BAB I
JATINING RASA
(FENOMENA RASA)
Akankah engkau katakan, bahwa kehidupanmu tidak pernah mengalami kebahagiaan? Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu, telah ada pada dirimu, sejak engkau dilahirkan kemuka bumi. Bahkan, sampai maut akan menjemputmu. Tetapi, kenapa kebahagiaan itu masih belum kau dapatkan ?
Ketahuilah, semua itu karena penilaian, dan penafsiranmu yang tidak pada tempatnya. Dan engkau menilai, bahwa bahagia itu, apabila engkau berhasil mencapai suatu sisi, dari apa yang kau inginkan terlaksana. Padahal, definisi kebahagiaan itu amat luas sekali, tidak hanya dari satu sisi, seperti yang engkau inginkan.
Apabila engkau ingin bertanya apakah bahagia itu? Tanyakanlah dahulu kepada dirimu, yakni apa yang engkau inginkan pada saat itu. Dan, tanyakan juga, mampukah engkau berusaha untuk mencapai, apa yang engkau inginkan pada saat itu. Kemudian, pertimbangkan baik buruknya, manfaat, dan mudharotnya, bila keinginan itu tercapai. Jika engkau merasa tidak mampu, atau telah berkali-kali gagal, tundalah, atau berhentilah. Dan, ganti dengan keinginan yang lain, yang sekiranya mampu untuk kau pikul. Niscaya, engkau akan bertemu dengan jalan kebahagiaan, kendati tanpa sampai pada kebahagiaan itu sendiri.
.
Dan, ketahuilah bahwa apabila ada seseorang yang mengatakan, bahwa dia bahagia, atau telah sampai pada kebahagiaan, sesungguhnya adalah kebohongan belaka. Kebahagiaan yang ada didunia ini, hanyalah bersifat sementara. Serta, hanyalah merupakan daya pemikat, dan pangkal tolak bagi manusia, untuk berlomba lomba untuk mencari bahagia, kendati hanyalah merupakan perhiasan belaka. Seperti halnya cita-cita bangsa Indonesia adalah untuk mencapai keadilan social, bagi seluruh rakyat, perdamaian abadi. Atau diistilahkan dengan kata” adil dan makmur secara merata”.
Untuk diketahui, bahwa; Pada dasarnya semua rasa itu tidak ada. Sedangkan keberadaannya, hanyalah karena keadaan, dimana orang itu berada. Dan, sampai sejauh manakah pertimbangan akalnya, untuk mengarah terhadap apa yang nampak, didengar, yang akhirnya kemudian tercetus sebuah perasaan. Sesungguhnya, semakin bening hati seseorang, semakin sedikitlah perasaan, dan rasa yang dinikmati, puncaknya adalah kekosongan. Sebaliknya, semakin kotor hati seseorang, semakin banyak perasaan yang dirasakan. Puncaknya adalah keputusasaan.
Kemudian apabila ada orang bertanya, apa perbedaan keduanya? Antara kekosongan, dan keputusasaan? Katakanlah, bahwa sebenarnya keduanya hampir sama. Yakni, sama sama kosong. Akan tetapi, yang pertama; akan mengarah kepada hal hal yang positif, sesuai dengan kodratnya sebagai manusia dililngkungan dia berada. Dia, tidak menginginkan apa2, tetapi semua sudah ada pada dirinya. Inilah tandanya, bahwa dia akan menyatu dengan Tuhannya, dengan sebenar benarnya menyatu. Sedangkan keputusasaan; dia benar benar kosong dari cita cita, dan harapan, setelah berkali kali mengalami kegagalan, dan penderitaan. Dan, biasanya akan selalu mengarah pada hal2 yang negative. Sehingga, dia akan gampang menyatu dengan mahluk2 halus/ghaib. Manakah yang baik diantara keduanya? Tentu saja adalah yang pertama. Tetapi, bukan berarti yang kedua jelek. Sebab, keputusasaan ini, adalah juga kosong dari harapan. Padahal, kita tahu bahwa yang kosong itu adalah isi. Tinggal tergantung apa yang menjadi isinya. Bila sesuatu dari alam gaib, yang masuk ke dirinya adalah hal2 yang positif, akibatnya menjadi baik. Walaupun nantinya, masih harus meniti kembali dari nol. Tetapi, akhirnya juga kepada Tuhan, karena seluruh apa yang ada dialam semesta ini merupakan milik Tuhan. Hanya bedanya lagi, bila orang berpijak pada kekosongan, semuanya disadari oleh kesadaran yang nyata. Sedangkan orang yang putus asa, dia sama sekali tidak mempunyai kesadaran yang nyata. Sehingga, akan terisi apapun yang masuk kedirinya. Bila yang masuk baik, jadinya baik, bila yang masuk jelek, jadinya jelek pula.
Kebanyakan yang ada, justru berpijak dari keputusasaan/ frustasi, dan jarang sekali lewat kekosongan, seperti hal yang pertama. Apa sebabnya bisa jadi demikian? Karena, kita ada didunia, yang otomatis, siapapun yang hidup didunia, dia tak akan lepas dari keterikatan. Sebab, bumi itu sendiri terikat oleh gravitasi peredaran matahari. Jadi, semakin banyak pengaruh yang masuk, semakin banyak keterikatan seseorang.
Kemudian, tahukah, kenapa mengalami kesusahan, kesedihan dan penderitaan? Ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya kesemuanya itu, lantaran apa yang kau inginkan telah hilang dari genggaman. Benarkah demikian ? Dan kenapa tidak berhasil ? Apabila tahu, bahwa sesungguhnya semua apa yang tidak bisa kau capai, hanyalah lantaran belum waktunya kau capai. Atau memang tidak akan sesuai bagimu, bila kau capai. Sebab, segala apa yang ada di alam luas ini, ada hubungannya dengan diri kita. Segala apa yang cocok, pasti akan langsung berhubungan. Sedang yang tidak cocok, pasti akan tolak menolak. Kalau sudah demikian, kenapa lantas susah? Semua itu, hanya lantaran ingin menunjukkan kepada orang lain, bahwa kau mampu melaksanakan, baik sadar maupun tidak.
Lihatlah jiwa anak yang masih dibawah umur 2 tahun kebawah. Apa yang diperbuat, dia tidak menyadari. Entah apakah itu akan diperhatikan orang atau tidak, menyenangkan orang apa tidak. Bahkan, dia tidak punya cita2 apapun, selain apa yang dihadapi pada saat itu. Dia masih murni menggunakan instinknya. Inilah yang seharusnya jadi pedoman. Kita harus bisa menjadi seperti anak kecil itu, tetapi dengan penuh kesadaran. Sehingga, akibat apapun yang dialami dari hasil perbuatannya, dia akan merasakannya dengan penuh kesadaran. Semakin mampu menyadari akan kenyataan, semakin mampu pula, meneliti kelemahan, dan kelebihan yang ada pada dirinya. Biarlah apa yang dikatakan orang kepada diri kita. Senyampang, kita benar2 menyadari, apa yang dikatakan orang. Bukan lantas harus merubahnya, seperti apa kata orang. Tetapi, perubahan itu hendaknya terjadi, karena kita memang berkehendak untuk merubahnya.
Dan ketahuilah, bahwa tidak segala sesuatu yang bisa kita lihat, pasti bisa kita kerjakan. Dan, segala sesuatu yang bisa kita kerjakan, belum tentu akan membawa manfaat, dan atau keuntungan bagi kita. Juga, belum tentu pula segala sesuatu yang tidak bisa dikerjakan orang, kita tidak bisa mengerjakannya. Hanya saja, sesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Sebab, segala sesuatu kebisaan kita, tergantung pula pada situasi dan kondisi yang saling kait mengkait. Sehingga, akan pula mempengaruhi, pada hasil dari kebisaan kita tersebut.
Lalu, apa sesungguhnya yang kita cari? Kebahagiaan? Bagaimanakah kita akan bisa sampai pada kebahagiaan, bila arti kebahagiaan itu sendiri tidak tahu. Dan, sesungguhnya masing2 orang, tak akan pernah tahu akan arti kebahagiaan. Sebab, apabila mereka telah tahu artinya, tak akan mungkin mereka mencari bahagia di dalam hidup ini.
Adapun semua orang, berlomba lomba mencari, dan mengejar kebahagiaan, adalah semata mata karena tidak tahunya kapan datangnya kebahagiaan itu? Selain merasakan, setelah kebahagiaan itu berlalu, atau belum terjadi, apa yang menjadi harapannya. Setelah harapannya tercapai, kebahagiaan itu lantas kembali hilang begitu saja.
Kemanakah larinya, dan benarkah kebahagian itu ada ? Engkau jauh, disaat aku ingin dekat. Dan, engkau bagaikan fatamorgana, atau bagaikan bertemunya langit dan lautan. Setelah dekat, ternyata masih jauh lagi. Bahkan, dibelakang yang telah terlewati, langitpun seolah olah tertangkup, dengan laut yang telah terseberangi.
Ada sebagian orang merasa dirinya beragama, dan yang seolah merasa dekat dengan Tuhannya mengatakan; Bahwa, sebenar-benarnya kebahagiaan itu, adalah makrifat/kenal dengan Allah. Kalau dia sudah tahu, dan nyatanya sudah dapat berbicara begitu, tetapi kenapa pada suatu masa, dia tertemukan dalam keadaan susah?
Dan ada pula yang mengatakan, bahwa segala hal yang diperbuatnya harus dalam keadaan sadar. Bahkan, sampai membunuh orang sekalipun dia harus sadar. Tetapi, kenapa disaat tidur yang sebentarpun, dia tidak tahu disaat nyamuk menggigit kulitnya.
Sebagian yang lain juga mengatakan, bahwa kebahagiaan itu adalah setelah mati. Bagaimana dia bisa mengatakan begitu? Sedang disaat tidur, padahal nyawa masih dibadan, tidak bisa merasakan sedih dan gembira, susah maupun senang, apalagi bahagia.
Lalu, masih ada pula yang menjawab, nyatanya dalam tidur masih bisa bermimpi, dan disaat merasakan ketakutan, karena mimpi dikejar anjing, kenapa bisa merasakan ?
Sebagian yang lain mengatakan, janganlah putus asa, dan jauhilah putus asa itu. Sebab, putus asa adalah dosa, dan jalan menuju kesesatan. Bahkan, hal ini telah ditegaskan didalam kitab2 yang dibawa oleh Nabi2 terdahulu. Mungkinkah demikian, dan mungkinkah seseorang mengetahui, antara batas putus asa dan tidak, selain Tuhan? Kenapa demikian? Ketahuilah, bahwa keputusasaan itu, adalah ketidak sadaran dari rasa. Rasanya kosong, tapi dia tidak menyadari akan kekosongannya. Sebagaimana orang pingsan, tahukah bahwa dia pingsan, selain dia sadar dari pingsannya ?
Oleh karena itu, pikirkanlah dengan akalmu. Dan, janganlah sebagian dari kamu lantas mengatakan, bahwa orang yang kau lihat itu dalam keadaan putus asa. Sesungguhnya, ayat2 yang tertulis itu memang benar. Akan tetapi, diantara engkaulah yang salah menafsirkannya.
Adapun sampai dituliskannya ayat2 itu, se-mata2 adalah merupakan peringatan bagimu, agar engkau jangan sampai pada batas keputusasaan. Dan untuk itu, dekatkanlah dirimu dengan Tuhanmu, dengan sebenar benarnya dekat.
Tetapi, mungkinkah engkau akan dapat dekat dengan Tuhan, dengan sebenar benarnya dekat? Kendatipun engkau tahu, bahwa Tuhan itu, sesungguhnya lebih dekat dengan urat lehermu. Apalagi, bila engkau belum mengetahui, dimana kedudukan Tuhan sebenarnya. Terlebih lagi, bila engkau tak pernah mencari keberadaan Tuhan.
Dan mungkinkah engkau akan menemukanNya, tanpa mengerti sifat sifatnya? Sebab, betapapun Tuhan sudah dekat dengan dirimu, tetapi sesungguhnya masih ada selapis dinding batas yang tipis sekali. Yang hanya dapat ditembus, dengan kesungguhan, dan kebeningan hati. Serta bukan pula hanya lewat kata-kata yang penuh bisa, melainkan hanya dengan perbuatan yang mewarnai sifat-sifat Tuhan itu sendiri.
Kemudian tahukah kamu dimana tempatnya hatimu ? Lalu bagaimana mungkin engkau akan dapat membeningkan hatimu untuk dapat menembus Tuhanmu, sebelum engkau tahu, seperti apa hati manusia itu dan apa pula fungsinya. Sebab, tanpa mengetahui, akan sulit menentukan mana yang baik, dan mana yang buruk.
Belum tentu apa yang engkau katakan benar, pasti benar menurut hatimu. Dan, ketahui pulalah olehmu, bahwa sesungguhnya hati manusia, adalah merupakan perwujudan Tuhan. Apa yang dikatakan benar oleh hati, benar pula dihadapan Tuhan.
Oleh karena itu, wahai orang2 yang beriman, janganlah sekali kali mengatakan telah beriman kepada Tuhan, lantaran telah kau hadapkan mukamu ke timur, atau barat. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya kebaktian terhadap Tuhan, bukanlah kau hadapkan wajahmu kepada timur maupun barat. Sebab, semua itu hanyalah merupakan amsal amsal saja, yang sengaja dicobakan kepadamu. Dan hanya bagi mereka yang beriman sajalah yang benar2 mengetahui kebaktian secara benar.
Namun, masih banyak diantara kamu sekalian, yang masih sering berdebat. Memperdebatkan cara2 kebaktian secara benar, padahal mereka sesungguhnya buta, dan hanya mereka-reka dari Kitab-kitabNya, agar mereka dikatakan pandai, dan suci. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya bagi mereka yang benar2 berbakti kepada Tuhan, mereka seolah olah tak akan sempat berkata, apalagi berdebat. Sebab, mereka tak akan menghilangkan waktu sedetikpun, untuk selalu menyebut nama kebesaranTuhan, dan itu pertanda karena kecintaannya pada Tuhan.
Dan tahukah kamu, bahwa ada pula sebagian diantara mereka para ahli agama, yang senantiasa membawa bawa ayat-ayat, dan selalu fasih menyebut amsal amsal yang telah difirmankan lewat para Nabi dan Rasul, agar dianut oleh orang banyak. Padahal, mereka sendiri tidak mengetahui, apa sesungguhnya yang dimaksudkan. Dan mereka berbuat demikian agar dikatakan sebagai seorang pembawa kebenaran. Tahukah kamu bahwa sesungguhnya orang yang benar, adalah mereka yang tidak pernah tahu, bahwa dirinya benar. Baginya, bahkan lebih suka menyembunyikan kebaktiannya kepada Tuhan, daripada ditujukan pada orang lain, tetapi ternyata keliru.
Tahukah, apabila para Penyampai kebenaran itu banyak yang keliru? Yaitu, mereka2 yang masih merasakan kesusahan. Yang orang lain tidak dapat merasakannya selain dirinya sendiri? Padahal, siapapun diantara mereka yang benar2 berbakti kepadaTuhan, tidak selintaspun ada rasa aniaya, dan kesusahan bagi dirinya. Selain, selalu merasakan kesyukuran terhadap malapetaka yang dialaminya. Dan, apabila mereka sedang ditimpa bencana, dia akan mengatakan, bahwa Tuhan telah memberikan peringatan kepadanya, untuk menilai apa yang telah diperbuatnya selama itu. Dan, janganlah diantara kamu saling mencoba satu sama lain. Serta, hendaklah untuk saling memberikan petunjuk. Namun, apabila engkau tidak mampu, kembalikanlah kepada Tuhanmu. Karena, sesungguhnya hanya Tuhan jualah Raja segala petunjuk. Tetapi, banyak diantara kalian yang mengingkari segala petunjuk Tuhan. Dan ketahuilah, bahwa hal itu adalah merupakan kesombongan yang nyata. Yaitu, bagi mereka yang senantiasa meremehkan orang lain. Bahkan, seringkali terjadi bahwa petunjuk2 itu, sengaja Tuhan limpahkan pada orang2 yang diremehkan. Dan, hanya orang-orang bijaksanalah yang benar2 dapat menangkap segala petunjuk Tuhan.
Sesungguhnya, petunjuk2 yang Tuhan berikan, seringkali berupa cobaan bagimu. Namun, banyak diantara kamu yang menyangka, bahwa cobaan itu adalah musibah, sehingga engkau susah karenanya. Bahkan, lantas cepat2 memohon kepada Tuhan, agar dijauhkan dari cobaan. Dan, seandainya Tuhan mengabulkan, adalah merupakan kebodohan belaka. Dan hanya orang2 yang beriman sajalah, yang senantiasa sabar, disaat cobaan datang.
Kemudian, dengarkanlah olehmu, bahwa sesungguhnya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, namun masih banyak diantara kamu yang masih suka memfitnah. Baik itu kamu sadari maupun tidak.
Sesungguhnya segala perbuatanmu itu diketahui oleh Tuhanmu, yang tersembunyi maupun yang nyata. Untuk itu apabila engkau terkena fitnah, janganlah ikut memfitnah pula, betapapun itu menyakitkan hatimu. Tanyakanlah pada dirimu sendiri, kenapa engkau sampai kena fitnah. Atau, kembalikanlah semuanya itu kepada Tuhanmu. Dan percayalah, bahwa sesungguhnya Tuhan maha adil, dan maha bijaksana.
Disamping itu, ketahuilah olehmu; bahwa apabila mereka-mereka melihat kelebihan yang ada padamu, ada sebagian yang merasa iri, dan sengaja mencari kelemahanmu. Janganlah lantas semakin kau tunjukkan kelemahanmu, dengan kemarahan, atau kesusahan, dan kekecewaan. Karena, memang hal itu yang dikehendaki oleh mereka.
Kemudian perhatikanlah olehmu, wahai orang2 yang beriman. Bahwa apabila engkau telah punya niat untuk melakukan suatu pekerjaan, segeralah kau laksanakan. Tanpa menghitung hitung untung dan ruginya. Dan apabila suatu ketika, engkau mengalami suatu kegagalan, janganlah lantas engkau putus asa, dan bersedih hati. Sebab, disamping hal itu sudah engkau niati, juga akan ada hikmah yang terpendam dari balik kegagalanmu tersebut.
Lalu, apabila suatu ketika berbuat suatu kebenaran, akan tetapi kemudian disalahkan. Jelaskanlah pada mereka, dengan penuh kesabaran, akan perbuatan yang menurutmu benar tersebut. Akan tetapi, bila mereka masih belum menerima, hentikanlah perbuatan itu, terutama bila perbuatan itu merugikan mereka. Akan tetapi, bukan berarti engkau hentikan sinar kebenaran tersebut, sebab ketahuilah; benar dan tidaknya seseorang, tergantung siapa yang menilai, dan kebenaran yang sesungguhnya, adalah apa yang ada dihatimu itu. Dan ketahui pulalah, bahwa apa yang sekarang disalahkan, belum tentu dihari hari mendatang juga salah.
Dan tahukah, apakah kebenaran itu? Yaitu, apabila engkau meyakini, dan tidak menentang apa yang menjadi perintah hatimu. Hanya seringkali, kebenaran tersebut amat menyakitkan, bagi mereka2 yang kurang beriman.
Tidak pula setiap kebenaran yang kau terima itu, harus kau sebarkan. Sebab, sesungguhnya masing-masing orang, ada tingkatannya sendiri. Sesuai dengan keimanan mereka. Serta, tidak ada gunanya bagimu, saling memperdebatkan masalah kebenaran tersebut. Lebih baik, carilah terus kebenaran, demi kebenaran, didalam dirimu sendiri. Sehingga, engkau akan disinari oleh kebenaran yang sempurna, yang selalu memberikan sinar terang diwajahmu.
Lalu, apabila ada diantara mereka yang berbicara tentang dah dan kewajiban; katakanlah bahwa sesungguhnya hak itu tidak ada. Dan adanya karena kekuasaan, serta, seringkali pula seseorang menggunakan kekuasaan tersebut, untuk menjatuhkan orang lain. Padahal bila mereka tahu, bahwa kekuasaan manusia, itu bukanlah warisan. Sehingga, apabila kekuasaan itu dicabut oleh Tuhanmu, apa yang dapat kau lakukan ?
Dan sesungguhnya pula, diantara kamu banyak kesombongan yang nyata. Ketahuilah apabila engkau bertemu dengan orang2 yang sombong itu, kasihanilah dia. Karena, sebenarnya dibalik kesombongan itu, banyak kelemahan yang tersembunyi. Dia sengaja menutupi, dengan berbuat sombong. Hal itu diperbuat agar mereka diperhatikan olehmu, untuk mendapatkan pamrih dari kesombongannya.
Juga, ada pula orang, yang apabila dia sedang menghadapi suatu masalah, dan tidak mampu mengatasinya, lantas kesombongannya yang dikeluarkan. Padahal, itu adalah kebodohan yang nyata. Dan ketahuilah, tidak sekali kali kesombongan itu bisa menyelesaikan masalahmu.
Apabila suatu ketika, engkau ditimpa kemalangan akibat perbuatan orang lain. Anggaplah kemalangan itu, karena perbuatanmu sendiri dimasa masa lampau. Sehingga, sekarang mendapatkan balasan yang setimpal. Karenanya bersabarlah. Sebab, apabila engkau sabar, balasan yang setimpal kepada mereka itu akan datang secepatnya.
Lalu pernahkah engkau bertanya pada dirimu sendiri, kenapa kemalangan itu bisa terjadi ? Tidak pernahkah Tuhan memperingatimu melalui bisikan di hatimu? Padahal, dalam setiap gerakmu, Tuhan selalu memberi petunjuk. Dan engkaupun tahu, bila itu adalah petunjuk. Hanya karena kesombongan sajalah, engkau seringkali tidak mengindahkannya. Lantas, akankah kau masih menyalahkan Tuhan, terhadap semua kemalangan itu ?
Bahkan, banyak pula diantara kalian yang bisa membaca dan mendengarkan seluruh wahyu-wahyu Tuhan, yang telah turunkan melalui Kitab-kitabNya. Kemudian, Tuhan telah memilih, diantara kalian pemimpin2 dari golonganmu sendiri. Namun, disaat pemimpin itu telah dipanggil keharibaanNya, lalu diantara kalian, telah mulai menyimpang dari kebenaran.
Bahkan ada pula diantara kalian, yang telah berlomba lomba, untuk menjadi pemimpin diantara kaumnya, padahal mereka bukan orang2 yang terpilih.
Lantas, apakah kamu menganggap, bahwa engkau patut untuk menjadi pemimpin, sedang Tuhan tidak menghendakinya. Kalau seandainya engkau jujur, kau tentu dapat menjawab. Mungkinkah kau pantas jadi pemimpin, padahal untuk memimpin dirimu sendiri saja engkau tidak mampu, apalagi akan menjadi pemimpin kaummu.
Bersambung………….
Saya pernah baca buku tentang kedamaian menurut agama Budha, disitu juga dijelaskan seperti yang Om Tris tuliskan, bahwa kebahagiaan itu tercipta karena adanya keinginan. Dari tulisan dan penjelasan itu, lalu saya praktekkan untuk tidak memiliki keinginan supaya tidak mengalami kekecewaan, kesusahan dll. Dan memang benar dengan ketidak adanya keinginan maka saya bisa berdamai dengan diri saya dan hati saya sendiri. Bukan berarti saya tidak memiliki cita2 dan harapan, saya memilikinya dan saya berusaha untuk mencapainya, tetapi hasil akhirnya tetap saya serahkan pada Tuhan, karena saya percaya dan yakin bahwa keputusan Tuhan adalah yang terbaik bagi saya. Itulah yang saya jalani hingga saat ini, dan juga bukan berarti dengan tidak adanya keinginan maka tidak ada masalah yang harus saya hadapi, masalah tetap ada dan saya hadapi juga dengan kesabaran seperti yang Om tulis di atas. Ternyata memang ada hikmah yang bisa saya dapat dari semua itu. Lalu yang saya tanyakan, mengapa tidak semua orang bisa memahami hal ini? Apakah karena kondisi hati seseorang itulah yang menjadi penyebabnya? Ini mungkin sebuah renungan nyata bagi saya yang masih harus terus saya gali.....
BalasHapusTerima kasih Om, tulisannya bagus....