Partner | KAENDRA Tour & MICE

Jumat, 03 April 2015

PEMAHAMAN : MENERIMA APA ADANYA




Dalam istilah jawa "nrima ing pandum" atau menerima apa adanya, dalam artian mensyukuri apa yang diberikan padanya. 

Akan tetapi pemahaman tersebut sering salah didalam menafsirakannya. Ketika dia diberikan hidup penuh kemiskinan, hidup penuh kebodohan, mereka bahagia menerimanya. Mereka ikhlas menjalani kehidupan penuh kemiskinan atau kebodohan. Padahal maksud "menerima apa adanya" bukan berarti harus tetap miskin, harus tetap bodoh. Jika demikian, dan tetap saja kehidupannya tidak berubah, itu malah salah besar dan bukan menerima apa adanya. Tetapi justru saya sebutkan dia putus asa, dia hidupnya pasif. Dia tidak aktif berjuang untuk mengubah kehidupannya. 


Seseorang yang berada dalam keadaan menerima apa adanya, dimaksudkan bahwa saat itu dia harus menyadari bahwa dirinya miskin, menyadari dirinya bodoh. Tetapi bukan berarti membiarkan dirinya terus menerus berada dalam kebodohan atau kemiskinan. Jika dirinya bodoh, maka harus berusaha keras bagaimana mengubah keadaannya menjadi pandai, dengan cara membaca dan belajar terus menerus.

Begitu pula saat diberi kemiskinan, akan berusaha keras untuk bisa mengubah kehidupannya menjadi serba kecukupan. 

Hal itu akan dapat dilakukan jika diawali dengan laku "menerima apa adanya", supaya tidak susah, tidak menderita dan tidak mengeluh.

Sehingga dengan tidak adanya unsur negatif seperti itu, akan membuatnya penuh keprihatinan, serta penuh semangat, penuh perjuangan dan tantangan, untuk mengubah kehidupan nya menjadi lebih baik dari semula.

Semakin besar rasa menerima apa adanya, maka akan semakin besar pula keprihatinan serta perjuangan yang akan dilakukan.

Dan dengan berpikir, belajar, serta berjuang, berarti dirinya akan selalu penuh kegiatan, yang berarti dirinya akan bergerak, dan berkembang, sesuai dengan sifat alam semesta yang juga bergerak dan berkembang. 

Saya yakin jika hal itu dilakukan secara terus menerus walau harus jatuh bangun, niscaya cepat atau lambat, maka dia akan dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Seberapa besar rasa "menerima apa adanya", maka akan sebesar itu pula keberhasilan yang akan dapat diraihnya. 

Jika rasa" menerima apa adanya" tidak ada dalam dirinya, maka yang muncul adalah kesusahan dan penderitaan, serta kekecewaan. Maka lambat laun akan semakin jauh dari keberhasilan, serta akan selalu mengalami kegagalan.

Kesimpulan : jika ungkapan "nrima ing pandum" itu adalah selalu diam didalam kebodohan, dan kemiskinan secara terus menerus, itu sama halnya dengan menyalahkan tuhan atau menganggap bahwa tuhan tidak adil. Serta harus tuhan pula yang mengubahnya. Berarti tuhan yang disuruh aktif, sedang kita tetap pasif tidak berusaha untuk mengubahnya. 


Jika mengatakan bahwa dirinya sudah berusaha untuk mengubahnya, tetapi berkali-kali menemui kegagalan, lambat laun akan menyebabkan dirinya putus asa, dengan mengatakan "barang kali tuhan tidak mengijinkan saya harus berubah". Ini malah mencari pembenaran dan mencari kambing hitam bahwa awak tidak pandai menari, dikatakan lantainya yang berjungkit. Jadi, tujuan bersikap menerima apa adanya, semata-mata untuk selalu mencari pembelajaran didalam dan diluar diri agar bisa mengadakan perubahan terhadap kehidupannya, dari saat kemarin menuju saat kini. Khususnya terhadap kegagalan yang dialaminya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar