Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 06 Mei 2014

ANTARA PONDOK INDAH DAN GUBUG DERITA



Siapakah diantara mereka yang lebih peka, akan tangisan dan jeritan orang-orang papa dan terlunta?

Mereka yang terlahir, dan dibesarkan dilingkungan Pondok Indah ataukah yang biasa berkecimpung di Gubuk Derita Yang setiap hari penuh ketakutan dengan kemelaratan. Khawatir terusir para penguasa dimasa kecilnya. Karena bertempat bukan pada miliknya. Selain  Sepetak Huma yang berpindah-pindah setiap saatnya.

Masihkah akan muncul empati dengan sebenarnya, bagi mereka yang senantiasa berlimpah dengan kemewahan sejak kecilnya. Serta sedikitpun tidak punya getar-getar makna bagi mereka yang tidak berpunya. Selain mungkin adanya nafsu serakah untuk semakin memperbanyak pundi-pundi harta dunia, bagi dirinya sendiri, ataupun kelompoknya.

Dan jika ada seseorang, yang terbiasa berada dilingkungan gubug derita, dan sadar akan penderitaannya. Kemudian dia bekerja keras sehingga terangkat kepermukaan. Atau malah menjulang keangkasa, tidak hanya sekedar namanya. Melainkan karena adanya rasa kasih yang mendalam dari dalam dirinya, sehingga semakin membahana. Dan tentu, akan banyak yang tergila-gila untuk menjadikan cahaya bagi mereka, yang telah lama terpuruk didalam gubug derita, seperti awal sejarah orang itu sendiri.

Lantas, apakah mungkin dia akan menjadi boneka, sementara dia berpindah menuju pondok indah lewat hatinya. Dan, apakah mungkin hati bisa menjadi boneka? Terkecuali, bagi mereka yang sudah terbiasa, hidup berkelimpahan mutiara sejak kecilnya. Tentu tidak akan bisa membedakan, antara perasaan duka dan gita itu, sesungguhnya seperti apa. Selain susah dan bahagia, menurut ukurannya sendiri.

Itulah  tolok ukur yang seharusnya menjadikan pedoman, bagi siapapun yang hendak memilih seorang pandega. Sebab adanya rasa itu, adalah setelah dialami sendiri. Dan bukan dari sebuah kisah ataupun citra, tentang orang yang menderita didalam gubug derita.

Seseorang, akan bisa menjadi sebuah boneka, jika didalam kehidupannya, hanya berkecimpung didalam teori tentang rasa dari orang lain. Sementara dirinya belum pernah mengalami.

Dan jika pernah mengalami, kemudian dia menjadi kaya, bukan hasil dari keringatnya sendiri. Melainkan, mungkin dari hasil orang lain. Atau dari harta, yang didapat dengan cara-cara yang tidak berkeprimanusiaan.

Jika demikian, masihkah bisa kita mengharapkan cahaya dari mereka untuk menuntun kita, menuju pintu gerbang pondok indah? Yang ada, justru akan semakin terpuruk, dan semakin jauh didalam kegelapan penuh penderitaan.

Memimpin itu, tidak membutuhkan kepandaian, tetapi hanya menggunakan segumpal hati yang penuh kasih Tidak mengenal cara atau teori. Dan dari kasih inilah, yang akan memunculkan jutaan teori dengan sendirinya, saat dia memimpin. Saat dia berjalan, saat dia melihat, saat dia ikut merasakan, tangisan papa dari mereka yang terlunta. Dari situlah hati akan bertindak untuk melakukan perobahan pada rakyatnya, pada bangsanya. Agar bisa menjadi mercusuar dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar