Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 14 September 2020

ANTARA ORANG GILA, ORANG WARAS DAN ORANG BERAGAMA


Ketika orang berbicara masalah orang gila, tentu akan bicara bahwa apa yang diperbuat tidak dapat dipertanggung jawabkan secara hukum karena akalnya lagi macet tidak dapat dipakai oleh jiwa untuk mengendalikan pikirannya. Itu terjadi karena jiwanya lagi sakit sehingga akal tidak dapat terkendali ketika memancarkan energi nafsunya ke otak kirinya. Dan Jika kita menemui orang gila maka yang harus dijadikan rujukan adalah orang tua atau orang jadi pengampu nya.


Orang yang waras, berarti jiwanya tidak dalam keadaan sakit untuk mengendalikan akal dan mengendalikan nafsunya yang dibutuhkan oleh pikirannya. Akan tetapi masih belum bisa mengatur seberapa besar catu daya nafsu yang dibutuhkan untuk otak kiri didalam memikirkan masalah yang dihadapi. Jika kekurangan catu daya nafsu akan menimbulkan susah. Jika kelebihan catu daya bisa menimbulkan kesenangan dan keserakahan yang tiada batas. Dimana kekurangan ataupun kelebihan catu daya nafsu akan menimbulkan kegilaan yang tiada disadari.


Orang yang beragama, adalah orang yang bisa mengatur dan mengendalikan catu daya nafsunya didalam mengimplementasikan apa yang jadi masalah yang dihadapi. Serta akan dapat memilah-milah mana masalah yang dihadapi oleh otak kiri untuk dipikirkan, dan mana masalah yang harus diserahkan pada otak kanan untuk dirasakan kemudian dinikmati. 


Sehingga dengan demikian orang-orang yang beragama itu sejatinya adalah untuk menumbuhkan #kesadaran_diri didalam menjalankan kendaraan nafsunya baik yang untuk dipikirkan maupun yang dirasakannya. Dan dengan kesadaran diri itu akan membuat jiwa akan semakin besar memancarkan cahaya yang melingkupi diri manusia lahir dan batinnya. Dengan begitu orang yang memeluk agama akan senantiasa terhindarkan dari Mala petaka untuk berbuat #kejahatan akibat kekurangan atau kelebihan catu daya nafsunya yang mengisi otak kirinya. Melainkan akan senantiasa berbuat #kebajikan didalam sepanjang hidupnya. 


Dan sebagai perbandingan bahwa orang gila itu sebenarnya tiada berbeda dengan anak-anak, yang sama-sama terbebaskan dari tanggung jawab hukum. Adapun perbedaannya ; jika anak-anak, akal dan pikirannya masih belum sempurna pengisian pengetahuan yang dialami. Kalau orang gila, syaraf yang menghubungkan antara jiwa dan akal pikirannya tidak berfungsi baik sebagian maupun sepenuhnya.


Namun yang menjadi masalah adalah orang-orang yang pura-pura gila, karena sesungguhnya dia dalam keadaan waras, tapi jiwanya yang penuh kedengkian yang lambat laun akan menjadi gila beneran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar