Saat kita menolong seseorang, baik sakit, mencarikan jodoh, kerasukan jin, dan lain-lain. tentu didalam hati ingin agar orang yang ditolong itu berhasil. Semakin ikhlas tanpa pamrih akan semakin banyak berhasilnya. Mengapa?
Baik apapun variabel yang dijadikan rujukan, atau panduan, sadar ataupun tidak, pada saat konsentrasi lewat samadhi dan lain-lain, sesungguhnya akan mendownload energi yang dibutuhkan untuk disalurkan terhadap client. Sifat energi yang ada apapun jenisnya, pasti merupakan sifat Tuhan itu sendiri(ini bagi yang menjalani suatu ajaran).
Dan sifat yang dibutuhkan itu kita ambil dari hati(jantung), untuk dimasukkan dalam pikiran, untuk dikelola oleh otak sadar maupun otak sadar. Aliran sifat ini berwujud rasa, masuk kedalam liver menjadi perasaan, kemudian masuk menuju pikiran berbentuk angan-angan Atau istilah saya otak kiri dan otak kanan.
Dari sini akan muncul petunjuk, apakah lewat penyaluran lewat telapak tangan, ucapan, atau lewat media, berupa bisikan/suara/gambaran, tentang apa yang harus dilakukan oleh client.
Sebegitu berhasil, maka sifat yang dipergunakan tersebut akan langsung termemory diotak bawah sadar. Mengapa? Karena kita yg menolong sudah membuktikan sendiri bahwa orang tersebut berhasil ditolong. Sehingga sudah menjadi kesaksian(bersahadat). Begitu seterusnya, dimana setiap ada orang yang meminta tolong, akan selalu mendownload energi yg mengandung sifat tuhan yang dibutuhkan. Dimana sifat tuhan itu begitu banyaknya dan tidak terhingga.
Dan pada masing-masing orang yang datang, tentu masalahnya berbeda. Atau bahkan walaupun masalahnya sama, belum tentu sifat tuhan yang dibutuhkan juga sama. Semakin sering kita mendownload sifat yang berbeda, tentu akan semakin banyak pula ragam sifat yang termemori diotak bawah sadar. Sehingga jika suatu saat kita butuh, dari otak bawah sadar, energi itu bisa kembali di instal. Sebab, otak bawah sadar merupakan wadah dari master sifat tuhan yang telah didownload.
Yang menjadi masalah; saat orang meminta tolong pada kita, disuruh membayar atau dimintai ongkos sebagai imbalan, apalagi sebelum ditolong, ini justru akan fatal. Mengapa? Karena jenis energi yang ada pada uang, berbeda jauh dengan energi tuhan yang asli dialam semesta. Sebab uang adalah ciptaan manusia. Saat terjadi kesepakatan, maka yang berupa uang atau barang ikut dimind set kedalam pikiran.
Disatu sisi kita butuh memindset sifat tuhan untuk menolong, disisi lain me mindset imbalan dari orang tersebut untuk menolong kita. Secara akal sehat energinya bertolak belakang. Yang satu unsurnya min yang satu unsurnya plus. Andaipun saat pertolongan itu berhasil, namun tidak ada satupun yang bisa termemori diotak bawah sadar. Jika ada, yang tersimpan adalah unsur min.
Bila hal ini terus menerus dilakukan, apa yang terjadi? Sifat tuhan yang semula didalam otak bawah sadar cukup banyak, berbentuk energi positif, akan tergerus, dengan energi negatif yang ikut tersimpan didalamnya. Yakni energi uang atau barang tersebut sebagi virusnya.
Jika sudah demikian, lantas mungkinkah kita bisa berhasil lagi menolong orang? Sementara untuk menolong dirinya sendiri saja pasti tidak akan mampu. Sehingga, uang atau barang yang telah didapatkan akan terkikis sedikit demi sedikit, untuk memenuhi kebutuhannya. Apalagi jika saat itu menimbulkan susah, kecewa, amarah dan lain-lain, maka energinya tersebut akan ikut termemory didalamnya. Akhirnya seperti halnya istilah komputer akan menjadi lemot, karena banyak sampah energi didalam pikirannya.
Tetapi, jika kita tidak meminta ataupun mengharapkan imbalan, yang muncul justru energi murni/hawa murni. Yang akan selalu menuntun untuk memasukkan sifat tuhan manakah yang lebih tepat dijadikan pola pikir untuk didownload. Sehingga semakin lama, simpanan sifat, dan besaran energinya, bisa tidak terhingga didalam memory. Dan jika sifat energi murni ini merasuk, sudah pasti pasangannya yang datang adalah anti energi. Yang jika digabung, bisa menjadi energi makna atau hikmah yang selalu membuahkan unsur kasih pada sesama.
Jika hal ini sudah dimiliki, apa mungkin akan melarat, apa mungkin kalah dengan mereka yang membuka tarip? Dan apa mungkin pula butuh memasang iklan, serta ada musuh, selain dari dalam dirinya sendiri. Lalu bagaimana jika kita butuh dan kata orang dia hebat? Lebih baik tinggalkan, dan cari pertolongan lain. Apa sebabnya? Menolong diri sendiri saja masih pakai iklan, berarti apa mungkin orang yang tidak percaya diri bisa menolong orang?
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar