Dengan adanya fenomena diatas, maka penulis sering kali merenung, dan bertanya tanya pada diri sendiri, apa yang terjadi, dan kenapa bisa terjadi.
Pada saat perenungan terhadap hal2 yang bersifat metafisika, maka muncullah untaian kata2. Tiap awal perenungan sampai akhir renungan. yang hal itu, berjalan bertahun tahun. Baik disaat merenungi kejadian kejadian yang telah lampau, yang sedang berjalan, dan penulis lihat, dan dengar, serta yang penulis rasakan. Sampai pada kejadian kejadian yang akan datang, dan yang akan timbul, akibat fenomena alam tersebut, dan sikap perilaku mahluk2 diatasnya, khususnya manusia. Maka, akhirnya dari bisikan2 hati, yang muncul dari dalam diri, penulis catat dalam lembar2 kertas hingga 8 ( delapan) tahun. Dan, berkat saran dari teman teman, yang dengan telatennya merangkum suara hati ini, tiap penulis dapat dari hasil renungan. sehingga menjadi buku yang tersusun rapi.
Untuk itu, lewat Sekapur Sirih ini, saya berpesan, hendaknya siapa saja yang ingin membacanya, agar melakukan petunjuk-petunjuk sebagai berikut:
1. Awali dengan pikiran obyektif, jernihkan pikiran yang mempengaruhi penilaian secara subyektif. Gunakan suara hati yang terdalam, sebagai sumber kebenaran yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa.
2. Didalam membaca tulisan ini, ikuti aliran suara hati nurani. Dan, apabila ada kendala yang berkaitan dengan bahasa penulis, berhentilah sejenak, dan tarik nafas, kemudian ulanggi membaca lagi. Kendala ini pasti ada, karena kemampuan berkomunikasi masing-masing orang, sangatlah terbatas pada jumlah kosakata bahasa Indonesia. Serta, kemampuan lidah untuk mengeluarkan kata-kata.
3. Jangan sekali kali menganggap ini adalah kitab suci.
4. Jangan menganggap ini adalah merupakan suara Tuhan, atau suara setan. Selain, hanyalah merupakan kitab bacaan biasa. Serta yang penulis dapatkan dari hasil renungan.
5. Dalam kitab ini, jangan sampai dianggap suatu kitab ajaran kebatinan, atau lainnya. Sebab, penulis tak berkehendak untuk membuat suatu ajaran baru. Baik itu berupa agama, atau aliran kepercayaan. Yang ada, hanyalah sekedar penajaman, terhadap ajaran-ajaran yang ada. Baik yang penulis anut, atau yang ada di dunia ini. Khususnya, penulis ingin mengajak para pembaca, untuk berfikir, dan berfikir. Sesuai dengan kemampuannya masing-masing, tanpa membatasi seluruh penganut agama, dan aliran kepercayaan yang ada.
Demikian, dan semoga kiranya buku ini, akan menjadikan bacaan senggang, serta kajian secara pribadi, maupun ilmiah, agar tidak sekedar mendapatkan suatu wacana. Penulis tidak membutuhkan pengakuan pembaca dari hasil renungan penulis. Yang terpenting adanya sebuah harapan. Setelah membaca buku ini, dapat memberikan angin segar bagi mereka, yang ingin mencari kedamaian, ketentraman, serta kemudahan didalam hidupnya, yang semakin modern ini, dengan motto “Sabda Jati, Sabda Dadi, Purna jati, Purwadadi, Manuksma Munjer Jagad, Hangawiyat ing Rat, Hamemayu Sakabehing Cahya Gumilang, Rumasuk hing tyasing nala sasami suradira jaya ningrat lebur dening Pangastuti”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar