Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 28 Maret 2011

MENGINSTAL MANUSIA BATHIN dan INKARNASI

Lanjutan…..



 Dalam merenungi tulisan ini, haruslah benar-benar menggunakan hati, dan akal sehat. Sehingga didalam berpikir, tidak selalu terstigma, oleh kisah-kisah yang pernah kita dapatkan sebelumnya. Khususnya, bila mengulas, dan berdiskusi tentang setan, iblis, malaikat, serta sifat-sifat yang terkandung didalamnya. Untuk itu, agar memudahkan didalam pemikirannya, saran saya, pemikiran baik dan buruk, hendaknya diarahkan menuju pada pemikiran antara yang benar dan salah. Dan bukan pula kebenaran menurut orang lain, tetapi  kebenaran dari hasil pemikiran, dan perenungannya sendiri. Apapun hasilnya, itulah yang benar. Juga, jangan merasa takut untuk berpikir, jangan takut apabila nanti akan ada kesalahan. Sepanjang niat kita, adalah semata-mata, untuk mencari kebenaran hakiki. Serta, hasil pemikiran itu, untuk menambah wawasan, dan khasanah keilmuan, khususnya didalam memahami ajaran-ajaran yang telah ada. Dan, tulisan ini hanyalah sekedar pemahaman yang saya dapatkan dari renungan sendiri, bukan suatu ajaran. Sehingga, kita akan semakin mengerti, makna hakiki dalam beragama itu, sesungguhnya seperti apa, dan harus bagaimana. Tanpa harus merobah akidah yang ada.



 Seseorang, yang sudah pandai, berpendidikan tinggi, otaknya brilliant, dan santun, sering kali kurang merasa yakin, bahwa apa yang dicita-citakan bisa tercapai. Karena, mereka takut untuk melangkah, jangan-jangan nanti salah. Baik itu menyangkut urusan duniawi, maupun bathini. Sehingga, diantara kita terus berpikir, dan berpikir, tidak mau melangkah. Dengan begitu amat sedikit sekali yang didapatkan, serta akan selalu menimbulkan keraguan. Mestinya, kita harus ingat, bahwa akal manusia amatlah terbatas. Lupa, bila otak kiri dipergunakan terus menerus, lambat laun akan mengalami kebuntuan. Khususnya, bila suatu ketika ditimpa mala petaka atau musibah, sering kali akalnya sudah tidak bisa lagi dipergunakan. Seperti halnya, disaat kena gempa, sakit parah, kena tsunami, atau hal-hal lain yang menyangkut keluarganya. Dimana uang sudah tidak ada artinya lagi. Apalagi disaat muda, kita berlomba terus menerus mencari kekayaan tidak pernah berhenti, sehingga melupakan kesehatan. Namun ketika telah tua, sering sakit-sakitan, Kekayaan yang pernah didapatnya pada masa muda, kembali dibuang untuk mengejar kesehatan.  Atau, agar nyawanya masih bisa diselamatkan disaat sakit.Dengan begitu, barulah menyadari bahwa akal saja ternyata tidak bisa menyelesaikan segalanya.  Memang  ironis sekali. Agar tidak terjadi penyesalan dikelak kemudian hari, serta menghindari tersumbatnya batang otak disaat telah tua, lantaran akal telah tumpul, haruslah mengadakan pembelajaran dan latihan-latihan. Yakni, dengan menyamakan kehendak, antara akal, hati, serta nafsu. Untuk bisanya sejalan, dan seimbang antara satu dengan lainnya. Sehingga, suatu saat disaat akal tumpul, dan tidak  bisa menyelesaikan masalah yang pelik, maka hati akan bisa membantu. Serta, tidak lagi sering mengatakan, bahwa segala sesuatu yang tidak bisa diatasi, tidaklah masuk akal. Padahal sebenarnya akalnyalah yang tumpul, dan tidak mau menggunakan sinarnya hati. Dan, orang-orang semacam inilah, yang termasuk golongan orang-orang yang telah keracunan, atau terkontaminasi  dari makanan  nafsu. Kenapa bila keracunan makanan nafsu, bisa membuat akal jadi tumpul?

Perlu diketahui, bahwa sesungguhnya keberadaan “Aku” yang bersemayam didalam nafsu, kedudukan dan derajatnya lebih tinggi dengan “Aku” yang berada didalam hati. Karena, “Aku” dalam nafsu inilah yang dikatakan sebagai pemimpin, yang mempunyai kewenangan untuk menerima, ataupun menolak, terhadap segala hal yang masuk kedalam manusia bathinnya. Dan, “Aku” inilah yang sering dikatakan sebagai “JIWA.” Sedangkan “Aku” yang ada didalam hati,  hanyalah sebagai petunjuk bagi kita. Mana-mana yang cocok untuk diterima sebagai masukan manusia bathin, dan mana-mana yang tidak cocok untuk diterimanya. Sebagaimana sifat sebagai petunjuk, dia tidak punya wewenang untuk memutuskannya. Dan dia bersifat tunggal, sebagai penyampai petunjuk langsung dari Tuhan secara murni. Sesuai dengan kodratnya masing-masing. Dan, keberadaan “Aku” dihati,  mempunyai mata bathin, yang sering dikatakan mata hati (ainul qolby /bhs arab), hati nurani bhs jawa). Adapun petunjuk-petunjuk yang diberikan itu, selalu benar bagi kebutuhan manusia. Selagi nafsu masih murni, dan belum terkotori oleh makanan dari dunia lahir. Dan dialah, yang sering dikatakan sebagai penyampai kebenaran, atau diistilahkan sebagai “malaikat.”(para kekuatan/energi). Sebagaimana bentuk kejadiannya dari sejumlah cahaya, dia akan selalu menerangi, dengan terang benderang. Bagaikan cahaya matahari, yang masuk kedalam air yang bening. Sehingga dasar dari air itu nampak secara jelas. Dan kita, akan dapat melihat segala hal yang berada didasarnya.

Akan tetapi, bila dasar air itu keruh, maka sinar yang masuk tak akan bisa menembusnya. Bahkan, sinar itu yang semula tidak berwarna, akan berwarna warni, sebagaimana warna dari benda yang kena sinarnya. Dengan demikian, sinar-sinar yang semula merupakan sifat, akan berubah menjadi kodrat. Yang makin lama, kodrat itupun akan semakin pula memancarkan sinar baru, yang bersifat api, dan bukan  bersifat cahaya. Ini pulalah sebenarnya yang diibaratkan Syaitan. Sebagaimana sifatnya, bahwa syaitan tercipta dari api, dia akan masuk lewat udara yang kita jadikan pernafasan. Akan selalu membakar manusia bathin. Termasuk pula diri Aku(JIWA) yang ada dalam nafsu. Sehingga lama kelamaan, unsur kodrati dari malaikat itupun, akan berubah pula menjadi api baru. Begitu pula diri kita, akan menjadi bara-bara api, yang siap membakar segala-galanya. Terkecuali bagi mereka-mereka, yang telah mengenal watak dari api itu sendiri. Jadi, apabila kita berada dalam keadaan seperti itu, lantas masihkah akan menyalahkan Tuhan? Bahkan, masih pulakah akan mengingkari? Bahwa, semua itu lantaran diri kita tergoda oleh syaitan. Padahal, sesungguhnya diri kita sendirilah, yang menciptakan syaitan-syaitan baru, dengan merobah cahaya menjadi api. Sedang, kita belum mengetahui dengan sesungguhnya watak dari api itu.

Kemudian tahu pulakah, apakah sesungguhnya peran “Aku” yang berada didalam hati itu? Dialah Api yang sesungguhnya, yang senantiasa membuat kita hidup. Dan, dari hidup ini membawa sinar, yang dibawa menyusup kedalam nafsu. Yang kemudian dikatakan kehidupan. Dan, dari kehidupan ini, terbawa keluar dari manusia bathin, menjadi sifat. Dari sifat yang satu, dengan yang lain terkumpul menjadi peradaban. Dan dari kumpulan peradaban, akan terkumpul menjadi suatu kebudayaan, yang akhirnya dikatakan suatu zaman. Serta, dari sini pulalah pangkal tolak kita, mengenal kata “syaitan, dan malaikat”. Namun seandainya kita mau berpikir, sesungguhnya kedua nama itu adalah “satu adanya”. Yakni, antara api dan cahaya. Dimana api membawa hidup, cahaya yang membawa kehidupan. Atau, “api yang membawa sifat, dan cahaya yang membawa kodrat”. Bagaikan pertautan, antara gelap dan terang itu sendiri. Oleh karena itu, apabila kematian akan menjelang, perlu pula kita ketahui, bahwa sesungguhnya kematian itu, hanyalah sebatas pada raga manusia lahir. Sedangkan, “Aku” yang berada didalam nafsu( jiwa), akan mengawali kehidupan yang sesungguhnya. Dan alam yang akan ditempati, adalah amat tergantung, dari sifat apa yang telah diberikan pada nafsu. Sesuai dengan kadar makanan yang diberikan pada nafsu itu. Jadi, apabila seluruh nafsu itu, diberikan makanan yang bersifat api, maka kedalam api itulah yang menjadi alam kembali kita.

Tahukah, makhluk apakah yang berada didalam Api itu? Dialah makhluk, yang penciptaannya juga berasal dari api. Sebagaimana penciptaan Jin; maka kita akan pula berada didalamnya. Serta, kita akan merasakan bahwa alam Jin itu merupakan surga bagi kita. Dan itu, merupakan kebesaran Tuhan, sehingga kita tidak akan merasakan bahwa alam itu, bukanlah alam yang sesungguhnya dijanjikan Tuhan. Selanjutnya bila nafsu bersifat air, maka alam kembalinya menuju kedalam air, dan kita akan menjadi makhluk dalam air. Tempat inipun, juga merupakan surga yang indah. Sedang bila nafsu bersifat angin, kita akan menjadi makhluk angkasa, seperti burung dan sebagainya. Disini, kita akan merasa bahwa langit inilah kerajaan Tuhan. Padahal segala yang ada dimuka bumi ini,  akan selalu mengalami perubahan yang tiada hentinya. Lalu, bagaimana mungkin akan bertemu dengan Tuhan, bila selalu mengikuti perubahan alam terus menerus? Padahal ketahuilah, bahwa masing-masing makhluk, tidak akan lepas dari kodratnya. Begitu pula, apabila kita menginginkann untuk kembali pada Tuhan secara sempurna.

Maka, disaat kematian akan menjelang, seluruh nafsu, hendaknya harus sesuai dengan watak asal kejadian, disaat pertama kali nafsu itu menjadikan perhiasan bagi kita, ketika terlahir. Sebab, dengan keaslian sifat nafsu, sebegitu kita telah sampai pada batas kematian raga, baik diminta maupun tidak, seluruh nafsu, akan luluh dalam “Aku atau jiwa”. Dan, dari kesatuan itu, jiwa akan berobah menjadi sifat asal. Selanjutnya, Aku atau jiwa, akan menyatu pula dengan “Aku yang berada dalam hati”(malaikat). Setelah itu, secara bersama-sama, kedua Aku tadi, berubah pula dari kodrat menjadi “sifat Aku (Tuhan)” yang sesungguhnya, namun bukan”Dzat.”Dan, apabila “sifat Aku yang  sesungguhnya(Tuhan)”, telah merasuk kedalam api, maka “Aku” yang berada dalam api, tidak akan mungkin sanggup untuk membakar. Dan bahkan, seluruh api yang menjadi penyanggga hidup jiwa, akan sirna. Dan menyusup pula kedalam sifatKu. Yang akhirnya semuanya sirna, serta akan menyusup kedalam “diriKu” yang sesungguhnya pula. Dan, Akulah Tuhan sesungguhnya yang Maha benar. Yang senantiasa hidup, tanpa kehidupan. Dan senantiasa pula mempunyai sifat, tanpa menimbulkan peradaban serta zaman. Juga,  akan selalu azali abadi, sepanjang zaman. Oleh karena itu, apabila ingin melakukan jalan menuju Tuhan, janganlah selalu ragu-ragu terhadap jalan yang kita tempuh itu.

Dan, untuk menambah pengetahuan, serta wawasan didalam menjalani laku. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya api itulah yang sesungguhnya dimaksudkan sebagai  iblis. Sebagaimana yang pernah difirmankan Tuhan, pada rasul-rasul terdahulu. Namun sayang sekali, sampai detik ini, masih banyak yang salah menafsirkan tentang iblis itu sendiri. Padahal, difirmankan kepada kita tentang keberadaan iblis. bukanlah semata-mata untuk dibenci. Akan tetapi, dengan menjauhi iblis, agar kita mau mengenal pada diri sendiri. Sebab, apabila kita dekat dengan iblis, sedang kita belum kenal dengan jati dirinya, niscaya kita akan terbakar. Dan, tahu pulakah bahwa sesungguhnya, Tuhan menciptakan iblis dari sifatNya. Sedang manusia, dijadikan dari sebagian Roh, serta kodrat Tuhan. Dan, sesungguhnya Tuhan adalah “Api yang memancarkan api”. Sehingga apabila ingin menyatu dengan Tuhan, harus pula menjadi api. Akan tetapi, jangan lupakan kodrat kita sebagai manusia. Sebab, apabila bersifat api, sementara kodratnya  juga api, maka kita tidak akan bisa sampai kepada Tuhan yang sesungguhnya, melainkan akan luluh kedalam iblis itu sendiri.

Jadi, untuk memudahkan didalam berpikir tentang keberadaan Tuhan, renungkalah akan kejadian Adam, sebelum Tuhan menurunkan kemuka bumi. Dan juga, sebelum Hawa dipisahkan dari tubuhnya Adam; bahwa dia itulah manusia yang sesungguhnya. Karena, sesungguhnya perwujudan Tuhan, adalah “api yang memancarkan dua unsur api”. Perwujudan api yang pertama, adalah berupa terang. Atau yang bersifat Isi, yakni Iblis. Sedangkan, pancaran sinar dari Iblis, adalah  cahaya yang dikatakan malaikat. Adapun manusia sendiri, merupakan Api Tuhan, yang bersifat gelap, dan kosong. Sehingga kejadiannya, diumpamakan tercipta dari tanah yang hitam. Sedangkan pancarannya adalah berupa insan, atau orang. Yang kejadiannya diumpamakan sebagai Hawa, yang tecipta dari tulang rusuk Adam. Sebegitu orang atau Hawa, terlepas dari tubuh Adam, sepatutnyalah mereka berada dimuka bumi. Sebab, sebegitu tubuh itu terbelah menjadi dua, kodrat manusia Adam yang semula kosong, telah hilang, dan berubah menjadi Isi; Sedang untuk berada disisi Tuhan, haruslah benar-benar bersifat “kosong”. Dan bukankah kita tahu, bahwa didalam kosong itu, sesungguhnya adalah Isi? Sedang “kosongnya” Adam, bukanlah merupakan kosong yang sesungguhnya. Sehingga, dia haruslah berada didunia, secara terpencar-pencar. Dan, itu pulalah kenapa harus menikah. Yang kesemuanya itu, semata-mata adalah untuk mempertautkan kembali, antara “Adam dan hawa”, yang semula memang berasal dari satu, sehingga kembali menjadi satu manusia seutuhnya.

Namun sayang sekali, hampir diantara semua orang tidak mengerti terhadap jalan itu. Bahkan disaat terjadi persetubuhan, justru malah menimbulkan keturunan. Dan, hal itupun dikarenakan disaat berkumpul dengan istrinya, nafsulah yang muncul dalam diri, dan berada didepan. Padahal nafsu itu adalah Api. Dan Api, adalah kehidupan. Sehingga, bagaimana mungkin akan bisa menjadi manusia seutuhnya, sedang jiwa telah menjadi isi yang lebih banyak, dan terpecah belah, menjadi beberapa keturunan. Padahal, sesungguhnya dengan demikian itu, akan membuat semakin kesulitan, untuk bisa kembali kosong. Terkecuali, apabila bisa menarik, ikatan ghaib yang tercetak pada keturunan kita. Padahal, sesungguhnya perkawinan, adalah merupakan jalan pintas, untuk bertemu dengan jati diri kita sebagai manusia.  Dan oleh karena itu, kenapa Tuhan memerintahkan agar kita dekat dengan malaikat. Hal itu semata-mata supaya kita akan mendapatkan sinar terang. Karena, sebelumnya kita telah berobah menjadi gelap. Dan hanya malaikat ini pulalah, yang bisa memberikan petunjuk dibumi; Namun, tidak akan bisa memberikan petunjuk tentang keberadaan Tuhan itu sendiri. Setelah mendapatkan petunjuk, bukan lantas berhenti sampai disitu saja. Sebab, apabila semakin banyak kita mendapatkan sinar, justru akan semakin menjauhkan diri dengan sifat Tuhan yang sesungguhnya. Dan sinar, akan semakin mengkokohkan diri nafsu.Apabila nafsu tersinari, maka lambat laun nafsupun akan berubah menjadi api baru. Yang kejadiannya bukan dari kemurnian Api Tuhan. Tetapi, dari sinar itu lah yang lama kelamaan terkumpul, bersama unsur yang ada dialam dunia ini, sehingga tercipta makhluk baru, yang dikatakan “syaitan dan Jin”

Lalu, masih  pantaskah kita mengatakan bahwa Tuhan yang salah, dan tidak melindungi kita dari godaan Jin dan syaitan? Padahal, mereka itu adalah makhluk-makhluk baru, hasil ciptaan kita sendiri. Justru, seharusnya kitalah yang bertanggung jawab terhadap keduanya, apabila mereka membuat kerusakan dimuka bumi ini. Dan, janganlah sekali-kali menyangka, bahwa kita bisa berada disisi Tuhan, sepanjang makhluk-makhluk itu belum dapat disirnakan. Jadi, masing-masing orang harus bertanggung jawab pada ciptaannya sendiri-sendiri. Walaupun, itu memang tidak gampang. Apalagi, bila semakin lama, keghoiban sebagai manusia, semakin hilang dari dalam raga, menjadi makhluk-makhluk ghaib yang lain. Lalu, bagaimana mungkin akan dapat menyirnakan mereka? Sedangkan tubuh bathin, telah semakin dhohir. Dan, bagaimana mungkin pula, yang dhohir bisa menyirnakan yang bathin, sedangkan yang bathin itu, adalah juga sebagian dari diri kita sendiri.

bersambung.....

2 komentar:

  1. Benang merah belum terlihat dengan jelas, tapi samar-samar sudah mulai terlihat....

    Tulisan yang bagus untuk direnungkan lebih dalam, terutama mengenai penciptaan Adam dan Hawa.

    Terima kasih.

    BalasHapus
  2. t.ksh atas komentar yang telah diberikan. Sebenarnya saya juga ingin menjawabnya, cuma akhirnya ceritanya akan tamat sebelum saya tulis. Untuk itu, kami mohon ikuti terus tulisan saya nanti kan ada sendiri jawabannya. saya tahu, bahwa penjenengan orang kebatinan, tapi yang saya hadapi adalah untuk semua orang. jadi harus saya mulai dari kulit, daging, biji dan baru secara keseluruhan/universal. Rahayu.

    BalasHapus