Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 17 Mei 2011

SETANGKAI EDELWEISS


Saat itu, diawal bulan Mei bersama titik-titik gerimis,
Gemericik membasahi semak-semak kecil di punggung Lawu.
Tak satupun suara kehidupan yang ada pada senja itu,
Seperti suara hatiku, yang bimbang untuk melangkah ke puncak Lawu.
Namun aku terdampar, dan tersesat,  setelah melewati bumi katangga.
Hanya ditemani senja yang makin temaram, dan kesunyian
Sementara, air mata lantaran patah cinta, tak tahu arah entah kemana.
Aku tertidur beralas dedaunan basah, dan ranting-2 berserakan.

Hingga kemudian, nampak seonggok putih indah, diantara rerimbunan,
Bersinar oleh cahaya samar rembulan, putih gemerlap
Semula, kusangka itu adalah Peri penunggu Lawu, namun tetap kudekati
Dengan merangkak ditepian jurang, untuk menghampirimu.
Ternyata, engkau adalah Sekuntum Edelweiss putih berseri.

Saat itu, muncullah ketentraman didasar jiwa, kendati tidak jadi ke puncak
Yang hanya untuk mencari batas, antara ada dan tiada,
Namun, adanya malah tersesat jalan, tiada teman, tiada yang berbincang.
Sementara, rindu makin menyeruak, namun tak ingin pulang.
Hanya untuk menemani sekuntum Edelweiss sampai layu.,

Lagi-lagi, aku terperangah disaat melihatmu, kau tak pernah hendak layu.
Kendati, hampir dua minggu aku berada disampingmu.
Dan, seolah engkau berbicara, kenapa tiada lagi ada asa?
Sedangkan aku hanya sekuntum bunga, walaupun indah,
Tetapi tidak seorangpun tahu, selain semak belukar,
 dan para pendaki yang kesasar atau salah jalan.
Aku memang tanaman surga, tetapi ditempat neraka.
Dan, aku tak hendak untuk meminta
Agar ditaruh di istana. Itulah katamu dulu.
Setelah mendengar nasehatmu, aku kembali pulang.
Dengan membawa setangkai edelweiss darimu.
Lantas, kemudian kutanam didalam relung jiwa.
Yang saat-saat tertentu, kala renjana kembali menyentuh.
bergelora seluruh jiwa ragaku, dengan getar-getar kasih.

Edelweiss,.....harum semerbak hanya aku yang tahu,
dan juga mereka, yang telah bertemu kasih.
Serta,  yang juga bisa menciptakan pelangi hati.
Kini,  Semerbak aromamu, kembali menggetarkan kalbu.
Kendati mungkin,  kau telah pindah ke Tangkuban prahu,
Ataupun bersembunyi ,diantara arga dumilah, maupun di lereng arjuna
Di Argapura, dan di Mahameru sekalipun, aku tetap tahu.
Bahwa engkau, adalah Edelweiss yang berubah wajah.
 Diantara sekuntum mawar dan melati, ataupun sedap malam.
 Karena janjimu dulu, yang tak hendak gugur, sebelum bertemu dengan diriku.

Edelweiss......,
Lambang Kasih, yang tak pernah padam, kendati berganti wajah dan wadah.
Pada jiwa, yang penuh damai tapi gersang.
Edelweiss...... Edelweiss....

Every morning you greet me
Small and white clean and bright
You look happy to meet me
Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss,Edelweiss
Bless my homeland forever.

 pro : seseorang diseluruh dunia yang tak tahu dimana tempatnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar