Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
La ilaha ilallahu Allahu akbar
Gunung-gunung dan bukit, dari yang meranggas, hingga yang subur.
Laut yang dangkal, sampai laut yang dalam, bumi dan seluruh alam.
Matahari, bulan, dan bintang, serta ketujuh langit.
Binatang yang melata, maupun yang terbang.
Seluruhnya, bertasbih menggetarkan lafal itu.
Itulah roh mereka, dan yang membuat mereka hidup bergerak.
Sebagai wujud ibadah mereka secara hakekat.
Membentuk energi, yang selalu bergerak, beraturan.
Baik materi, maupun non materi.
Dan, karena sayang , Kau beri kelebihan pada manusia,
Energi makna, sebagai pelengkap, yang tidak dimiliki oleh mereka.
Dengan Nur Muhammad, sebagai cahaya, untuk bertasbih kepada Mu
Gemuruh suara langit, mengembang seluruh bintang.
jiwa dan ragaku bergetar, disaat melihat mereka.
Dan semua yang ada, ikut tunduk kepadaku, tercipta tanpa meminta.
Disaat, aku lafal sahadat bermakna dua, Engkau, dan Rasul Mu.
Namun, Itu dulu, ketika aku masih dalam Rahim ibuku.
Kini, disaat aku telah dewasa, semua sirna.
Dan, sudah tidak tahu serta tidak lagi mampu
Menggunakan sahadat makna.
Mereka, sudah tidak lagi tunduk kepadaku.
Sehingga aku memaksa mereka untuk tunduk,
Baik secara terpaksa, maupun sukarela.
Dengan membuat kerusakan, pada alam flora dan fauna.
Aku gali semua benda, sampai kejantung bumi.
Aku kuras lautan, dan kuhisap lumpur hitamnya.
Begitu pula langit, kotor penuh dengan jelaga, termasuk udaranya.
Aku lupa, pada energi makna yang pernah Kau ajarkan.
Dan kini, baru aku menyadari, namun terlambat
Disaat melihat alam, tidak lagi berjalan seperti semula.
Sudah tidak lagi memberikan ketentraman, dan kedamaian.
Setiap saat, gunung berguncang.
Bumi bergolak, badai menyeruak, semua menimbulkan bencana,
Fauna, dan flora, banyak yang menghilang
Manusia jadi makin beringas, melebihi binatang liar dan buas.
Semua itu, lantaran energi alam banyak yang lepas.
Ekosistem telah porak poranda, tiada keseimbangan.
Sehingga, tidak mampu lagi bergerak seperti semula.
Serta, sudah tidak lagi bisa mengagungkan Engkau, seperti dulu.
Itupun, juga karena perbuatanku, dan mereka yang serakah.
Sekarang, aku hanya bisa pasrah, jika alam ini akan mati.
Tercerabut, dan terhempas, berhamburan, saling menerjang.
Menghantam seluruh langit, sebagai penopang kehidupan.
Seluruh makhluk, berterbangan bagai kapas, dan binasa,.
Sampai kembali terbangun, karena energi dari sangkakala terompet Mu.
Untuk menghadap Mu dipadang mahsyar.
Dengan membawa petaka, yang telah aku buat sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar