Partner | KAENDRA Tour & MICE

Sabtu, 04 Juni 2011

ISLAM MERUPAKAN MADRASAH HATI DAN JIWA


                Kenapa saya mengambil judul Islam merupakan madrasah Hati dan Jiwa? Hal itu karena, masih banyak yang salah kaprah didalam memahami, dan menjalani agama. Dianggapnya kalau orang tua kita agama Islam, maka anak-anak secara otomatis sudah Islam. Apakah sudah cukup, bahwa dengan sahadat, sholat, puasa, zakat dan haji, lantas kita sudah dikatakan Islam? Dan, apa sudah selesai, jika dengan mengerjakan 5 rukun Islam secara rutin, kita dijamin masuk surga, serta penuh keselamatan dunia akherat? Mari kita renungi, dan kita bahas bersama-sama.

                Seseorang, disaat masuk sekolah, tentu mempunyai tujuan supaya mendapatkan ilmu, dari bodoh menjadi pandai. Kepandaian ini juga ada tingkatan. Mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, sampai akhirnya menuju ke perguruan tinggi. Minimal membutuhkan waktu 18 tahun. Belum lagi kalau ingin melanjutkan ke strata 2, strata 3, sampai menyandang professor. Dan, itu bukan berarti lantas diam, serta tidak mengembangkan ilmunya kedalam praktek. Bahkan juga, tidak masuk akal jika kita sudah menjadi profesor, ditulis didalam kartu penduduk, lantas seluruh anak-anak kita, juga menjadi professor jika tidak melalui proses sekolah seperti kita.


                Begitu pula didalam kita memahami, dan memeluk agama. Tidak cukup hanya menjalankan 5 rukun Islam, seperti apa yang saya sebutkan diatas. Pendidikan umum yang biasa kita alami, semata-mata untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara empirik saja. Serta, hanya diperuntukkan bagi akal dan pikiran saja.
Sedangkan agama, yang dipelajari tidak hanya pendidikan empirik, tetapi juga non empirik. Bahkan juga, tidak hanya terbatas pada hal-hal yang sifatnya khusus dalam satu disiplin ilmu. Melainkan, mempelajari secara menyeluruh dan universal, termasuk didalamnya pengetahuan tentang alam semesta, kausa prima, budi pekerti, dan lain-lain. Dan agama, diperuntukkan bagi hati dan jiwa, selaku pengendali akal dan pikiran manusia. Sehingga dengan demikian pendidikan yang dicapai oleh akal dan pikiran akan serasi, selaras dan seimbang dengan apa yang didapat oleh hati dan jiwa.


Disamping itu, sekolah mengajari orang bodoh menjadi pandai, serta memiliki guru yang banyak. Masing-masing guru memegang satu mata pelajaran. Jika dimulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, berapa puluh guru yang mengajar kita? Sedangkan didalam agama hanya satu guru, yang tidak pernah berganti-ganti sampai kiamat yaitu Tuhan. Jika didalam sekolah, yang menjadi buku pedoman amat banyak sekali. Bahkan bisa melebihi seratus buku. Itupun dalam tiap tahun ajaran, buku yang lama sudah tidak bisa dipakai lagi oleh adik kelasnya. Sedangkan didalam agama, hanya satu buku sepanjang jaman, yakni Kitab suci masing-masing. Didalam Islam kitab yang dipakai adalah Al Qur’an al karim. Kitab ini merupakan kitab yang fleksibel, dan berlaku sejak awal diciptakan, sampai disaat hari kimat tiba. Saya katakan fleksibel, karena seluruh ilmu pengetahuan didunia ada didalamnya. Bahkan, sebelum ilmu pengetahuan belum sampai, tetapi didalam Al Qur’an telah dijelaskan secara terperinci. 

Terbukti dengan penemuan ilmu pengetahuan modern, mulai dari yang sub atomic sampai makro kosmos, sudah dijelaskan didalam Al Qur’an ribuan tahun yang lalu. Terlebih lagi didalam ilmu kedokteran, semua akhli kedokteran sering mengambil referensi didalam Al Qur’an untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru. Begitu juga Ahli kosmografi, akhli kimia, biologi dan lain-lain. Sehingga dengan demikian, saya mempunyai kesimpulan bahwa Islam adalah merupakan madrasah yang multiguna serta universal  terhadap hati dan jiwa manusia.


Didalam QS. Al Alaq(96) : ayat 4-5 ditulis “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia, terhadap segala hal yang tidak diketahuinya”. Kata mengajar, menunjukkan bahwa, hanya Tuhan sendiri yang menjadi guru. Tidak ada yang lain. Selanjutnya , didalam QS. Al Baqarah(2): 79 disebutkan : “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”. 

Dari Firman Allah ini, menunjukkan adanya suatu peringatan bagi siapapun yang mencoba untuk menjadi guru atau pengajar, selain Allah itu sendiri. Kenapa? Karena bidang atau materi yang menjadi bahan pelajaran adalah multi komplek, serta kepada hati dan jiwa manusia. Sedangkan para pengajarnya masih memiliki hati dan jiwa yang dipenuhi nafsu, yang tentu akan subyektif. Dan kita tahu, bahwa karakter jiwa bisa mengarah kepada hal yang baik, dan bisa mengarah pada hal yang buruk, tergantung adanya pengaruh dari hati masing-masing orang. Disamping itu, bila masing-masing manusia menjadi pengajar, dikhawatirkan akan menimbulkan banyak perbedaan yang multi tafsir. Sehingga akan menimbulkan perselisihan tidak hanya terhadap murid-muridnya, tetapi juga akan melibatkan pada semua guru pengajarnya. Akhirnya, akan menimbulkan banyak kelompok, menimbulkan bermacam ajaran, yang justru akan semakin menjauhkan terhadap kemurnian maksud dan tujuan agama itu diberikan. Terlebih lagi Rasul selaku asisten dosen(Allah) yang dipercaya telah lama meninggal dunia. Sehingga tidak ada wasit yang akan menilai siapa yang benar, dan siapa yang salah. Keadaan ini diperparah dengan munculnya ajaran, yang mengaku agama dengan memakai nama kebesaran agama tertentu. Baik itu dari kalangan Kristen, maupun dari kalangan Islam sendiri.


Untuk itu, Allah telah mengantisipasi dengan beberapa ayat antara lain didalam QS. Al A'raaf(7): 3 yang berbunyi : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Juga didalam QS.Al.Baqarah(2) : 99 disebutkan : Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.  Firman Allah ini didukung lagi dengan QS.Al.Furqaan(25) :29- 31.


                Jadi, dengan adanya Firman Allah diatas menunjukkan pada kita. Bahwa kita hendaknya belajar pada Allah itu sendiri bukan kepada yang lain. Kita sebagai murid hendaknya mempelajari terhadap buku yang diciptakan oleh Allah sendiri, penerbitnya adalah Nabi Muhammad yang dicetak lewat penerimaan wahyu yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Hal ini seperti tersebut didalam QS. AnNajm(53) : 3-6 yang berbunyi : Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Jo. Ayat 10; “Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”.


                Dengan penjelasan wahyu diatas, maka telah jelas bagi kita untuk selalu belajar hanya kepada Allah. Masing-masing orang dituntut untuk mempelajari Al Qur’an yang merupakan satu-satunya kitab dari Allah, agar nanti disaat kita menghadapi ujian yang diberikan Allah kepada kita, tidak akan mengalami kesusahan. Selama ini, banyak sekali orang yang didalam perjalanan hidupnya, senantiasa mengalami kesusahan dan penderitaan. Kenapa? Karena, mereka sama sekali tidak pernah mau mempelajari dan memahami apa yang seharusnya dilakukan. Sebagaimana murid sekolah, atau mahasiswa, tentu sedikit banyak akan mempelajari apa yang diajarkan di sekolah atau di perguruan tinggi. Disaat akan ada ujian, mereka berlomba-lomba belajar bahkan rela bermalam-malam tidak tidur, agar ujiannya bisa lulus, dan mengharap mendapat nilai yang tinggi. Padahal yang menguji hanyalah manusia biasa seperti kita. Sedang yang didapat, hanyalah wujud selembar kertas diploma. Dan itupun, masih belum tentu bisa kita pakai untuk mendapat pekerjaan. Belum tentu bisa menghasilkan uang atau kekayaan. Padahal berapa uang yang dikeluarkan untuk beaya sekolah dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi? 


Sedangkan didalam madrasah hati dan jiwa yang didirikan Allah, tidak satu sen yang dikeluarkan. Namun kita tidak mau mempelajari, berpikir, memahami dan menerapkan pada kehidupan sehari-hari. Amat ironis sekali. Terlebih lagi, bagi mereka yang membaca tidak mengerti artinya. Bagi saya walaupun satu juta kali membaca, jika tidak mengerti artinya, tidak akan mendapat manfaat apapun. Kendati bacaan itu dilantunkan dengan suara yang indah, bahkan sampai menangis mencucurkan air mata sekalipun. Mereka dikatakan binatang ternak oleh Allah, yang artinya mempunyai hati dan akal, tetapi tidak pernah dipergunakan sama sekali. 

Seperti bunyi QS. Al Furqaan(25) :44 “ Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”.
Jo. Al Hajj( 22):46. “Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.


                Jadi tugas kita sebagai murid dari madrasah hati dan jiwa ini, diperlukan beberapa hal yakni, kita sebagai pelajar madrasah itu, haruslah senantiasa berpikir tentang Tuhan, tentang ciptaannya seumur hidup kita. Agar disaat kita mendapat ujian atau fitnah, musibah, penderitaan dan lain-lain, kita bisa mengatasi dengan baik. Serta, sudah tidak lagi kebingungan dan mengalami kesusahan mengerjakan soal ujian yang diberikan Tuhan sebagai penguji tunggal. Seperti bunyi QS. Ali 'Imran(3) : 190-191: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal ;
 (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka".

                Kesimpulan akhir dari tulisan ini, adalah bagaimana kita mendidik hati dan jiwa. Disamping mengerjakan rukun Islam seperti yang biasa kita lakukan sehari-hari, juga senantiasa berpikir, memahami, kemudian berdzikkir(mengingat Allah), serta melaksanakan apa yang didapat dari hasil perenungan tentang Tuhan dan ciptaan Tuhan, sejak berada didalam madrasah kehidupan. Sedangkan beaya madrasah, adalah dengan bekerja, dan melaksanakan sifat Tuhan itu, menjadi suatu perbuatan kita sebagai manusia. Adapun untuk mengetahui lulus dan tidak, hanya dengan melihat apa sikap hati dan jiwa kita, disaat menerima ujian atau cobaan. Sedang referensinya  hanya 1, yakni ; Al Qur’an yang berisi petunjuk, jawaban soal, dan hasil akhir, sebagai penilaian dari diri kita sendiri. Berupa keadaan hati dan jiwa, disaat menerima cobaan sampai akhir cobaan itu berlalu.

                Demikian, dan saya tutup dengan QS.Al Baqarah(2); jo. QS. Al Maidah(5) : 69.  :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. 

Semoga mendapat manfaat.



























"I




Tidak ada komentar:

Posting Komentar