Sengaja saya mengambil judul diatas adalah semata-mata untuk mengupas segala makna yang terkandung didalamnya termasuk untuk memecahkan segala problematika yang menyangkut seluruh sifat yang ada dialam semesta. Dimulai dari air, api, udara, tanah, flora, fauna, jin, setan/malaikat, kemudian manusia, menjadi wujud dari eksistensi Tuhan itu sendiri.
Semua mahkluk yang hidup dialam semesta ini tercipta, kemudian berkembang sampai meluas tidak terbatas, adalah dimulai dari partikel kecil yakni mikro atomik. Adanya perkembangan itu tidak lain karena adanya sebuah rasa yang dinamakan cinta. Sehingga, yang semula hanya sekedar mikro atomik yang tidak kasat mata menjadi nyata bahkan bisa tercipta menjadi bangunan yang megah.
Yang semula hanya berupa energi kemudian berubah menjadi materi. Dan setelah menjadi materi ini pula, yang membuat makin lama semakin berkembang, beranak pinak menjadi sebuah piramida kehidupan yang seolah-olah tidak pernah terhenti, sebab begitu mati satu, akan tumbuh seribu.
Semua itu karena adanya bibit cinta yang telah ditanamkan oleh Tuhan kepada seluruh makhluk, yang diletakkan didalam roh yang membawa hidup, mulai dari tanaman, binatang, jin dan manusia, bahkan terhadap setan dan malaikat sekalipun, tidak terlepas dari adanya bibit cinta itu sendiri.
Eksistensi cinta terhadap seluruh makhluk tentu akan dipengaruhi oleh habitat makhluk itu sendiri, khususnya didalam mengaplikasikan rasa cinta itu didalam kehidupan sehari-harinya.
Kita sebagai manusia, diberi keleluasaan untuk mengaplikasikan rasa cinta itu, dimana sebagai habitat dan predikat manusia adalah untuk menjadikan wakil Tuhan dialam semesta, khususnya didunia dimana kita tinggal, diharapkan bisa selalu menjaga keseimbangan seluruh habitat makhluk apapun. Dan untuk bisa menjaga keseimbangan itu, kita wajib menjadari bahwa segala sesuatu pikiran dan tindakan manusia akan merasuk kedalam habitat salah satu atau banyak makhluk. Sehingga rasa cinta yang tercipta akan berada sesuai dengan sifat makhluk itu sendiri.
Seperti contoh : kita sering melihat ada seseorang yang wataknya seperti binatang, seperti setan, seperti malaikat dan lain-lain. Jika kita melihat perilaku seseorang yang sikap dan perilakunya seperti binatang buas, beringas dan gampang membunuh orang lainhanya karena masalah sepele, kita mencaci maki, membenci dan sebagainya. Jika kita melihat seseorang seperti malaikat, penuh kesantunan, suka membantu orang lain yang kesusahan, kita menjadi kagum, menjadi terharu dan memuji. Jika orang yang berbuat seperti setan itu ditegur dan kita marah-marah, akan menimbulkan pertikaian dan perkelahian serta bahkan bisa menumpahkan darah.
Mengapa demikian?
Karena masing-masing orang atau golongan itu, hanya sekedar mewujudkan rasa cintanya kepada Tuhan sebagai sumber dari segala sumber cinta itu sendiri. Namun yang patut dipertanyakan, kenapa kita marah, atau mereka marah saat ditegur atau menegur? Jawabnya adalah sepele. Yakni, kita dan mereka tidak berada didalam 1 habitat makhluk yang sejenis didalam mengaplikasikan rasa cinta itu sendiri. Walaupun secara kasat mata kita sebagai manusia, namun sejatinya bukan bentuk raga yang jadi ukuran, tetapi sifat apa yang terkandung didalam rasa cinta itu sendiri masuk kedalam habitat makhluk apa. Dan masing-masing orang tidak menyadari. Dari sini sebenarnya awal kejadian munculnya pertikaian, perkelahian, peperangan, serta hasrat untuk saling membunuh dan sebagainya.
Boleh saja seseorang atau golongan membawa sifat setan, binatang , atau malaikat, karena semua itu memang dari Tuhan itu sendiri. Dan Tuhan Maha tahu terhadap segala apa yang diperbuat oleh seluruh makhlukNya. Akan tetapi, adakah kesadaran disaat kita berbuat? Dan dari golongan makhluk apakah kita berada?
Dan jika kita ingin memberi nasehat, kita harus tahu, siapakah diri kita, siapakah mereka, dimanakah habitat kita dan mereka? Jika tidak tahu jangan coba-coba memberi nasehat yang tentu akan bisa menimbulkan pertentangan. Karena masing-masing orrang akan mempertahankan rasa cinta yang dimiliki, dan berusaha untuk mengembangkannya lewat habitatnya masing-masing. Dan itu memang merupakan keseimbangan. Dan tidak mungkin jumlah malaikat dan setan itu tetap seperti semula saat Tuhan menciptakannya, sementara jumlah flora dan fauna semakin banyak dan beragam, sesuai dengan berkembangnya alam semesta ini, sejak big bang(ledakan besar).
Bagi saya, disaat akan memberi nasehat, terlebih dahulu akan melihat sifat dan perangai dasar orang itu, kemudian saat orang itu melakukan tindakan, baik terhadap orang lain, maupun terhadap dirinya sendiri. Perasaan apa yang ada, didalam melakukan tindakan. Apakah senang, kecewa, atau ada penyesalan setelah selesai berbuat sesuatu. Dari sini, saya akan masuk kedalam habitat makhluk apa yang ada didalamnya. Setelah saya masuk dan menjadi satu habitat, baru saya akan memberi nasehat, minimal agar mereka mengerti, dan menyadari bahwa mereka berada dalam habitat sifat makhluk. Dengan demikian mereka akan melangkah dengan penuh kesadaran menuju sifat yang dikehendaki didalam mengaplikasikan rasa cinta pada Tuhannya untuk berkembang sampai akhirnya kemballi kepangkuan Tuhan.
Kalau kita tidak dapat masuk, berarti kita tidak mengetahui habitat makhluk yang ada pada diri kita. Sebab yang sering terjadi kita sendiri yang setan, orang lain yang berada didalam habitat malaikat malahan dikatakan setan. Kalau kita sendiri yang merasa didalam habitat malaikat jangan memaksa orang lain yang berada didalam habitat setan untuk menjadi diri kita, terkecuali jika kita melihat bahwa mereka yang telaah berada didalam habitat setan itu merasa menyesal, kecewa dan lain-lain, yang akhirnya kita sendiri yang kecewa dan merasa gagal. Yang akhirnya kita sendiri berpindah kedalam habitat setan tanpa kita sadari. Bahkan salah-salah bisa bertindak lebih keji dari mereka yang akan kita beri nasehat.
Semoga bermaanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar