirnya menikah, tetapi ternyata ada masalah dengan watak suami saya yang saya tdk menduganya semula, tetapi waktu itu saya hanya dapat pesan dari neneknya yang selalu saya ingat dan jadi pegangan saya yaitu untuk selalu "sabar" dalam menghadapi dia.....dengan bekal kata2 itu saya hadapi masalah rumah tangga saya. Sekarang masalah itu sudah dapat kami atasi setelah kami sama2 saling koreksi sifat2 kami. Dan dasar pernikahan kami adalah untuk memenuhi sunah Rasululah SAW, sehingga jika ada masalah kami tidak akan melibatkan pihak ketiga, termasuk orang tua kami juga tidak mengetahuinya. Hanya pada Tuhanlah saya mengadu semua masalah saya. Syukur pada Allah SWT atas segala petunjuk dan bimbingannya.
Apakah ini bisa dibilang bahwa kami berjodoh Om? Karena saya meyakini bahwa saya mencintai dia karena Allah SWT. Itulah cinta saya yang sesungguhnya.....mungkin agak aneh kedengarannya... Mohon penjelasan dan pendapat Om Tris mengenai hal ini. Salahkah saya bila memiliki pemikiran seperti itu?