Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang kehidupan dunia adalah merupakan jembatan dari kehidupan akherat.
Yang sering menjadikan perdebatan dan perbincangan yang seru adalah ketika masing-masing orang memberikan gambaran bahwa alam akherat itu adalah kehidupan setelah manusia mati ketika ruh dan jiwa terpisah dari raganya. Namun demikian, saya tidak akan membahas kehidupan setelah saya mati, atau kita semua telah tiada dimuka bumi ini. Mengapa? Karena saya belum pernah mati dengan sebenar-benarnya mati, yang menurut saya tidak ada gunanya sama sekali. Dan yang saya bicarakan adalah saat saya berada dimuka bumi sampai saya meninggal dunia. Ketika nyawa sudah lepas dari raga.
Menurut saya, bicara tentang alam dunia, adalah bicara tentang alam lahir atau alam raga. Sedangkan alam akherat adalah alam batin. Jadi bicara dunia dan akherat adalah bicara alam raga dan alam batin.
Apa yang dimaksud alam raga atau dunia itu? Adalah keberadaan kita saat ini, detik ini, dan bukan nanti sore atau besok pagi. Sebab segala sesuatu yang masih belum terjadi, adalah masih merupakan rahasia, masih merupakan waktu yang akan datang. Dalam artian masih belum kita alami, sehingga saya sebut alam batin. Adapun waktu yang telah berlalu, adalah merupakan alamnya rasa dan perasaan yang telah terakumulasi didalam suatu perbuatan atau karma. Yang kemudian kita jalani pada detik ini. Siapa yang menjalani karma itu? Adalah jiwa kita yang berada sampai saat ini, bukan nanti atau esok hari. Apa yang dijalani oleh jiwa? Adalah bangunan nafsu yang telah tercipta sebelumnya, menjadi warna rasa dan perasaan yang telah terbentuk dalam suatu perbuatan atau karma menjadi suatu kenyataan saat ini.
Selanjutnya, alam akherat atau hari kemudian, adalah jika saat ini kita berpikir, berencana kemudian berbuat sesuatu apapun, akan tercipta suatu perjalanan karma itu sendiri. Yang nantinya akan dirasakan pada saat akan datang. Bisa nanti sore, bisa besok pagi dan bisa kapan saja sesuai dengan perjalanan waktu itu sendiri. Dan untuk lebih memudahkan didalam perenungan; kita anggap perjalanan air dari hulu menuju hilir. Saat air mulai mengalir dari hulu sampai titik atau jarak tertentu, ada kotoran, ada sampah, ada hambatan dan lainnya, itulah yang saya sebut kehidupan air pada saat itu. Air yang semula warnanya bening dan bersih, telah berubah menjadi keruh, berubah warna dan rasa, serta unsurnya. Perubahan bentuk terhadap air itulah yang saya sebut dengan kehidupan. Begitu pula dengan diri manusia.
Berbeda dengan air yang mengalir secara alami sesuai dengan kodrat dan sifat yang dihadapi diperjalanan menuju samudra, merupakan alam keabadian bagi air. Sedang manusia; perjalanan karma didalam mengisi kehidupannya ditentukan oleh manusia itu sendiri, sejak dia lahir sampai mati.
Apa yang harus didahulukan oleh manusia? Adalah kehidupan alam raganya yaitu dunia saat ini, dan bukan nanti atau besok pagi. Bagaimana dan dengan apa mengisinya? Adalah dengan berpikir saat ini, serta melaksanakan apa yang menjadi pikiran, sambil merasakan apa yang akan dijalankan. Sehingga hasil akhir yang dirasakan akan dirasakan oleh alam batin dikemudian harinya. Seperti halnya saat ini saya mengalami susah; maka jika dihitung pada beberapa waktu yang lalu, hari ini adalah merupakan alam akherat atau hari kemudian.
Begitu pula jika hari ini saya bahagia, jika dilihat dari sebulan yang lalu, maka hari ini merupakan hari kemudian yang penuh kebahagiaan.
Intinya adalah : masa lalu itu merupakan karma yang akan kita jalani saat ini. Dan saat ini, merupakan jembatan dari dunia(alam raga) untuk menuju masa depan/hari kemudian/hari akherat bagi alam batin. Sehingga kesimpulannya adalah, alam dunia adalah alamnya raga, sedangkan akhirat adalah alamnya manusia batin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar