Wahai orang-orang yang mengaku beriman, mengapa diantara kalian seringkali memperdebatkan tentang keberadaan Tuhan itu? Dan tidakkah kalian menyadari bahwa saat terjadinya perdebatan, sesungguhnya semuanya akan berusaha menjadi subyek, sementara yang menjadi pangkal perdebatan adalah Tuhan yang kau jadikan obyek.
Dan semestinya kamu mau berpikir, bahwa Tuhan itu bukanlah obyek. Sehingga bisakah kamu berpikir jika tanpa obyek yang menjadikan pusat pemikiranmu?
Dan sesungguhnya, jika kedua subyek bertemu, maka yang terjadi adalah saling berusaha untuk menjadikan subyek yang lainnya berobah menjadi obyek. Dan satu sama lain berusaha untuk menjadi tuhan bagi yang lainnya. Karena tidak ada obyek, akhirnya kalian semuanya akan bertemu satu sama lain untuk saling bersilang pendapat. Dan kemudian akan saling menghancurkan, untuk kembali menuju kosong tanpa subyek dan obyek itu sendiri.
Dan hal itu sama dengan keberadaan kedua titik yang ada didalam jantungmu. Jika titik yang berada diserambi kanan bawah jantung mati, maka tidak akan berselang lama, titik yang berada diatasnya yang merupakan sumber awal listrik manusia juga akan mati. Dan dirimu pun saat itu juga mati.
Wahai orang-orang yang mengaku beriman, semestinya jika kalian ingin berpikir tentang Tuhan, bukan Dzat dan sifat yang jadi bahan pengkajianmu. Apalagi jika untuk diperdebatkan.
Melainkan seluruh peristiwa yang ada. Baik yang terjadi didalam dirimu ataupun diluar dirimu. Serta yang berakibat langsung maupun tidak langsung.
Dengan berpikir segala peristiwa yang ada, tentu akan ada hikmah. Dan dibalik hikmah tentu akan ada makna. Dan dibalik makna pasti akan ada semiotika.
Serta dari semiotika inilah kamu akan bertemu ayat-ayat yang nyata tentang Tuhanmu.
Dan jika kamu sudah mendapatkan ayat-ayat yang nyata, maka sesungguhnya dirimu berada dilautan hikmah. Yang nantinya akan selalu mendapatkan kemurahan dan kemudahan, didalam mengarungi samudra kehidupan ini.
Itulah yang semestinya kamu lakukan, dan bukan berjalan kesana kemari membawa ayat yang bukan milikmu sendiri. Dan jika bertemu dengan mereka yang lain yang juga membawa ayat. Maka yang terjadi adalah pertikaian, bahkan perkelahian antar sesama.
Apa yang diperdebatkan ? Adalah sebuah nama atas pengakuan tentang kebenaran. Dan bukan merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Melainkan kebenarannya sendiri.
Itulah sesungguhnya pengabdianmu kepada Tuhan sebagai hamba, dan bukan sebaliknya dirimu menjadi Tuhan, sementara Tuhanmu kau jadikan hamba nafsumu.
Dengan berpikir tentang peristiwa yang ada, menunjukkan bahwa kamu akan senantiasa mengadakan dialog serta komunikasi timbali balik, antara hamba dan pencipta.
Karena sesungguhnya tiada mungkin akan ada semiotika tanpa adanya makna. Tiada mungkin akan ada makna tanpa didahului hikmah. Dan mungkinkah akan ada hikmah tanpa adanya peristiwa?
Begitu pula, tiada mungkin akan ada peristiwa, tanpa adanya kehendak dari pencipta apa maksud serta latar belakang peristiwa itu tercipta. Dan adanya peristiwa, lantaran adanya masalah yang terjadi, diantara dirimu dengan apa yang ada disekitarmu.
Dengan adanya dirimu merenung, menunjukkan dirimu sebagai subyek. Dan peristiwa itu adalah obyek. Jika perenungan itu melibatkan orang lain yang sama-sama subyek, maka secara oromatis obyek akan hilang dari perenungan. Sehingga kenapa kalian dilarang untuk memperdebatkan segala sesuatu tentang Tuhanmu.
Intinya ; jika kamu ingin mengawali perenungan tentang Tuhan. Jangan sekali-kali kamu gunakan pikiranmu. Tetapi gunakan hatimu untuk merasakan segala peristiwa yang ada.
Untuk apa peristiwa itu datang, dan apa maksud dibalik peristiwa, sampai hikmah apa yang kamu terima. Dan apa tujuan hikmah itu kau dapatkan.
Kemudian untuk kau rangkum menjadi semiotika alam, guna menunjang kehidupanmu disemesta alam penuh dengan terang, sehingga kehidupanmu pun juga benderang.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar