Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 06 Mei 2014

SEMIOTIKA DIBALIK JIS DAN HUJAN ES



Beberapa hari ini kita dibuat terperangah saat ada kasus pedofilia pada anak-anak TK di Jakarta international school (JIS). Dan bahkan sampai detik ini masih tetap hangat untuk dibicarakan. Bahkan di ILC hari selasa lalu, timbul perdebatan sengit antara hotman paris dengan dirjen pendidikan. Namun, menurut saya masih belum mengarah pada substansi yang mendasar. Satu sama lain masih membahas pada pokok masalah, etika, pengawasan, serta masalah kewenangan masing-masing. Sehingga terkesan saling menyalahkan, dan melempar kesalahan pada pihak lain.Tetapi masih belum mengarah pada semiotika alam kenapa hal itu bisa terjadi. Kemudian dilanjutkan dengan adanya hujan es di DKI.

Mestinya, kedua peristiwa tersebut menjadikan bahan pelajaran yang berharga. Bukan terhadap kedua kejadian itu, melainkan adanya semiotika yang terkandung didalamnya.

Dari kedua hal itu, saya membacanya justru sebagai semiotika alam semesta, yang merupakan peringatan bagi kita semua. Yakni sebagai berikut:


1. Adanya kasus di JIS itu agar pintu hati kita sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat, agar tidak selalu silau terhadap ajaran-ajaran asing. Selama ini, kita senantiasa menganggap bahwa produk asing pasti hebat. Terbukti diantara kita sebagai orang tua merasa bangga jika anaknya bersekolah dan dididik oleh produk asing. Dan diantara kita sebagai bangsa masih bersifat seperti taman kanak-kanak. Kita tidak pernah dewasa. Dan kita senantiasa mendewakan produk asing. Sehingga dengan adanya peristiwa itu akan membuka mata hati kita bahwa tiap yang berkilat itu adalah emas ( all that glitters not gold).

2. Dengan adanya perobahan alam dimana didaerah seperti Jakarta bisa hujan es, itu merupakan semiotika. Bahwa betapapun segala sesuatu yang tidak mungkin , suatu saat bisa saja terjadi jika keadaan sebagai pendukungnya memenuhi syarat untuk terjadinya suatu peristiwa. Baik itu positif maupun negatif. Terlebih lagi jika keadaan itu dipicu oleh situasi dan kondisi dari masyarakat itu sendiri.

3. Dari dua peristiwa diatas ini merupakan gambaran bahwa kepribadian bangsa Indonesia sebelumnya ini senantiasa membebek ke barat akan berpindah menuju kepada jati dirinya sendiri.

4. Dengan adanya hujan es merupakan petunjuk bahwa disaat pergantian pemimpin negara tahun ini dan kedepannya, akan memerintah dengan tangan dingin serta penuh kasih demi bangsa dan bukan demi pribadi masing-masing. Serta sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia itu sendiri.

5. Segala hal yang sifatnya kebarat-baratan akan mulai ditinggalkan. Apalagi jika sifatnya hanyalah berupa primordial belaka.

Kesimpulan: Adanya kedua peristiwa JIS dan hujan es di DKI itu adalah merupakan semiotika bahwa kita yang sejak orde baru selalu dijadikan taman kanak-kanak oleh keadaan, akhirnya akan sadar dan bangkit untuk menjadi bangsa yang besar, diawali dengan pergantian pimpinan nantinya. Yakni perobahan secara serentak lewat revolusi mental dan spiritual menuju bangsa yang mandiri untuk menjadi mercusuar dunia.
Sehingga akan kembali memunculkan sosok-sosok baru yang mendunia. Seperti halnya dulu jaman pergerakan menyongsong kemerdekaan seperti halnya Ir. Soekarno, KH. Agus salim dan lainnya yang dikagumi dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar