Partner | KAENDRA Tour & MICE

Minggu, 27 Maret 2011

KEBENARAN BUKANLAH ILMU, MELAINKAN SIFAT, DAN DZAT TUHAN

Lanjutan: Jatiswara.

 Pada sesi terdahulu, saya sampaikan tentang cinta dan kebahagiaan dengan emplementasinya. Kali ini, tentang apakah sesungguhnya kebenaran itu, bila ditinjau dari sudut metafisika dan filsafat. Searah, dan setujuan, dengan yang pernah diulas oleh Adimas Kombes. Pol Suyono, tentang kisah seorang Plato, filosof Yunani. Walaupun diakhir hayatnya dia terpaksa dihukum mati, karena dianggap kontroversial. Baru ratusan tahun setelah kematiannya, diketemukan bahwa apa yang diucapkan mengandung kebenaran. Hal itu terjadi, dikarenakan  Plato ingin menyampaikan kebenaran yang didapatnya sendiri, tentang keberadaan Bumi yang menurutnya bulat. Sementara masyarakat umum telah meyakini, kalau bumi hanyalah merupakan dataran, dan hamparan yang luas. Tidak hanya Plato saja yang tewas, telah banyak korban-korban yang mati mengenaskan. Bahkan, banyak diantara para nabi yang juga mati terbunuh, hanya lantaran ingin menyampaikan kebenaran.


 Sebenarnya, kebenaran tidak perlu untuk disampaikan. Biarkan kebenaran itu tetap menggantung. Sampai masyarakat luas akan memahami sedikit demi sedikit, seperti halnya pohon. Yang semula, hanyalah berbentuk biji-bijian yang ditanam. Lantas tumbuh menjadi tunas, makin hari makin membesar, sehingga akhirnya menjulang kelangit, melebihi tingginya orang yang menanam. Adakah orang memperdebatkannya? Adakah orang yang mengklaim, bahwa pohon itu tidak tahu diri, dan tidak tahu terima kasih. Koq bisa-bisanya tubuh pohon itu melebihi dengan orang yang menanamnya? Kalau mau berpikir jernih, dari paparan ini mestinya akan tahu, dan dapat diambil hikmah bagi para penyampai kebenaran. Khususnya lagi, setelah penyampai asli kebenaran itu, telah lama meninggal dunia, selain hanya kitab-kitab, dan sifatnyalah yang bisa menjadikan suri tauladan didalam kehidupan kita sehari-harinya. Dan kita semua tahu, bahwa sesungguhnya kebenaran yang hakiki adalah dari Tuhan, yang Al wujud dan Al bathin. Segala sesuatu yang ada didalam alam semesta, adalah merupakan perwujudan dari eksistensi Tuhan yang Maha Benar. Bagaikan pertautan antara api dan cahaya yang Maha Sempurna.Kemudian menghasilkan segala corak kehidupan, dan telah terpatri kedalam segala sifat Tuhan itu sendiri.
Jadi, sesungguhnya segala apa yang menjadikan perbuatan seseorang, yang menurut penilaian mereka adalah perbuatan baik dan buruk; semata-mata, adalah merupakan wujud dari pelaksanaan sifat-sifat Tuhan itu sendiri. Dan, tidak ada segala sesuatu perbuatan dimuka bumi ini yang menyimpang dari sifat-sifat, dan Dzat Tuhan. Mulai dari flora, fauna, makhluk-2 melata, berkaki empat,didarat, dilaut, diudara, tersembunyi maupun tidak. Andaipun ada diantara kita yang menilai; bahwa perbuatan buruk yang dilakukan orang lain, dianggap telah menuruti ajakan syaetan, adalah kurang tepat. Kalau kita mau sedikit berpikir, dan mau tahu, serta menyadari, bahwa sifat Tuhan itu tidak terbilang banyaknya.Kemudian, diantara kita memilih serta melaksanakan, sifat Tuhan manakah yang dikehendaki. Jadi, inilah sesungguhnya yang menjadikan perbedaan itu sendiri. Satu sama lain akan menyatakan, bahwa pilihannya yang benar, yang lain salah. Padahal kita tahu, bahwa segala kebenaran itu adalah milik Tuhan semata. Begitu pula segala apa yang berada disekelilingnya, Maha benar adanya. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali mengatakan, bahwa perbuatan orang lain itu salah. Sebab dengan demikian itu sama halnya dengan mencela salah satu sifat Tuhan. Tetapi bila benar-benar yakin bila perbuatan yang dilihat itu salah, maka kesalahan itu hanyalah untuk diri sendiri, agar untuk tidak melaksanakan ataupun mengerjakan sebagaimana yang dilihat. Namun, masih banyak diantara kita yang telah mengetahui tentang kesalahan orang lain yang pernah dicelanya, kemudian malahan kita sendiri yang melanggarnya. Lantas, masih pantaskah kita termasuk golongan orang-orang yang beriman?
Juga, kita telah sama-sama mengetahui, bahwa masing-masing orang telah terisi dengan Ruh Tuhan, dan telah ditiupkanNya pula segala sifat Tuhan. Yang hal ini juga akan mempengaruhi, terhadap adanya suatu keadaan yang berbeda pada masing-masing orang, dan golongan, sesuai dengan kodratnya, sehingga  akan berbeda pulalah sifat Tuhan yang dianutnya. Dan sesungguhnya, sifat Tuhan itulah yang mengisi segala corak kehidupan kita dimuka bumi ini. Sesuai dengan makna yang terkandung didalam sifat Tuhan, yakni mempunyai Cahaya yang berbeda-beda. Dari Cahaya inilah yang mengadakan Warna. Dan dari warna, akan mengarahkan pada kehidupan. Selanjutnya, dari masing cahaya, menyinarkan pula bermacam-macam warna dasar, serta masing-masing warna, mempunyai sifat yang berbeda-beda pula. Justru, adanya sifat dari “Warna” inilah, yang seringkali menjadikan kekeliruan didalam menafsirkan Tuhan. Sebab, bagi mereka yang enggan untuk berpikir, tentu akan menyangka bahwa sifat dari warna adalah sifat Tuhan. Padahal segala corak warna yang dapat ditangkap, lantaran karena nafsu. Maka, sebenarnya nafsu itu sendirilah yang selama ini dijadikan Tuhan. Sebab didalam nafsu, ada pula unsur Tuhan, tetapi bukan sebenarnya Tuhan, dan bukan pula Tuhan yang sesungguhnya. Sebab, nafsu dapat terjadi karena adanya kehidupan yang melingkupi sekeliling kita sebagai anak manusia.
Untuk itu, agar diantara kita tidak keliru didalam mencari keberadaan Tuhan yang sesungguhnya, perlu pula diketahui, wahai orang-orang yang berpikir; Bahwa sesungguhnya didalam tubuh manusia mempunyai 3(tiga)  perwujudan Aku sebagai Tuhan. Adapun wujud yang pertama, adalah yang berada didalam nafsu, yang menimbulkan warna kehidupanmu.sedangkan yang kedua, adalah Aku yang berada didalam Cahaya. Padahal, cahaya itu berbeda-beda. Maka mungkinkah bahwa Aku yang sesungguhnya akan berada didalamnya? Sedangkan Aku adalah tunggal, dan Aku adalah melingkupi segala alam seisinya. Sedangkan Aku didalam cahaya, hanyalah merupakan pancaran daripada apiKu. Tetapi bukan api yang berada didalam cahaya. Namun, ApiKu adalah Api yang memancarkan api, dan sama sekali bukan memancarkan cahaya.( sebutan Aku adalah Allah ada di surat QS.Taha ayat 14; Al Anbiyah ayat 24-25); Oleh karena itu, apabila suatu waktu  melihat ada Api yang memancarkan api, tanpa adanya  cahaya yang melingkupi, itulah Aku Tuhan yang sebenarnya. Namun, mampukah melihat  Api yang memancarkan api, sedang keberadaan kita saja, lantaran terloncatnya dua buah cahaya yang menyatu, kemudian hidup didalam rahim ibu selama sembilan bulan sepuluh hari lamanya. Hanya bagi mereka-mereka yang  telah menghilangkan cahaya, serta yang hanya, menjalani segala sifat-sifat Tuhan dengan penuh kesadaran, maka sesungguhnya mereka akan dapat merasakan keberadaan Tuhan didadalam sanubarinya.
Selanjutnya, apa pula yang akan kita katakan, bila sesungguhnya Syaetan itu adalah roh Tuhan, dan para Malaikat adalah Tubuh Tuhan, sedangkan alam seisinya ini, adalah Perwujudan dari Tuhan itu sendiri. Adapun segala sifat yang kita lakukan, sesungguhnya pula adalah perjalanan kehidupanNya. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali mencela, segala apa yang berada disekeliling kita. Karena dengan demikian, sama halnya dengan tidak mengakui tentang keberadaan Tuhan. Padahal, kita sendiri adalah merupakan sebagian kecil dari sifat-sifat Tuhan itu sendiri. Dan, apabila telah benar-benar tulus ikhlas ingin mengenal Tuhan, maka janganlah sekali-kali mencari Tuhan dengan ilmu, atau untuk mencari  ilmu agar bisa bertemu dengan Tuhan. Sebab, segala ilmu itu asalnya dari Tuhan. Dan segala ilmu Tuhan, tak akan pernah mengenal batas. Mungkinkah akan dapat mengenal Tuhan dengan suatu ilmu? Sedangkan sebegitu ilmu Tuhan telah termiliki, maka akan muncul pula ilmu Tuhan yang lain. Sehingga, tak akan sempat merenungi ilmu yang telah teresapi itu. Dan bagi Tuhan, cukup dengan keikhlasan saja. Sebab, dengan keikhlasan itu, akan mengantar diri kita pada Tuhan yang sesungguhnya.
Disamping itu, berbicara tentang kematian, Janganlah sekali-kali menyangka bahwa kematian adalah batas akhir dari kehidupan. Sehingga, akan melupakan apa yang akan terjadi dibalik kematian itu sendiri. Dan hanya mengumpulkan kekayaan duniawi sebanyak-banyaknya. Serta, menyangka bahwa dengan duniawi, akan mendapatkan kebahagiaan selama-lamanya. Tahukah, bahwa segala kekayaan yang dikumpulkan itu, hanyalah merupakan makanan bagi nafsu. Dan bukan bagi tubuh kita. Oleh karena itu, sebagaimana sifat makanan yang masuk kedalam tubuh, maka janganlah sekali-kali memberikan makanan kepada nafsu dengan melampaui batas kekuatan, dari nafsu itu sendiri. Sebab, apabila batas kekuatan itu telah terlampaui, sama halnya telah menaruh penyakit pada nafsu. Dan, apabila penyakit itu telah merasuk kedalam jiwa, maka celakalah yang akan ditemui. Sebab penyakit yang didatangkan, dan diakibatkan oleh nafsu, amatlah sulit sekali untuk disembuhkan. Padahal, jiwa, adalah satu-satunya penuntun  untuk mengantarkan diri kita, kembali pada asalnya. Sebagaimana asalnya sebelum terlahir kemuka bumi ini, untuk yang pertama kali. Untuk itu, agar tidak salah menafsirkan segala ayat-ayat yang pernah diturunkan Tuhan, yang dilewatkan pada nabi dan rasul, dan agar kita mendapatkan sedikit pengetahuan, maka ketahuilah; bahwa sesungguhnya  nafsu itu adalah merupakan perut dari manusia bathin. Bagaikan perut manusia lahir,yang setiap saat selalu menampung semua makanan yang masuk. Bahkan, segala bagian tubuh yang ada didalam manusia lahir, juga ada pula didalam bathin. Oleh karena nafsu merupakan bathin, maka dia amatlah sulit untuk diketahui. Selain, bagi mereka yang telah mengetahui manusia bathinnya. Sebab, segala yang bathin, hanya mampu dilihat secara bathin. Dari sinilah yang akhirnya mulai terjadi persilangan pendapat. Yakni, apabila ada seseorang yang menyatakan, segala hal tentang manusia bathin, dikatakan tidak masuk diakal. Padahal, akal itu memang diciptakan hanyalah untuk dipergunakan terhadap segala hal yang lahir. Dan dengan akal saja, sama sekali tidak bisa menjangkau segala hal yang bathin. Andaipun ada seseorang yang dapat menjangkaunya, maka sesungguhnya akal bathinnyalah yang menangkapnya, sedang dia tidak menyadarinya. Hal itu dikarenakan, seseorang itu seringkali memikirkan yang bathin, sehingga akal bathinnya muncul setiap dibutuhkan.
Dan, tahukah apakah makanan nafsu itu? Ialah segala macam makanan yang mengandung unsur, sebagaimana watak nafsu itu sendiri. Yang terdiri dari unsure Air, Api, Angin, dan Tanah. Dan dia tidak pernah menolak segala makanan yang masuk. Adapun yang memasukkan adalah unsur Aku, atau Engkau yang berada didalam nafsu itu sendiri. Dan, Aku yang berada didalam nafsu itulah, seharusnya yang bertanggung jawab, dan mengendalikan sedikit banyaknya makanan yang merasuki kedalam tubuh nafsu. Siapakah sesungguhnya Aku yang berada didalam nafsu? Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Aku yang berada didalam nafsu itulah yang diperintahkan oleh Tuhan kemuka bumi ini. Untuk menjadi pemimpin, dan dia harus selalu mengikuti petunjuk terhadap Aku yang ada didalam hati. Karena, Aku yang berada didalam hati selalu benar, dan selalu patuh terhadap Aku yang sesungguhnya. Dan dia selalu berada didalam cahaya yang terang gemilang, serta selalu menimbulkan api hidup. Dan bukan kehidupan, berupa api yang menyinarkan api , dan bukan menyinarkan cahaya. Namun, seringkali Aku didalam nafsu, tidak menuruti petunjuk Aku didalam hati. Padahal, Aku didalam nafsu, sama sekali tiak mengetahui, apakah makanan yang dimasukkan kedalam nafsu itu telah cukup, ataukah kurang. Bahkan, seringkali justru melampaui batas penampungannya. Sehingga dengan demikian, apabila makanan itu tiddak tertampung, akhirnya meluap, dan bercampur aduk dengan nafsu-nafsu empat lainnya. Yang akhirnya, masing-masing perut bathin, atau nafsu itu telah hilang sifat kemurniannya.Jadi sesungguhnya, sebab-sebab itulah yang membuat orang menjadi susah, dan senang.Sehingga pula, sifat yang tidak murni tadi, akan mempengaruhi jiwa kepemimpinan terhadap Aku yang berada didalam nafsu. Dengan demikian, bagaimana mungkin akan dapat mengarungi kehidupan ini, sebagaiamana yang dikodratkan Tuhan? Padahal, seluruh tubuh bathin telah terselimuti oleh api yang telah tidak murni lagi.
Tahu pulakah, darimanakah api yang menyelimuti itu? Ketahuilah, bahwa masing-masing nafsu itu, sesungguhnya adalah berasal dari unsur api. Hanya kadarnyalah yang berbeda, sehingga sifatnyapun juga berbeda. Yang kemudian dinamakan air, angin, dan tanah. Dan, hanya sedikit dari unsur api sesungguhnya. Dan, semua itu telah diatur oleh Tuhan, namun telah kita porak porandakan sendiri. Dan sudah tidak lagi sesuai dengan kodrat awal, sebagaimana kita diciptakan. Yang air, diisi angin, yang angin diisi tanah. Begitu pula seterusnya.  Itupun karena memang kita tidak mengerti, dan mengetahui, terhadap masing-masing nafsu, selain hanya secara tekstual belaka. Sedangkan Aku yang berada didalam hati, sudah tidak bisa lagi mengenali. Mana yang semula harus diisi air, dan mana pula yang harus diisi angin. Sebab, Aku dalam hati hanya dapat mengetahui ketika tubuh nafsu itu masih murni, dan belum hilang dari watak aslinya. Bila sudah terjadi demikian, sungguh amat celakalah bagi mereka-mereka. Sebab, ada petunjuk maupun tidak, sudah tidak berarti lagi. Dan, mereka akan selalu berada didalam kegelapan yang nyata. Bagaikan orang buta, kendatipun dibawakan pelita, mereka tidak akan bisa melihat terang. Dan kendatipun pula petunjuk diberikan, maka petunjuknya, tidak akan bisa mendapatkan kebenaran. Hal itu pula sebabnya, bagi mereka yang berdoa kepada Tuhan, agar diberikan jalan yang terang, namun, selalu kegelapan yang ditemui.  Padahal, sesungguhnya diajarkan doa oleh Tuhan, bukanlah semata-mata diperuntukkan kepada Tuhan semesta alam, namun sesungguhnya diperuntukkan Aku yang berada didalam hati, agar engkau mengenal Dia.Sebab, dia yang ada didalam hati itu, yang diperintahkan Tuhan untuk memberikan petunjuk kepada Aku yang ada didalam nafsumu. Tetapi bagaimana mungkin dia akan bisa memberikan petunjuk, sedang ilmu, dan pengetahuannya terbatas. Dimana dia akan bisa memberi petunjuk,  disaat sifat nafsu masih awal.
Oleh karena itu, marilah kita sama-sama sadar sebagai orang yang beriman. Khususnya yang mengaku telah beriman kepada Tuhan. Apabila kita sedang mengalami keadaan seperti itu, segeralah kosongkan diri. Dan, janganlah memberikan makanan kepada nafsu. Agar lama-kelamaan, masing-masing nafsu, akan kembali pada sifat asalnya. Sehingga akan kembali pula sifat Aku yang berada didalam hati, dan bisa memberikan petunjuk padamu. Sebab, hanya itulah satu-satunya jalan. Bila tidak, maka Aku yang berada didalam nafsu, akan merubah pula sifat Aku didalam hati. Yang akhirnya akan membakar pula seluruh tubuh bathin sampai kematian menjelang.
Untuk itu, selagi kita masih belum berada didalam kesesatan yang nyata, serta tidak akan terombang-ambing akan akidah kesesatan, dan kebenaran, sebagaimana yang telah dikodratkan Tuhan, renungilah segala ayat-ayat  Firman. Yang telah disampaikan kepada para nabi dan rasulnya masing-masing, dengan secara tersirat, bukan secara tersurat. Sedangkan apa yang saya tuliskan ini, hanyalah merupakan pelengkap, dan penjabaran belaka. Dan supaya mau berpikir, guna memudahkan jangkauan pengkajian terhadap segala ketentuan Tuhan. Lantaran akal dan hati kita saat ini, sudah tidak lagi setajam alat pencukur, sebagaimana asalnya. Hal itu karena makanan yang tertampung didalam nafsu, telah pula meluap kedalam akal, tanpa dapat dikendalikan lagi oleh kita. Sehingga akhirnya, telah pula meracuni segala kerja dari akal pikiran kita, yang hanya diisi materi, serta energi hanya untuk kepentingan duniawi belaka……….

Bersambung…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar