Sejak semula , disaat kita bertemu, aku tahu engkau seorang maharani.
Aku juga tahu, engkau bunga yang tak pernah layu.
Aku juga tahu, disaat purnama, warna bungamu semakin kemilau.
Kendati hanya setitik cahaya, yang menyusup dibalik rerimbunan.
Masih bisa memberikan keindahan warnamu kepadaku.
Walau kadang.., kelopak bunga-bunga kasihmu.
Sering terbuang, dan terobek karena ulahku.
Dan beberapa saat ini, kau berduka lantaran ada gerhana.
Sehingga tak setitikpun cahaya rembulan menyinari.
Dan tangkai-tangkai bungapun, banyak berpatahan
Lantaran.., aku tak pandai merawatmu, bahkan...
Gerhana itupun..., justru aku yang menciptakan.
Kau hanya bisa menitikkan air mata, bukan sedih karena dirimu sendiri.
Melainkan..., lantaran tak mampu memberikan keindahan bungamu.
Bagaimana mungkin ada keindahan, sedang rembulan kututup dengan awan.
Lantas, disaat kau bertanya, kukatakan bahwa itu adalah gerhana.
Padahal.., gerhana itu, justru,. aku yang menciptakan sendiri.
Bagaimana mungkin, kau akan bisa beryanyi untukku dalam makna.
Sedang.., untuk merajut tembang, butuh cahaya, dan ketenangan.
Walaupun, hanya..., sebatas tembang kenangan.
Engkau tahu, bahwa gerhana itu selalu dariku, namun kau diam.
Bahkan, dengan tetes air matamu, masih kau coba untuk mencari rembulan.
Agar bisa kembali, menyembahkan keindahan bungamu.
Hanya .....,untukku, bukan yang lain.
Walau getar-getar elegi, penuh serenade duka.
Serta tiada lagi rhapsody, selain luka dan luka.
Mewarnai liku-liku hidupmu, masih juga kau mencoba tersenyum.
Terutama, disaat aku pura-pura tertidur diputik bungamu.
Kau berbisik lirih, “masihkah kau butuh bungaku?
Sembari, kau usap tetes air mata, yang takut menimpa wajahku.
Aku pun.., berbisik lirih walau dalam hati.
Maharani,...... Maafkan aku, rajawali yang tak tahu diri.
Saat ini dan seterusnya, perlu pula kau tahu.
Sebenarnya..., aku sudah tak pernah lagi menciptakan gerhana.
Selain, yang tersisa, adalah bayang-bayang gerhana dihatimu.
Yang terlanjur merasuk, sampai kisi-kisi jiwamu yang terdalam.
Yang mungkin, kau tak hendak mengusir gerhana itu sendiri.
Maharani,.... aku berjanji menjadi rajawali yang tegar.
Untuk mengepakkan sayapku terbang kelangit sana.
Kemudian, kembali disisimu mereguk keindahan warnamu.
Dan engkau, bisa kembali merajut.
Tembang penuh makna ‘tuk selalu bersama.
Lantas...,menguak “pintu surgamu” terbang kelangit tujuh.
Lewat “pena jiwa” yang penuh kasih, dan keberkatan.
Dihantar “getar-getar air putih surgawi”, yang menyatu.
Diseluruh lorong jiwaku, dan juga jiwamu.
Bersama anak-anak kita, berlagu penuh gita, dan penuh makna.
Saat ini, lewat gesekan dawai biola kasih,
Kembali kulontarkan sebuah tanya dalam damba.
Masihkah gerhana tak hendak berlalu .....?
Agar kita bisa terbang, dan melayang bersama.
Kelangit tujuh yang menjadi dambaan.
Maharani........,
Ingin kabasuh rindu yang biru, .... seperti dulu...............
Pro : seluruh jiwa yang sedang mengalami kegersangan.
Serta, teriring maaf yang dalam, bila ada yang tidak menyukai bait-bait melo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar