Segala sesuatu yang berada dialam semesta ini, tentu memiliki nama. Jika ada nama tentu ada bendanya, jika ada ada benda pasti ada sifat dan ada tempat kedudukannya.
Demikian juga tentang “Tuhan, Allah, God, Gusti, dan lain-lain”. Jika memiliki sebuah nama, tentu ada wujudnya, ada Dzat, serta pasti juga memiliki sifat.
Dzat dan wujud Tuhan, amat berbeda dengan wujud makhluk-makhluk yang diciptakan olehNya. Kalau makhluk-makhluk ciptaanNya, wujudnya bersifat kebendaan, tetapi wujud Tuhan bukan bersifat kebendaan, melainkan bersifat kekosongan( anti materi dan anti energi). Makanya Tuhan diistilahkan dengan Dzat bukan “Zat”. Dan Dzat adalah merupakan penyebab utama adanya ZAT(kausa prima).
Wujud benda, mengandung unsur materi dan energi, sedangkan “ZAT” merupakan kumpulan dari energi, yang terangkum didalam suatu atom organik maupun non organik, kemudian menyatu menjadi suatu materi. Adapun “DZAT” merupakan bentuk tunggal, yang hanya khusus diperuntukkan bagi Tuhan itu sendiri. Dan bukan merupakan energi maupun materi, akan tetapi lebih bersifat “ ANTI ENERGI DAN ANTI MATERI”. Inilah yang disebut sebagai wujud Tuhan yang maha lahir, dan maha batin. Sehingga, kenapa Tuhan dikatakan maha meliputi segala sesuatu. Mulai dari yang Nampak, maupun yang tidak nampak, mikro atomik, sampai makro kosmostik. Mengapa demikian?
Sebab, mungkinkah akan ada materi tanpa adanya energi? Mungkinkah ada energi tanpa adanya anti energi? Disamping itu, keberadaan materi yang didalamnya mengandung energi, pasti diikat oleh sesuatu sifat, yang terkandung didalam anti materi, yang memiliki sifat zat kebendaan. Sehingga dikatakan sebagai sebuah benda; baik padat, cair, maupun gas. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca tulisan-tulisan saya yang terdahulu.
Selanjutnya, berbicara tentang“ Puasa adalah sarana untuk bertemu Tuhan “ karena didalam puasa, mengandung 2 maksud yang tersembunyi, sebagai berikut :
· Mulai pagi sampai petang tidak mamasukkan unsur makanan dan minuman jenis apapun. Yang berarti, tidak ada unsur kalori maupun nutrisi, selain hanya memasukkan unsur udara (oksigen), yang masuk sesuai dengan tarikan nafasnya. ( Unsur lahiriah);
· Tidak boleh marah, susah, serta hal-hal yang bersifat negatif yang masuk lewat panca indra. yang pada intinya, untuk menguras isi nafsu dari segala hal yang akan merusak manusia batin.
Dengan tidak memasukkan unsur makanan, baik makanan lahir maupun makanan batin, selain unsur-unsur yang terkandung didalam oksigen serta matahari. Diharapkan, seluruh unsur yang terkandung didalam sifat seluruh makhluk, sedikit demi sedikit akan sirna didalam tubuh manusia. Yang tersisa, hanya dirinya sebagai manusia, serta udara dan matahari. Matahari yang membawa zat bagi hidupnya manusia, sedangkan udara yang membawa unsur kehidupan.
Hidup dan kehidupan, adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, didalam perjalanan seluruh makhluk didunia. Jika udara yang merupakan sarana kehidupan tidak ada, tidak akan berselang lama, maka hidupnya juga akan sirna atau mati.
Begitu juga terhadap manusia. Dengan hanya tersisa 2 unsur yang masuk pada tubuh orang yang berpuasa, yang dikenal hanyalah sifat manusia itu sendiri. Minimal, mulai dari pagi hari sampai petang hari, disaat matahari telah tenggelam.
Jika keberadaan ini berlangsung terus menerus sampai 1 bulan penuh, manusia akan bisa mengenal sifat-sifat yang ada didalam dirinya. Kalau pada bulan-bulan sebelumnya, sifat manusia senantiasa berbaur dengan sifat makhluk yang masuk, namun dengan berpuasa, semua itu akan sirna.
Dengan mengenal sifat-sifat yang ada pada dirinya, sudah barang tentu dia akan mengenal sifat Tuhan yang merasuk pada dirinya, sebagaimana saat awal dia terlahir kedunia sebagai bayi(sifat asal).
Setelah sifat asal ini sudah dikenal, serta disadari keberadaannya, termasuk kelemahan dan kelebihan seluruh sifat itu, maka kita tinggal mencoba untuk mulai mengenal sifat-sifat Tuhan yang lain, yang terangkum didalam kitab agama masing-masing. Khusus untuk ajaran Islam, sifat Tuhan terangkum didalam “asmaul husna”, atau 99 sifat.
Bagaimana cara mengenal sifat-sifat Tuhan?
Untuk mengenal sifat Tuhan, terlebih dahulu mengenali sifatnya sendiri saat sebelum berpuasa, apa yang telah diperbuat dan dilakukan. Selanjutnya, apa akibat dari yang dikerjakan, akan tercermin didalam perasaan kita, serta tersimpan diotak, bahwa apa yang telah dilakukan itu salah atau benar.
Setelah itu, barulah mencoba memasukkan 99 sifat Tuhan kedalam diri kita. Dalam 1 hari memasukkan 3 sifat Tuhan yang kita pilih, sesuai dengan keadaan kita saat itu, menjadi suatu tindakan nyata berupa perbuatan, untuk diterapkan pada orang lain. Sehingga, dalam 1 bulan, kita telah dapat memasukkan 90 sifat Tuhan kedalam diri kita, serta melatihnya menjadi sikap prilaku kita. Jika sifat yang dilakukan ada 90 sifat Tuhan, padahal sifat Tuhan ada 99 sifat, bagaimana dengan 9 sifat Tuhan yang lain? Jawabnya; 9 sifat Tuhan itu, telah ada didalam diri masing-masing manusia, yang selalu kita bawa setiap saat. Mengapa demikian?
Manusia, adalah merupakan makhluk terakhir didunia, yakni : 1. Air ; 2.api ; 3. Udara; 4. Tanah; 5. Tanaman; 6. Binatang; 7. Makhluk halus(Jin); 8. Malaikat; 9. Manusia.
Sebagaimana yang telah saya sebut diawal tulisan, bahwa setiap nama tentu ada benda, dibalik benda tentu membawa sifat, dan tempat kedudukan. ( bisa dilihat kembali pada tulisan-tulisan saya terdahulu di blok :www.triswedi.blogspot.com).
Dengan demikian, manusia disaat berpuasa, akan bisa berlatih untuk menjalankan semua sifat Tuhan secara keseluruhan. Yang kemudian bisa diterapkan pada 11 bulan berikutnya, kira-2 sifat Tuhan manakah yang akan dapat dipakai untuk wisata di dunia ini.
Selanjutnya, untuk supaya tepat sasaran didalam menggunakan sifat Tuhan, diperlukan mengkaji kembali kitab Al Qur’an al karim, selama sebulan penuh sampai tamat. Karena didalam kitab tersebut telah termuat seluruh sifat Tuhan, yang dikodifikasikan didalam kisah atau sejarah para nabi dan rasul serta para kaumnya. Disitu, kita bisa melihat sebab dan akibat yang terjadi, baik dan buruk, benar dan salah, pada jaman dan budaya masing-masing kaum yang telah berlalu. Yang apabila kita menengok dengan penuh kejelian, sesungguhnya semua itu tidak terlepas dari perjalanan seluruh sifat Tuhan, yang diimplementasikan menjadi sikap, prilaku, dan perbuatan manusia. Sedangkan Tuhan, adalah sutradara, atau pelaku tunggal dialam semesta ini.
Inilah sebenarnya hakiki dari mengkaji ayat-ayat Al Qur’an al karim atau tadarrus, agar supaya kita bisa membaca kitab yang sebenarnya, yang dikatakan kitab yang nyata/ kitabun mubin(Lauh Mahfudz).
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar