Sesungguhnya keberagaman penilaian itu, adalah semata-mata merupakan hasil dari penilaian otak yang ada dikepala, sehingga akan mengetahui adanya perbedaan.
Tetapi, seandainya kita mau menggunakan hati untuk melihat, adakah perbedaan itu? Pada saat hati telah melihat, sesungguhnya tidak ada seorangpun yang memiliki kelebihan maupun kelemahan. Semua pandangan akan sama, tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, tidak ada lagi orang yang pintar dan bodoh, cantik maupun buruk rupa. Tidak pula ada rasa kagum terhadap kehebatan seseorang, sebab hati tidak mengenal hebat, kuat lemah dan lain-lain-.
Sehingga kenapa seseorang disuruh puasa. Hal itu supaya kita libur menggunakan otak dikepala, dengan tiadanya makanan dan minuman, maka akan sedikit energi yang masuk dikepala. Sebab pada umumnya 70 persen makanan akan lari ke kepala.
Dengan keadaan lapar dan dahaga, maka hati yang akan berbicara, karena hati tidak butuh makanan, dan hati adalah merupakan pancaran ruh Tuhan.
Namun yang terjadi, pada saat puasa seperti ini, malah kita menggunakan segala cara agar kendati seharian tidak makan dan minum, akan tetapi kita memasukkan nutrisi dan energi yang lebih disaat makan malam, agar cukup memenuhi raga seharian sampai senja menjelang. Lantas kalau begitu, apakah yang akan didapatkan, selain hanya tahan lapar dan dahaga? Sehingga disaat puasa berakhir, tetap saja hati mengalah untuk melihat dan otak dikepala tetap mendominasi segalanya. Puasa bukan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi untuk menahan diri.
Dan kita dapat dikatakan menang, jika telah melewati 11 bulan berikutnya sejak puasa berakhir, dan hikmah puasanya bisa dijadikan barometer perubahan dalam kehidupan sehari-harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar