Sebuah renungan
Sebelum saya melanjutkan jatiswara kawedar, saya akan mencoba mengambil substansi tentang arti kebahagiaan yang tercantum didalam Jatiswara kawedar. Antara lain yang menjelaskan bahwa kebahagiaan itu tidak dapat dicapai dengan sempurna. Dan tidak ada seseorangpun yang bisa mencapai kebahagiaan, selain hanyalah mendekati saja. Khususnya, bila kebahagiaan itu dikaitkan dengan cinta kasih antara pasangan adam dan hawa.
Saya berpendapat, bahwa kisah tentang cinta kasih, akan selalu diakhiri dengan kematian yang tragis. Kenapa? Mari kita renungkan satu persatu dari kisah2 indah yang ada. Tentang rhapsody cinta, yang dialami oleh beberapa sejoli terkenal didunia. Kita memulai dari dalam negeri sendiri. Baik Yang fiksi maupun yang nyata. Kisah (Siti Nurbaya dengan Samsudin, Datuk Maringgih); (Ken Arok dengan Ken Dedes, Tunggul Ametung); dan ( Prana citra, Roro mendut, Tumenggung Wiroguna). Bahkan, kisah yang melegenda, antara (Prabu Hayam Wuruk dengan Shang Dyah Ayu Pitaloka, Maha patih Gajah mada). Di Bali : (Jaya Prana, Layon sari, Pangeran Banterang). Di China : kisah (Sam pek dan Eng Tai). Di Inggris : (Romeo and Yuliet). Bahkan masih teringat di benak kita, tentang kisah cinta antara (Putri Lady Diana, dengan Dedy al Fayet(putra raja minyak), Pangeran Charles), yang sampai detik ini kematiannya masih meninggalkan misteri. Sedang kisah fiksi lainnya adalah (Samson and Delilah), (Darna dan Nadar); (Joko Tarub dan Nawang Wulan); (Prabu Angling Darmo, Setyowati, dan Batik Madrim). Mungkin masih banyak lagi yang tidak bisa saya tuliskan disini. Namun sudah cukup untuk menjadi bahan renungan. Kenapa, dan mengapa, selalu berakhir dengan elegi yang amat tragis? Bahkan bisa berakhir dengan kematian.
“Cinta kasih”, adalah merupakan pengejawentahan dari sifat Rohman, dan Rohim dari Tuhan, agar membumi pada diri manusia. Keduanya adalah merupakan sifat dasar Tuhan, yang semula ada didalam diri Adam yang tunggal. Sebegitu Hawa terpecah dari diri Adam, maka kedua watak itu terpisah, dan terpecah menjadi 2. Yang satu pada diri Adam berupa sifat Rohman, yang satunya lagi pada diri Hawa, yang bersifat Rohim. Dan ini pulalah yang dijadikan dasar, bahwa anak dilahirkan dari rohimnya ibu, bukan dari rohmannya ibu. Didunia, kedua sifat ini tidak boleh, atau tidak bisa murni sempurna 100 persen. Sebab kedua sifat ini, merupakan dua sumber energi mutlak dari kekekalan, serta eksistensi Dzat Tuhan itu sendiri. Bila itu terjadi, maka tentu alam seisinya ini, mulai langit lapisan yang pertama, sampai yang ketujuh sekalipun, akan lenyap. Bersamaan dengan bersatunya kedua energi sempurna, yang berwujud cinta kasih antara dua sejoli, cucu Adam dan Hawa. Hal itu dikarenakan, didalam cinta kasih sempurna 100 persen, pada diri seorang laki2 dan seorang perempuan, akan menghilangkan seluruh nafsu yang ada didalam diri mereka. Dan cinta kasih tidak mengenal istilah engkau adalah milikku. Yang ada, “Aku adalah milikmu ( I’m Your’s).” Tidak ada istilah meminta, selain memberi dan memberi. Serta, akan selalu menuruti apa yang menjadi keinginan dari yang dicintai. Bila satu sama lain mengetrapkan “Aku adalah milikmu.” dan konsisten; antara ucapan, sikap, dan perilakunya, maka tubuh mereka lahir dan batinnya akan lenyap, kembali menyatu menjadi energi tunggal. Akan hilang begitu saja. dikarenakan 4 partikel nafsu, sebagai pengikat, telah hilang dalam diri mereka. Serta, kembali keasalNya. Sebagaimana sebelum alam semesta ini tercipta, lantaran terjadinya ledakan yang dikenal dengan Big Bang. Sehingga, yang semula hanyalah berwujud energi Tunggal, menjadi 4 partikel yakni ; Energi, Materi, Ruang, dan Waktu. Atau sama halnya dengan sebelum kita terlahir kedunia ini. Berasal dari tidak ada, menuju ada. Lantas, akan kembali menuju tidak ada mutlak. Ini, juga terjabarkan kedalam empat pertikel meliputi; Air, Api, Udara, dan Tanah.
Kita tahu, bahwa bila antara sifat positif, dan negatif bersatu, dan bertemu dengan (nol/hampa), akan menyebabkan adanya cahaya(energi lain). Seperti halnya lampu listrik. Kalau hal ini terjadi pada diri manusia, semuanya akan hilang. Yang gelap jadi terang, dan merasuk kedalam cahaya itu sendiri. Sebab laki2 bersifat positif, perempuan bersifat negatif.
Dengan demikian, akan muncul sumber energi baru. Yang pertama adalah matahari sendiri. Sedang yang kedua, berasal dari pertautan antara laki2 dan perempuan, yang merupakan makhluk sempurna, serta merupakan perwujudan Tuhan itu sendiri. Lho koq bisa? Jawabnya adalah ; bukankah dahulu asal manusia terjadinya juga dari sepasang? Hanya Adam dan Hawa saja. Kemudian beranak pinak menjadi sekitar 6 milyard lebih dimuka bumi ini. Dari sini saya berpendapat; Bila terjadinya karena sepasang, maka hilangnyapun, juga karena sepasang. Sebagaimana hukum REAKSI ANIHILISASI dari Einstein, yang mengeluarkan rumus E=MC2. Dikatakan, bahwa Semua yang ada dialam semesta ini, baik makro, maupun micro(atomic), akan terpengaruh dengan hukum ini. Yang semula berbentuk materi, bisa dihilangkan kembali. Bila sifat materinya dihilangkan, yang tersisa hanyalah energi. Juga dikatakan oleh Einstein, bila unsur materinya dominan, maka energinya kecil. Bila energinya dominan, materinya kecil. Ini sudah rumus, yang tidak bisa diganggu gugat. Yang dalam bahasa agama dikatakan sunnatullah. Kalau dalam fisika modern dikatakan Energi, Materi, Ruang, dan Waktu. Dalam istilah agama, menurut saya, juga tidak akan lepas dari; Sifat, Kodrat, Irodat, dan Habitat. sebagaimana kedudukan awal saat Adam dan Hawa tercipta. Lantas, apa mungkin Tuhan akan nampak, serta muncul matahari kembar? Sehingga, karena masih belum waktunya terjadi kiamat, maka sudah sepantasnyalah bila ada 2 orang yang sedang dilanda cinta kasih, pasti tidak akan mungkin berakhir didalam perkawinan. Adanya, cuma berupa dua energi; positif dan negatif, namun tidak mungkin untuk bersatu. Atau, hanya ada Sifat, dan Iradat, tanpa kodrat dan habitat. Kenapa?
Pada tulisan sebelumnya telah saya ulas; bahwa laki-laki dan perempuan sama- -sama bermuatan listrik. Untuk testosteron bermuatan listrik positif., untuk perempuan adalah ekstrogen. Sedang endokrin bermuatan listrik negative, yang berfungsi sebagai sistim pengatur regulasi hormon. Bila nafsu yang didepan, maka tidak akan terjadi keseimbangan, didalam pengaliran arus listriknya, salah-2 bisa terjadi konslet. Serta tidak terjadi arus bolak balik . Juga, dalam berhubungan intim itu, haruslah terjadi pertukaran energi pada keduanya. Dimana kita ketahui, masing-2 benda atau orang selalu memiliki dua arus listrik yakni negatif dan positif, (unsur adam, dan hawa, laki dan perempuan, yin dan yang). Bila hati yang didepan, maka saat berhubungan, dan sampai pada klimaks, unsur positif (Yang) pada istri merasuk kedalam diri laki-2. Sedang unsur negatif (Yin) pada suami, merasuk pada istri. Dengan demikian, suami maupun istri sama-sama memiliki 2 unsur. Apabila dijumlah menjadi 4 unsur. Dengan demikian, kehidupan rumah tangganya pasti akan harmonis..Tanda-tandanya adalah; apabila selesai berhubungan intim, laki-2nya tidak kelelahan, serta nafasnya akan teratur dan lembut. Serta lebih lembut dibandingkan sebelum melakukan hubungan, dan makin segar. Sementara perempuannya lemas, tapi bukan karena kelelahan, melainkan karena ada kedamaian, setelah energi asing (Yang), serta yang tidak sehabitat, telah keluar dari dalam dirinya. Dalam kehidupan sehari-harinya bisa lebih feminin, sedangkan laki-lakinya akan semakin maskulin. Bila yang muncul sebaliknya, nafsunya yang didepan, yang terjadi justru istri akan nampak maskulin, sedang suami akan nampak feminin. Seperti adanya sifat suami takut istri. Kalau sudah kejadiannya seperti ini, maka kodratnya telah berubah. Dimana yang pintar cari materi adalah istrinya, sementara suaminya tidak punya kratitiftas apapun, semuanya akan kalah dengan istrinya. Sehingga kenapa pula perkawinan itu adalah merupakan sunnatullah? Hal itu supaya terjadi pertukaran energi. Bukankah kita sering tahu bahwa seorang laki-laki yang tidak menikah, ada kecenderungan feminin. Sebaliknya, bila perempuan tidak menikah bisa ada kecenderungan maskulin?
Dengan menikah, keadaan rasa yang tersusupi oleh keindahan cinta ini, akan selalu bersemayam dalam hati mereka masing-masing. Akan selalu timbul getaran-getaran, yang gelombangnya amat dahsyat pada hati mereka. Seberapa besar gelombang itu, tergantung pada seberapa kuatnya cinta dihati mereka berdua. Akibat adanya getaran itulah yang membuat dada bisa sesak, seolah tidak bisa bernafas, dada seperti akan terbelah, dan tubuh bagaikan lemas. Rasanya ingin selalu bertemu. Bila hal ini berkelanjutan, sedang besaran gelombang sudah sampai titik maksimal, justru pada saat itulah pertanda, bahwa mereka berdua akan sampai pada batas titik Nol. Makanya, kenapa didalam kita QS.: 2/223 disebutkan bahwa.”Kita akan bertemu Tuhan. Sampaikanlah khabar gembira ini pada orang mukmin(wa’lamu annakum MULAKUHU,WA BASSIRIL MUKMININ).” Jadi, hal ini akan bisa dijadikan tolok ukur, dan dijadikan acuan untuk menikah. Didalam pernikahan, rasa cinta kasih ini akan selalu tertanam, serta dipersembahkan pada pasangan perkawinannya. Namun tidak lagi membahayakan, sebab hanya satu orang saja yang memiliki cinta kasih murni, sehingga nafsunyapun juga murni. Sementara satu orang yang lain masih memiliki nafsu yang tidak murni, lambat laun akan pula menghablur pada pasangan yang masih murni, dan kembali memancarkan api, dikatakan api asmara.
Hal inilah yang menjadikan sebab kenapa apabila dua orang laki dan perempuan, bila sama-sama memiliki cinta kasih, tidak akan bisa diakhiri dalam sebuah perkawinan, Karena lambat laun modal cinta kasih yang mereka miliki, akan semakin membesar, dan akan menggeser keempat nafsu yang ada. Sebagaimana hukum Einstein diatas, bila Energinya membesar, maka materinya akan makin mengecil. Sehingga tidak akan lepas dari kemungkinan bahwa mereka akan mokhsa bersama alam semesta ini, kembali kepada Dzat yang maha tunggal. Dan memang seorang yang memiliki Kasih murni, biasanya memang gampang digandrungi perempuan. Namun, bila perempuannya juga sama-sama memiliki kasih murni, pasti akan selalu ada halangan untuk bisanya bersatu didalam sebuah perkawinan.
Berarti orang yang sama2 memiliki cinta kasih murni bukanlah sejodoh karena mereka tidak bisa saling memberi dan menerima atau istilah lainnya saling melengkapi seperti sifat yin dan yang bukan? Benarkah bila orang yang memiliki cinta kasih murni itu berarti tidak memiliki jodoh karena semua energinya sudah terpenuhi atau dengan kata lain rohman dan rohimnya telah ada dalam dirinya, sehingga tidak bisa menerima energi dari oleh orang lain. Benarkah begitu Om? Mohon penjelasannya, untuk klarifikasi saja antara pemahaman saya dengan tulisan Om Tris. Terima kasih.
BalasHapusbetul. sebab jodoh dicari karena dalam dirinya tidak ada. kalau sudah ada tidak mungkin orang mencari. Segala sesuatu yang dicari, adalah segala sesuatu yang menjadi kebutuhan bagi dirinya. Sama halnya seseorang baru saja makan, apa mungkin akan makan lagi. Dan yang paling jelas, adalah unsur adam dan hawa sudah ada dalam dirinya. Bila memaksa pasti akan putus ditengah jalan> Dan seringkali putusnya karena kematian pada dua-2nya, akan kembali menyatu pada alam kelanggengan. Dalam tulisan om selanjutnya sudah ada jawabannya ngger. Gbu.
BalasHapusKEREN
BalasHapus