Partner | KAENDRA Tour & MICE

Kamis, 07 April 2011

JANGAN MENANAM dan MENEBAR CINTA KASIH

Siapa yang menebar angin, dia yang akan menuai badai. Dan siapa yang menanam, atau menebar cinta kasih pada lawan jenis, maka dia akan menuai badai kasih. Bahkan bisa pula akan mendapat kesulitan menemukan cinta kasihnya. Sengaja ini saya tuliskan pada generasi muda, agar hati-2 didalam menebar jaring-jaring kasihnya. Sebab, kasih bukan untuk ditanam atau disebar. Cinta yang benar-benar merupakan kasih, tidak harus ditanam, atau disebar. Dia akan tertanam atau tersebar dengan sendirinya. Pada masing-masing orang, laki-laki maupun perempuan, pasti sudah diberikan jodohnya oleh Tuhan. Cepat maupun lambat akan ketemu dengan  jodohnya, sepanjang jodoh itu tidak dicari diluar tubuhhya. Tetapi, karena takut tidak menemukan jodohnya, sehingga masing-masing berlomba untuk merebut hati lawan jenisnya. Bagi perempuan, karena takut kedahuluan rekan sejenisnya, akhirnya senantiasa tebar pesona, kesana kemari, untuk mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya. Tidak perduli apakah itu akan membuat dirinya jatuh cinta atau tidak, yang penting sudah berusaha untuk menarik simpati. Sedang bagi pemudanya, adalah merupakan kesempatan emas untuk memilih siapa diantara mereka yang bisa didekati, sehingga akan pula menebarkan cintanya. Dan mereka sama-sama tidak perduli lagi, apakah cintanya bersambut apa tidak. Serta tidak memikirkan lagi tentang jodoh sejatinya yang disediakan Tuhan.

Bila akhirnya plus dan minus bertemu, tentu akan menimbulkan getaran. Yang dalam bahasa jawa dikatakan “ Witing tresna jalaran saka kulina” ( Pohon cinta itu dikarenakan kebiasaan). Apalagi dengan adanya disparitas jumlah laki-laki dan perempuan, yang makin lama makin banyak perempuan. Akhirnya, sebegitu menikah, semuanya sama-sama menyesali. Yang wataknya tidak seperti dahulu lagi. Yang sudah tidak perhatian, dan macam-macam alasan yang dijadikan rujukan. Bagi suami, akan mengatakan, istriku sekarang sudah tidak lembut lagi, begitu pula sebaliknya, si istri akan mengatakan, suamiku sudah tidak sayang lagi padaku. Tidak seperti dahulu disaat pertama kali bertemu, selalu care dan selalu mengalah. Sekarang watak itu sudah tidak ada lagi, dan sudah tidak romantis.Dan sebagainya.  Padahal, sebenarnya mereka itu bukanlah jodohnya. Tetapi memaksakan diri untuk berjodoh. Dan apa yang dialami pada mereka, bukanlah merupakan pasangan yang ideal, dan bukanlah merupakan cinta kasih  Kalau berjodoh, tidak ada yang namanya pertengkaran, tidak ada yang namanya tidak cocok. Bahkan, baik laki maupun perempuan itu, masing-masing disediakan 2 jodoh, yang satu merupakan cadangan atau bayangan. Yang satu bersifat positif (Yang), yang satunya lagi bersifat Negatif( Yin). Jadi bila yang satu sudah meninggal, atau menikah dulu, bisa diketemukan yang satunya lagi. Bahkan bisa pula, kendati tidak bisa menikah bagi perempuan, dia sudah cukup bahagia didalam bathinnya, setiap melihat pasangannya itu bahagia. Itu khusus perempuan, namun bagi laki-laki, bisa saja keduanya terjadi pernikahan. Kenapa demikian? Karena sesuai dengan habitatnya  perempuan lebih irrasional, dan laki-laki cenderung rasional seperti yang saya tulis diatas. Dan itulah yang nantinya muncul polygamy. Bandingkan dengan jaman nenek dan kakek kita dahulu. Mereka tidak pernah kenal, tetapi saat dipersandingkan dipelaminan, kenapa hidupnya tentram-tentram saja, serta penuh kebahagiaan? Hal itu dikarenakan, yang mereka dapatkan adalah benar-benar cinta kasih. Orang tua yang mau menjodohkan anak-anaknya benar-benar melihat terhadap “bibit, bobot dan bebet”( ini dari bahasa jawa). Yang kalau saya terjemahkan dengan bahasa Indonesia adalah dilihat dari keturunannya, sifat-sifatnya, serta factor kebiasaan/habitatnya. Mereka sering salah tafsir. Jaman sekarang, yang semuanya sudah seraba modern, sudah tidak lagi keaslian watak tadi. Semuanya serba pulasan, serba pakai topeng, baik laki-laki maupun perempuannya. Sehingga tidak mengherankan bila sudah ada didalam perkawinan selalu ada masalah. Lantas bagaimana akan bisa dibina kedalam rumah tangga yang baik, bila kesemuanya sama-sama memakai topeng? Sebegitu menikah, lantas topengnya dibuka, dan watak aslinya muncul, lantas siapa yang akan disalahkan. Sama halnya seekor harimau memakai topeng Kambing, apa bisa dia harus berubah menjadi kambing? Cinta kasih yang diharap, malah cinta asmara yang muncul. Hal itu dikarenakan jodoh yang dari Tuhan tidak diketemukan. Baru setelah beberapa tahun menikah, muncul jodoh dari Tuhan, sementara cinta kasihnya sudah terkontaminasi oleh cinta asmara. Sehingga, maju kena, mundur kena. Yang menurut peribahasa Jawa diibaratkan “Nyang swarga ora nemu dalan, menyang Neraka ora nemu lawang“ ( ke sorga tidak menemukan jalan, ke nerakapun tidak menemukan pintu).
 Jadi, walaupun secara sepintas antara “ cinta asmara” dan  “cinta kasih” memang hampir sama, namun sesungguhnya amat berbeda sekali, dan perbandingannya amat jauh sekali. Kalau “cinta asmara”, memang harus ditanamkan untuk bisanya tumbuh subur, serta harus pula dipelihara, sesuai dengan kehendaknya. Berarti disini, harus ada penyesuaian antara apa yang ditanam, tempat untuk menanam, seberapa banyak yang akan ditanam, bagaimana cara pemiliharannya, serta hasil akhirnya seperti apa yang dikehendaki. Singkatnya, membutuhkan keaktifan, dan kreatifitas bagi si penanam. Ini terjadi, dikarenakan ; cinta asmara, bukanlah merupakan bibit asli dari diri kita. melainkan merupakan hasil pengejawentahan antara panca indra, akal dan pikiran, serta “Benak” (hepar, liver), dan bukan dari Jantung ( Heart). Namun karena salah kaprah, sehingga didalam pengistilahan jadi kelirumologi sampai sekarang. Dimana yang mestinya “Hepar atau benak” dikatakan “hati”. Padahal yang dikatakan hati itu yah jantung itu sendiri, yang jumlah memang 1. Sedang hati /Hepar ada 2 buah. yakni yang sebelah kiri kecil, dan sebelah kanan agak besar. Sedangkan yang dimaksud Hati didalam Al Qur’an adalah jantung. Makanya lambang cinta kasih adalah jantung. Sedangkan hati/ hepar, masak bentuknya seperti itu?  Dan jantung bagi laki-laki bersifat sejati, sehingga kenapa para lelaki lebih dominan otak kirinya(rasional), sementara jantung perempuan lebih bersifat “jantung bayangan”, yang menyebabkan otak kanan perempuan lebih dominan(irrasional). Sehingga jantung bayangan inilah yang dikatakan Hati(tetapi bukan benak/hepar), makanya disaat ketemu dengan jodohnya dikatakan “sijantung hati”, atau jantung hatiku, dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, akan saya tulis tersendiri didalam “Peta perjalanan Tuhan”(God’s Road map).
Kalau seseorang sudah bertemu dengan jodohnya, dengan cinta kasihnya, walaupun dihalangi oleh seribu gunung, pasti akan bertemu dan bersatu, kendatipun tidak ditanam, ataupun ditebar. Bahkan, kalau hati (benak) kita bening, seringkali calon jodohnya itu muncul didalam mimpi. Khususnya bagi perempuan, selalu ada perlambang-perlambang, seperti mimpi digigit ular, ditunggui harimau, dsb. Dsb. Lha kalau belum ketemu, lantas cintanya ditanam, atau ditebar duluan, untuk mengetahui mana diantara mereka yang akan menjadi jodohnya, adalah merupakan kesalahan besar. Bisa saja terlanjur menikah bukan dengan jodohnya. Atau sama-sama sudah tidak perawan, sudah tidak perjaka lagi. Atau bahkan, nilai cinta kasih yang ada pada diri mereka sudah berkurang. Bisa pula, cinta kasih itu sudah habis duluan sebelum bertemu jodohnya. Apalagi bagi seorang perempuan, Hati (Jantungnya) sudah tidak bisa peka lagi, karena sebelumnya, sudah terkontaminasi oleh getaran-getaran lain yang datang. Sehingga sudah tidak bisa lagi membedakan, mana yang cinta kasih, dan mana-mana yang cinta asmara. Dan inilah yang akan membuat mereka kebingungan. Ujung-ujungnya bagi mereka yang imannya kuat, malah memilih tidak menikah. Habis terlalu banyak getaran yang masuk. Masak akan dinikahi semua?
Jadi, cara yang terbaik adalah mencari jodohnya didalam diri kita, yang sudah ditentukan oleh Tuhan itu. Bukan kita yang memilih, lantas minta direstui Tuhan. Biarlah Jantung kita sendiri yang akan menuntun, kearah mana jodoh kita, dan kapan kita akan bertemu, serta kapan kita akan menikah. Nanti jantung yang koordinasi dengan “Benak”. Makanya dikatakan orang yang mengenal jadi dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Lha Tuhan saja bisa dikenal, apalagi jodohnya. Kalau kita tebar cinta, tanpa mengetahui itu jodohnya apa bukan, apalagi bila tidak menimbulkan getaran, alamat kita akan hancur dengan sendirinya. Oleh karena, itu jangan bermain api agar tidak terbakar dengan sendirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar