Partner | KAENDRA Tour & MICE

Sabtu, 28 Maret 2015

PASANG SURUTNYA KEIMANAN



Banyak orang bertanya mengapa keimanan seseorang bisa pasang surut? Ada orang bilang bahwa. Semua itu terjadi karena kurang yakin, sehingga imannya naik turun. Memang betul karena adanya kurang yakin pada imannya, tetapi apa yang harus diyakini terhadap iman itu?

Iman ; adalah merupakan pedoman dasar sebagai pendulum bagi setiap manusia. Dan pedoman dasar ini ada 2 yakni diluar raga dan didalam raga. 

1.Keimanan diluar raga : Adalah segala hal yang menyangkut masalah akal dan pikiran yang ada kaitannya dengan panca indra. Kalau yang diluar raga, sifatnya umum dan bisa menjadikan pedoman seluruh orang yang mempercayai, ataupun tidak mempercayai. Serta sudah dipakai tolok ukur secara massal. Seperti halnya arah mata angin, musim atau iklim, alat untuk ukuran ketinggian dan kedalaman, suhu udara, dan lain-lain.

2.keimanan didalam raga : adalah segala hal yang menyangkut masalah warna rasa. Didalam hal yang menyangkut masalah rasa sifatnya adalah khusus, serta tidak bisa dipelajari oleh orang lain, selain orang yang mengalami sendiri. Karena semua hal yang bersifat rasa adalah segala hal yang menyangkut perasaannya sendiri, untuk dijadikan keimanan atau pedoman dasar bagi dirinya sendiri.

Mengapa keimanan bisa pasang surut? Terlepas dari sadar atau tidaknya seseorang, iman atau pedoman itu pasti pasang surut. Hal itu dikarenakan alam semesta ini selalu bergerak dan berkembang. Apa kaitannya dengan masing-masing manusia? Itu disebabkan karena manusia hanya pada saat masih belum berbentuk sampai berbentuk saja yang bergerak dan berkembang. Maksimal dalam kurun tertentu yakni sampai usia dewasa. Setelah itu manusia tidak akan berkembang lagi, dan hanya bergerak saja. Baik terhadap raga lahir maupun raga batinnya. 

Pada saat raga lahir dan batin masih sama-sama bergerak dan berkembang, tolok ukur keimanan masih serasi, selaras dan seimbang dengan pergerakan dan perkembangan alam semesta. Sehingga kenapa anak-anak itu disebut masih suci, masih tidak memiliki dosa. Hal itu karena pertumbuhan lahir dan batin anak masih maching dengan pertumbuhan alam semesta dalam hal bergerak dan berkembang, sejak dari bubur sel manusia itu sendiri. Itupun jika diri manusia tidak bermasalah, atau dalam keadaan normal. Tidak dalam keadaan sakit, tidak dalam keadaan susah. Sebegitu manusia tidak tumbuh normal lahir dan batinnya, maka keimanan itu akan terjadi pasang surut, sesuai dengan eksistensi sarang iman itu sendiri. Dimanakah sarang iman? Adalah didalam jantung atau hati. 

Sebagaimana yang pernah saya tuliskan pada status terdahulu bahwa didalam jantung manusia ada dua titik atau nokhtah, yang terletak di serambi kanan atas dan serambi kanan bawah. Sedangkan keimanan itu harus selalu maching antara yang didalam diri dgn alam semesta.

Disaat alam semesta bergerak dan berkembang, maka 2 titik dalam jantung manusia harus selalu mengadakan penyesuaian terhadap arus ulang alik diantara keduanya, mengikuti perkembangan alam semesta. Ketika tidak sesuai, sudah barang tentu akan menimbulkan masalah, seperti halnya susah, senang, marah, dan lainnya.

Sama halnya kedudukan bulan, matahari, bintang dan benda-benda alam lainnya, bukankah mereka tidak selalu berada pada 1 tempat? Melainkan selalu berpindah sesuai dengan garis edarnya. Tetapi ada satu hal yang dilupakan yaitu apa yang dialam semesta akan semakin melebar dan menjauh dari jarak semula jika diukur dari bumi. Sehingga daya tarik menariknya juga semakin berbeda besarannya.

Sedangkan manusia, lahir maupun batinnya sudah tidak lagi berkembang, selain hanya bergerak belaka. Maka secara otomatis menyebabkan hubungan keimanan didalam diri tidak lagi maching dengan keimanan alam semesta.  

Dari sinilah awal mula adanya suatu petaka. Kenapa? Karena keimanan yang biasa dijadikan acuan tahu-tahu sudah tidak sesuai lagi, dan yang jadi pedoman sudah tidak lagi pada tempatnya. 

Dan saat matahari sampai dipuncak titik kulminasi sekitar pukul 12.00 siang hari, kenapa manusia dilarang berada dibawah terik mentari? Hal itu karena kita berdiri tegak dimana kepala ada diatas sehingga dikhawatirkan titik keimanan didalam diri dalam keadaan tidak seimbang, kemudian energi didalam diri akan tertarik pula keluar. Dan dan dari sini asal mula kenapa semakin lama banyak anak-anak kesurupan, atau ketempelan makhluk halus. 

Oleh karena itu kenapa ada pembelajaran agama, ajaran spiritual dan lain-lainnya. Hal itu adalah untuk menyelaraskan unsur keimanan antara diluar dan didalam. Karena fungsi ajaran ketuhanan itu semata-mata hanyalah untuk membentuk #unsur_kesadaran didalam diri. Dan hanya lewat kesadaran diri sajalah yang akan bisa mengetahui pusat keimanan yang benar antara didalam dan diluar diri. Akan tetapi didalam kenyataannya bukan ajaran ketuhanan yang disampaikan, melainkan ajaran agama yang diajarkan. Sehingga yang muncul bukan kesadaran tentang tuhan. Melainkan ajaran tentang budaya dari manusia yang lain, sehingga akan terbentuk suatu komunitas budaya, dari komunitas etnis tertentu. Padahal masalah keimanan adalah untuk pribadi atau individu yang ada didalam dirinya, terhadap keimanan yang ada disemesta. Dan bukan yang dari budaya diluar raga yang dimasukkan kedalam dirinya. Sehingga dengan demikian, kita semakin tidak akan pernah bisa mengenal tuhan sebenar-benarnya tuhan, lantaran keimanan yang pernah ditanam didalam dirinya juga telah hilang dimakan jaman. 

Jika keimanan telah hilang, tentu kita akan juga kehilangan arah didalam menuntun jiwanya menuju imannya pada alam semesta. Akibatnya, bagaimana mungkin bisa mengarungi dunia jika diri dalam keadaan buta sehingga akan selalu penuh kegelapan sepanjang hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar