Partner | KAENDRA Tour & MICE

Sabtu, 26 Maret 2011

JATISWARA KAWEDAR

Pembaca yang budiman, sejujurnya seluruh kata-kata yang berupa ayat ayat mutiara yang ada didalam buku ini, semula adalah merupakan potongan-potongan kecil, yang berupa suara hati, atau apapun namanya. Semula, hanyalah untuk diri pribadi. Disaat kegundahan, kegelisahan, dan  kegalauan. Juga, disaat melihat perubahan hidup, dan kehidupan alam semesta. Termasuk sikap, dan perilaku berbagai bangsa, dan anak manusia.  Yang semakin lama, justru tidak mencitrakan sebagai kaum, atau umat yang beradab, santun, dan penuh suri tauladan. Sebagaimana tercantum dari masing-masing kitab agama, serta aliran ketuhanan yang dianutnya. Yang tentunya, kita semua menyadari, dan mengakui, bahwa tak ada satupun kitab tuntunan sebagai pedoman hidup kita,  mengajarkan hal hal yang buruk. 



Pasti semuanya berisi pedoman hidup, dan kehidupan yang mulia, sebagai anak manusia. Sehingga, nantinya diharapkan bisa hidup penuh ketentraman, kedamaian, serta penuh kerukunan, antara satu dan lainnya. Tetapi, kenapa yang terjadi justru sebaliknya? Perampokan, penjarahan, pembunuhan, dan masih banyak lagi perbuatan perbuatan yang lain. Baik yang dilakukan secara individu-individu para penganut agama, maupun yang telah terorganisasi secara rapi, dan massive oleh kelompok kelompok, kampungan,perkotaan, sampai internasional. Yang kesemuanya, mengarah kepada kehidupan paradoksal, dari apa yang diajarkan, dalam agama dan kepercayaan masing masing. Padahal, dengan ilmu yang semakin modern, serta tata kehidupan yang lebih sempurna, mestinya para penganut agama, hidupnya akan semakin tentram, dan damai., Tidak justru semakin jahilliyah. Seperti halnya, awal awal dimunculkannya agama ke muka bumi ini. Namun kenyataannya, justru saat ini makin tidak terkendali. Setelah tiada lagi, tata krama kehidupan berbangsa, dan bernegara. Yang mestinya, harus ada disparitas, antara yang beragama, dan yang tidak. Sehingga, turunnya agama, yang semula diharapkan bisa memberikan tuntunan, dan pencerahan pada hati yang gelap, dan gersang, seolah hanyalah sebagai wacana belaka. Yang hanya dipakai, pada  saat ceremonial keagamaan, tanpa lagi bisa membuat kesakralan pada masing2 sanubari. Bagi mereka yang tidak kuat, malah bunuh diri, atau merusak kehidupannya, dengan perbuatan2 yang semakin menenggelamkan dirinya, dalam kehidupan glamor secara sesaat. Bagi mereka, lebih baik hidup di surga yang mereka buat sendiri, walau hanya sesaat pula. Tak lagi memikirkan kematian, memikirkan anak istri, atau keluarganya. Yang pada ujung ujungnya, mengarah pada sikap individualistis, hedonistis, aji mumpung, “sapa sira sapa ingsun.”Serta, berlomba lomba membangun kekuasaan, karena hanya dengan adagium, siapa yang besar, itulah yang menang, dan berkuasa.


Dengan adanya fenomena diatas, maka penulis sering kali merenung, dan bertanya tanya pada diri sendiri, apa yang terjadi, dan kenapa bisa terjadi.

Pada saat perenungan terhadap hal2 yang bersifat metafisika, maka muncullah untaian kata2. Tiap awal perenungan sampai akhir renungan. yang hal itu, berjalan bertahun tahun. Baik disaat merenungi kejadian kejadian yang telah lampau, yang sedang berjalan, dan penulis lihat, dan dengar, serta yang penulis rasakan. Sampai pada kejadian kejadian yang akan datang, dan yang akan timbul, akibat fenomena alam tersebut, dan sikap perilaku mahluk2 diatasnya, khususnya manusia. Maka, akhirnya dari bisikan2 hati, yang muncul dari dalam diri, penulis catat dalam lembar2 kertas hingga 8 ( delapan) tahun. Dan, berkat saran dari teman teman, yang dengan telatennya merangkum suara hati ini, tiap penulis dapat dari hasil renungan. sehingga menjadi buku yang tersusun rapi.

Untuk itu, lewat Sekapur Sirih ini, saya  berpesan, hendaknya siapa saja yang ingin membacanya, agar melakukan petunjuk-petunjuk sebagai berikut:
1.     Awali dengan pikiran obyektif, jernihkan pikiran yang mempengaruhi penilaian secara subyektif. Gunakan suara hati yang terdalam, sebagai sumber kebenaran yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa.
2.     Didalam membaca tulisan ini, ikuti aliran suara hati nurani. Dan, apabila ada kendala yang berkaitan dengan bahasa penulis, berhentilah sejenak, dan tarik nafas, kemudian ulanggi membaca lagi. Kendala ini pasti ada, karena kemampuan berkomunikasi masing-masing orang, sangatlah terbatas pada jumlah kosakata bahasa Indonesia. Serta, kemampuan lidah untuk mengeluarkan kata-kata.
3.     Jangan sekali kali menganggap ini adalah kitab suci.
4.    Jangan menganggap ini adalah merupakan suara Tuhan, atau suara setan. Selain, hanyalah merupakan kitab bacaan biasa. Serta yang penulis dapatkan dari hasil renungan.
5.    Dalam kitab ini, jangan sampai dianggap suatu kitab ajaran kebatinan, atau lainnya. Sebab, penulis tak berkehendak untuk membuat suatu ajaran baru. Baik itu berupa agama, atau aliran kepercayaan. Yang ada, hanyalah sekedar penajaman, terhadap ajaran-ajaran yang ada. Baik yang penulis anut, atau yang ada di dunia ini. Khususnya, penulis ingin mengajak para pembaca, untuk berfikir, dan berfikir. Sesuai dengan kemampuannya masing-masing, tanpa membatasi seluruh penganut agama, dan aliran kepercayaan yang ada.

Demikian, dan semoga kiranya buku ini, akan menjadikan bacaan senggang, serta kajian secara pribadi, maupun ilmiah, agar tidak sekedar mendapatkan suatu wacana. Penulis tidak membutuhkan pengakuan pembaca dari hasil renungan penulis. Yang terpenting adanya sebuah harapan. Setelah membaca buku ini, dapat memberikan angin segar bagi mereka, yang ingin mencari kedamaian, ketentraman, serta kemudahan didalam hidupnya, yang semakin modern ini, dengan motto “Sabda Jati, Sabda Dadi, Purna jati, Purwadadi, Manuksma Munjer Jagad, Hangawiyat ing Rat, Hamemayu Sakabehing Cahya Gumilang, Rumasuk hing tyasing nala sasami suradira jaya ningrat lebur dening Pangastuti”


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar