Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 30 Maret 2015

KETIKA NAMA SUDAH TAK BERMAKNA



Shakespeare boleh berkata bahwa "apa arti sebuah nama". Karena dia hanyalah seorang penyair dan melihat nama seseorang hanyalah sekedar untuk memudahkan orang lain didalam membedakan antara orang yang satu dengan yang lain. Tetapi menurut saya, nama itu mengandung makna yang amat dalam sekali. Tidak hanya bersifat doa, harapan, atau mengenang sebuah peristiwa belaka, kemudian disandangkan menjadi nama bagi seseorang. Mengapa?


Jangankan sebuah nama yang terdiri dari kata, bahkan 1 huruf pun mengandung makna yang tersembunyi. Karena, ada huruf tentu ada suara, ada sifat, ada warna rasa, serta ada tempat kedudukannya. Jika kita berpikir tentang huruf, atau membacanya secara terus menerus, maka dari huruf itupun akan mengeluarkan energi sebagaimana sifat dari huruf itu sendiri. Dan adanya huruf serta angka bertebaran dialam semesta, lalu kita ambil lewat pikiran manusia, yang juga lewat energi akan menimbulkan suatu lalu lintas energi yang dahsyat, sesuai dengan watak huruf itu sendiri. Huruf-huruf yang semula bersifat non kognitif, kemudian terpilih menjadi koqnitif, lantas divisualkan lewat suara ataupun tulisan. Maka sejak saat itu, huruf tersebut akan menjadi sebuah makna.

 Apalagi jika huruf-huruf itu sudah dirangkum menjadi sebuah kata, lantas dijadikan sebuah nama seseorang, maka seseorang itu akan bersifat seperti makna yang terangkum didalam namanya, serta menyatu dengan dirinya yang sejati. Menjadi nama asli dari manusia batinnya, menjadi nama dari sosok jiwanya.

Penyatuan diri dari sebuah nama terhadap jiwa seseorang, akan terus semakin menyatu sejak dia masih bayi. Dia hanya mengenal nama yang disandang untuk dirinya sendiri.

 Pada saat itu antara nama dan sosoknya masih murni. Dalam artian; antara nama dan dirinya masih seimbang, antara kehidupan alam mikronya dengan alam makro. Serta masih selaras, serasi dan seimbang. Sehingga, apa yang ada didalam dirinya selalu seiring sejalan, antara sifat, habitat, dan kodrat sebagai seorang anak manusia.

Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktunya; ketika nafsu sudah berkembang, unsur "aku" sudah mulai dominan, maka sedikit demi sedikit, anak sudah mulai lupa, bahwa nama yang disandang adalah untuk dirinya sendiri, dan dia akan menggantinya dengan sebutan "Aku; saya; dan lainnya.

Adapun nama yang disandangnya, hanya diperuntukkan bagi orang lain yang ingin mengenalnya, memanggilnya, serta untuk berinteraksi dengannya. Sementara dirinya lebih mengutamakan "Aku". Dengan begitu makin lama sifat yang terkandung didalam nama itu akan semakin terkikis habis, tergantikan sifat yang ada didalam "aku", yang terakumulasi kedalam diri "Aku" sebagai jiwanya. Padahal "aku" nafsu itu hanyalah berupa kendaraan belaka.

Mengapa demikian? Karena didalam nama itu ada makna yang terkandung didalam nya untuk menjadi sifat. Jika nama yang menurut saya sebagai tempat sifat itu dibuang, bagaimana mungkin sifatnya tetap ada didalam? Didalam sifat mengandung energi, setiap energi membutuhkan ruang. Sehingga jika ruang untuk energi tidak ada maka akan berganti didalam diri "aku" yang tidak lagi kita kenal seperti saat kita memiliki nama itu. Bahkan lebih akrab orang diluar raga yang lebih mengenal nama dan watak kita, dibandingkan dengan diri kita sendiri.

Padahal, dengan nama yang kita sandang itu adalah supaya kita selalu menyatu antara nama dan perbuatan, serta sikap dan prilaku. Namun kenyataannya, Nama dan perbuatannya bertolak belakang dengan apa yang diperbuatnya. Sehingga tidak kaget ketika kita melihat seorang yang namanya penuh keselamatan tapi didalam kehidupan sehari-harinya selalu tidak selamat, selalu susah bahkan ada orang yang dipenjarakan, padahal namanya tidak ada takdir nya untuk dipenjarakan. Ada nama yang berarti penuh keindahan, tapi hidupnya penuh dengan kejelekan, dsn penuh penderitaan, serta membuat orang lain celaka. Dan masih banyak lagi contoh-contoh orang yang tidak malu menyandang nama yang indah tetapi tidak sesuai dengan nama yang disandang. Itulah yang saya sebutkan dengan orang yang sudah tidak mengenali namanya sendiri, punya nama tapi sudah tidak lagi bermakna.

Kesimpulan : kenalilah namamu sendiri secara terus menerus, sampai apa yang terkandung didalam namamu akan bermakna bagi jiwamu, sehingga antara nama dan dirimu ada satu adanya, dan bukan yang bermakna ganda antara nama dengan sikap dan prilakunya. Selalu panggillah namamu sendiri untuk dirimu dan bukan untuk orang lain, seperti selama ini yang kau lakukan. Sehingga mereka lebih mengenalmu dibanding dirimu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar