Partner | KAENDRA Tour & MICE

Kamis, 02 April 2015

BERSEMBUNYI DIBALIK MAKNA



Apapun predikatnya pada umumnya orang ingin selalu dipuji, sehingga kenapa seluruh ajaran yang ada senantiasa mengarahkan pada sikap dan perbuatan yang baik. Dan tidak ada satupun ajaran yang mengarahkan pada perbuatan jahat dan buruk. Dan celakanya, semakin lama bukan semakin banyak orang yang terpuji dalam arti sesungguhnya. Yang ada malah lebih banyak orang yang berlomba untuk menjadi pengajar kebaikan. Lebih banyak orang yang menjadi pakar dadakan tentang kebaikan yang harus dicapainya. Masing-masing mencoba untuk menjadi panasehat tentang perbuatan baik yang harus dilakukan oleh masing-masing orang. Apa yang terjadi? 


Jumlah orang yang menyebarkan kebaikan lebih banyak dibandingkan yang melakukannya. Dan masing-masing pemberi nasehat tidak sama didalam mengarahkan ajaran kebaikan itu. Mengapa? Karena akan dipengaruhi dengan sikap dan perilakunya sendiri, dengan sejarahnya sendiri, dengan tinggi rendahnya pendidikan yang disandangnya. Termasuk dari budaya yang melekat pada diri mereka. Akhirnya satu sama lain saling berjualan tentang ajaran kebaikan menurut versi mereka. Dengan mengatakan bahwa kebaikan itu adalah apa yang dikatakan atau disampaikannya bukan apa yang disampaikan orang lain.

Semakin banyak pengikutnya akan semakin banyak komunitas yang akan memujinya, bahwa diri penasehat itu orang baik, orang itu patut disuri tauladani. Yang secara tidak langsung akan semakin banyak pundi keuangan dan harta kekayaan mengalir pada dirinya. Dan semakin memperkokoh dengan mendirikan komunitas antar mereka sendiri. Dan mengatakan bahwa kelompok mereka yang benar, sedang kelompok lain tidak benar. Hal itu terjadi karena mereka ketakutan jika ditinggalkan oleh pengikutnya, bukan ketakutan tidak ada orang baik, tetapi takut ajaran kebaikan versi dirinya akan ditinggalkan. Dengan begitu pundi-pundi yang didapat akan berkurang. Sehingga satu sama lain saling serang. Satu sama lain saling hujat untuk mempertahankan pendapat bahwa dirinya adalah kebaikan. Aneh...

Buruk dan baik itu bukan semata apa yang dilihat dan apa yang didengar. Sebab kedua perangkat indra itu, mata atau telinga, bisa ditipu. Keduanya hanyalah menyampaikan teori, keduanya hanyalah kulit belaka terhadap apa yang nampak dan yang didengarnya saja, dan bukan apa yang ada dibaliknya. Seperti apa yang saya sampaikan terdahulu bahwa mata hanya untuk menangkap warna atau benda. Adapun telinga hanya untuk menangkap suara. Titik tidak ada yang lain. Tetapi hampir semua orang lantas menjadikannya suatu adagium bahwa apa yang dilihat dan didengarnya adalah kebenaran, dan kebaikan. Sehingga yang terjadi; jika tanpa melibatkan ketiga indra yang lain ditambah indra keenamnya, tidak akan berfungsi dengan benar. Yang didapat hanyalah keberhasilan terhadap sifat dan sikap yakni #memuji_muji dan #dipuji_puji. Dan keduanya ini hanya bersifat kulit yang penuh kepalsuan, atau bersifat raga, dan bukan isi yang penuh kemurnian, yang bersifat batin. Apa akibatnya? Hampir semua akan berlomba-lomba untuk mementingkan kulit daripada isi, mementingkan nama dari pada jiwa yang tersimpan didalam nama. Sehingga makin lama makin banyak orang yang memalsu nama agar lebih keren, dibandingkan namanya sendiri. Lebih mementingkan nama orang lain yang ternama untuk dijadikan pohon tumpangan, dirinya rela dan bangga sebagai benalu pada pohon lain, untuk hidup dengan menghisap kehidupan orang lain.

Setiap saat yang dipikirkan adalah mencari sebuah nama sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya untuk disandang sesuai keinginannya. Berlomba untuk mencari bahwa dia dahulu kala keturunannya siapa. Adakah darah seorang raja yang mengalir pada dirinya? Adakah darah wali dan para bangsawan merasuk pada dirinya? Lantas untuk apa??? Untuk apa bersembunyi dibalik makna, jika kita hanya akan menjadi pecundang bagi namanya sendiri, yang telah disandang sejak lahir. Kita lebih bangga dengan menggunakan nama orang lain. Kita lebih senang menjadi seorang #demagog bagi pemilik nama asal yang dipakai namanya. Dipakai kulitnya, tapi tidak dengan jiwa dari pemilik nama itu sendiri. Seolah dirinya lebih tahu dari pemilik nama itu sendiri. Seolah dirinya lebih sebagai raja yang telah menyandang namanya. Padahal terkenalnya seseorang bukan karena nama sehingga menjadi raja dan harum namanya. Tetapi karena memang adanya sikap dan prilakunya yang membuat namanya menjadi harum menjulang sepanjang jaman. Sedangkan kita, mungkin hanya pantas sebagai benalu didalam keharuman nama orang tersebut.

Bangkitlah, dan buang segala sifat untuk #memuji dan #dipuji. Gunakan indra-indra yang lain, yang memang ada didalam dirimu. Berpikir dan merenunglah kedalam diri, terhadap apa yang kamu tangkap oleh indra mata dan telinga. Jangan biarkan keduanya memutuskan sendiri. Sebab jika hanya kedua indra itu yang kamu pergunakan, kamu tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, selain hanya kulit tanpa isi. Hanya raga tanpa jiwa. Hidup tanpa kehidupan atau sebagai benalu bagi orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar