Jika nonton film tentu semua orang secara tidak sadar merasa seolah dirinya itu sebagai pemeran utama. Begitu pula ketika kita membaca novel, semua akan tertuntun dan terfokus sebagai pemegang peran, seperti yang ditulis oleh pengarangnya. Sehingga, ketika ceritanya berakhir, sifat dan pembawaan tokoh itu masih melekat kedalam diri. Walaupun nontonnya hanya maksimal 2 jam akan bisa menceritakan kembali kisahnya secara runut. Begitu pula saat membaca novel, akan bisa menceritakan kembali pada orang lain. Tanpa ada yang salah.
Terutama, jika kita membaca novel, akan jauh lebih menyatu terhadap sosok pelaku dalam keadaan apapun. Serta kita akan merasakan situasi dan kondisi yang dialami pelakunya lebih sempurna dibanding ketika nonton film.
Mengapa bisa begitu??? Karena pengarang suatu novel, hatinya yang dipakai untuk menulis. Serta tidak melibatkan orang lain, selain dirinya sendiri sebagai penulis, sekaligus sebagai pelaku, dari seluruh sifat yang menjiwai tulisannya. Sehingga siapapun yang membaca, walaupun sejuta orang sekalipun, maka sejuta orang pula yang merasakan hal yang sama, yang dialami pelaku saat itu. Jika pelaku ketakutan, kita selaku pembaca juga merasakan ketakutan yang sama. Ketika pelakunya menderita, kita akan hanyut pula pada penderitaan itu.
Tetapi, ketika kita tidak membaca sendiri melainkan diceritakan orang lain, tentu hasilnya tidak akan sama. Walaupun yang bercerita itu benar-benar hebat, terkecuali cerita itu disampaikan oleh penulisnya sendiri.
Begitu pula halnya kitab suci bagi masing-masing penganutnya.
Jika cerita novel saja bisa membuat para pembacanya terhanyut, semestinya kita akan lebih terhanyut pada kitab suci. Apalagi segala apa yang tercantum didalam kitab suci yang dipercaya sebagai wahyu dari tuhannya masing-masing.
Sepanjang kita menyatu terhadap kisah yang ada didalam kitab agama tersebut sudah pasti kita akan bisa mengalami keadaan, warna rasa, serta segala hal kejadian yang dialami oleh pelaku dalam kitab itu sendiri. Siapakah pelaku didalam kitab suci itu?? Dialah nabi dan rasulmu sendiri.
Namun didalam kenyataannya, tidak setiap orang, bahkan sebagian besar pembaca kitab hanya sekedar membaca serta tidak bisa menyatu, dikarenakan tidak mengenal bahasanya, dan tidak pula mengenal siapa pengarangnya.
Dan semestinya lewat unsur keimanan yang tersimpan didalam hati masing-masing; bahwa pengarang kitab itu adalah tuhan para ummat, kemudian mengerti bahasanya, serta membaca dengan hati, pasti kita akan merasakan seolah diri kita adalah pelaku sejarah itu. Dan kita akan merasa seolah firman itu kita dengar sendiri dari tuhan.
Selama ini banyak diantara kita masih membaca dan mendengar melewati orang lain, serta dijelaskan orang lain, sementara kita hanya menjalani saja seperti robot. Sehingga, bagaimana mungkin kita bisa menyatu dengan apa yang dimaksud didalam ayat-ayat firman yang diterima para nabi?? Yang ada, hanyalah segala kata, yang disampaikan oleh mereka yang menyadur kitabnya. Atau kita hanya mendengar cerita dari telinga belaka. Jika kita menyatu, maka penyatuan itu bukan kepada nabinya, apalagi tuhannya. Tetapi kepada orang lain penyampai turunan ayat-ayat firman yang bukan merupakan pelaku sejarah yang mengalami sendiri. Terlebih lagi, mereka tidak terlahir pada jaman ketika ayat-ayat firman itu datang.
Bagaimana mungkin kita bisa menyatu dengan firman yang disampaikan orang lain yang jelas-jelas bukan penerima firman itu sendiri????
Tetapi jika dirimu membaca firman itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar