Jika kita melihat buah yang belum pernah dilihat
sebelumnya, tentu akan bertanya, buah apa itu
namanya. Setelah itu, tentu kita ingin mencoba
merasakan dengan memakannya, apakah buah itu
manis, getir, masam, asin dll.
Dan hal itu tidak cukup hanya bertanya pada orang lain bagaimana rasanya. Namun, jika yang ditanya tidak pernah merasakan, pasti akan menjawab bahwa dirinya juga tidak tahu. Jika kita sudah merasakan, maka pada saat itu dia sudah bisa bersaksi, bahwa buah itu rasanya asin, manis, masam, pahit dan sebagainya.
Dan hal itu tidak cukup hanya bertanya pada orang lain bagaimana rasanya. Namun, jika yang ditanya tidak pernah merasakan, pasti akan menjawab bahwa dirinya juga tidak tahu. Jika kita sudah merasakan, maka pada saat itu dia sudah bisa bersaksi, bahwa buah itu rasanya asin, manis, masam, pahit dan sebagainya.
Mengapa harus merasakan? Karena obyek yang dirasakan datangnya dari luar tubuh. Dan yang ingin disaksikan adalah urusannya rasa. Bukan sebatas apa yang nampak pada panca indra. Apalagi jika yang dibicarakan adalah masalah bertuhan.
Iman, yakin, dan taqwa, adalah urusannya "Rasa". Dan Rasa tempatnya ada didalam diri. Dan didalam Rasa sudah ditanamkan bibit ketiganya untuk menjadikan pedoman didalam kesaksian pada setiap detiknya.
Didalam diri manusia ada 3 unsur sifat "diri" yakni :
1. aku(huruf kecil semua); 2. Aku(A huruf besar); dan 3. AKU(semua huruf besar). Ketiga sifat diri ini sengaja lambangnya saya bedakan inisialnya agar memudahkan didalam pemahaman.
1.Diri yang berlambang "aku" adalah merupakan sifat yang meliputi 4 nafsu, merupakan perut/
lambung dari manusia batin, yang bertempat kedudukan di liver.
2.Diri yang berlambang "Aku" adalah yang merupakan pengendali yang dikatakan "jiwa manusia", yang bertempat kedudukan di kepala.
3.Sedangkan diri yang berlambang " AKU " adalah merupakan utusan Tuhan yakni " Roh atau nyawa" , yang berpusat didalam hati atau jantung.
Jadi tugas jiwa atau "Aku" inilah yang memegang peranan penting didalam pencarian seluruh rasa
didalam diri. Untuk disampaikan kedalam diri "aku" didalam nafsu, agar menyaksikan, merasakan dll.
Rasa apa yang harus dicari dan disaksikan? Adalah Rasa yang ditanamkan didalam "AKU" pada setiap detiknya, lewat naik dan turunnya nafas.
Setiap ada masalah apapun yang belum terjadi, jauh sebelumnya, " AKU" pasti mengetahui, dan
disampaikan lewat getaran, yang juga pasti akan dirasakan oleh " Aku"/ jiwa. Dan supaya "Aku" jiwa
mengetahui jenis getaran tersebut merupakan permasalahan apa, hanya "aku" nafsu yang bisa merasakan warna atau jenisnya.
Sehingga dengan demikian, maka aku nafsu sudah menyaksikan, dan memberi tahu Aku jiwa, tentang apa yang terjadi.
Kesimpulannya: Segala sesuatu yang sifatnya masih non empiris atau ghaib, berarti sebelum ditangkap oleh panca indra, "AKU" yang ada didalam hati, akan tahu, dan akan memberikan signal pada jiwa. Dengan tujuan, agar jiwa bisa ada waktu untuk bersikap, serta mempersiapkan langkah2 apa yang akan diambil. Dan bisa segera memerintahkan seluruh aparat yang ada didalam diri, setelah "aku nafsu" ikut "bersaksi", terhadap keberadaan warna signal itu. Apakah signal itu mau dijadikan empiris, atau tetap non empiris.
Dan jika "Aku jiwa", tidak menghiraukan adanya signal itu, maka disaat telah ditangkap oleh pancaindra, maka akan menyebabkan terjadinya perobahan rasa. Seperti halnya,: sedih, gembira, susah, menderita, marah, aneh dsb.
Sebab datangnya peristiwa itu mendadak, sehingga perobahan rasa itu adalah untuk kembali menyeimbangkan, antara rasa dengan peristiwa yang terjadi.
Jika sebelum peristiwa terjadi sudah diketahui, sudah tentu keseimbangan itu telah terjadi lebih dahulu. Sehingga rasa gembira, susah dll tidak akan terjadi.
Contoh : Disaat kita melihat lebih dahulu terhadap suatu peristiwa kecelakaan, kemudian tidak berselang berapa lama ada orang bercerita tentang kecelakaan itu, perasaan kita biasa saja tidak ada
perobahan.
Dari sinilah awal mula adanya "Kesaktian" yang sebenarnya, adalah merupakan "terjadinya kesaksian", antara aku didalam nafsu, dan Aku didalam jiwa.
Sehingga, seberapa besar kesaktian yang dimiliki, tergantung sepenuhnya terhadap "kesaksian", yang
telah dialami oleh jiwa dan nafsu. Serta tergantung seberapa besar, Aku didalam jiwa, menuruti signal
dari " AKU " dalam hati/jantung/ Roh, untuk "menyaksikan" sendiri.
Dan jika seseorang telah menguasai kesadaran didalam menguasai "aku" didalam nafsu, tentu kita
bisa mengeluarkan energi yang ada didalamnya. Sesuai dengan sifat dan habitatnya nafsu. Guna
mempengaruhi segala apa yang ada diluar tubuhnya, seberapapun besarnya.
Sebab segala sesuatu yang ada didalam diri, adalah merupakan inti dari segala sesuatu yang ada diluar tubuh.
Intinya : Semua yang ada melewati tahapan :pengenalan diri; kesaksian; pelaksanaan, dan pembuktian, oleh dirinya sendiri, dan bukan dari orang lain.
Sebab jika dari perkataan orang, akan menjadikan kisah. Dari kisah menjadikan cerita, dan dari cerita akan menjadi sejarah. Tetapi bukan sejarahnya sendiri, melainkan sejarahnya orang lain, yang mencari jati diri.
Sementara sejarahnya sendiri akan terlupakan begitu saja.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar