Partner | KAENDRA Tour & MICE

Minggu, 19 Oktober 2014

FRASA " TERIMA AKU APA ADANYA "



"Terima aku apa adanya, kusayang kau juga apa adanya" itu bunyi sepenggal lagu, yang seolah begitu indah didengar, tetapi amat sangat pedih, dan sumbang jika orang tersebut menjalaninya. Mengapa?  

Menurut saya istilah tersebut tidak tepat dan justru akan menunjukkan sikap yang bersayap didalam diri seseorang. Sepertinya ingin menunjukkan bahwa dirinya benar dan rendah hati. Padahal dibalik itu ingin menunjukkan bahwa dirinya orang yang posessif serta egosentris. Dimana setiap hal yang berkaitan dengan dirinya, maka orang lainlah yang harus menerima dirinya apa adanya, baru diapun akan menerima apa adanya. 


Dengan demikian, orang tersebut lebih sombong dari Tuhan itu sendiri. Lho koq begitu ? Karena, Tuhan selamanya akan selalu menyerahkan semua itu apa kata hambanya. Apa yang dikehendaki hambanya, maka begitu pula yang dikehendaki Tuhannya. Dalam artian; bahwa hamba harus aktif stelsel, dan Tuhan mengabulkan sesuai dengan sikap dan tindakan yang dikerjakan oleh hambanya itu sendiri, bukan terhadap apa yang dikatakan, baik lisan maupun dalam hati.

Sementara, jika bilang " terima aku apa adanya", menunjukkan bahwa orang lain yang harus mengerti dulu, baru dia mau mengerti. Yang berarti bahwa orang lain yang harus berbuat lebih dulu, baru dirinya akan berbuat. Dan jika hal ini dijadikan sikap dan prilaku sehari-hari, maka tidak akan mengherankan, bahwa dia tidak akan pernah bisa berinteraksi sosial dengan siapapun. Dan dia ingin selalu menjadi pusat perhatian. Sehingga apabila dia menjadi seorang pemimpin, akan mengalami kegagalan, lantaran dominasi perhatian selalu pada dirinya. Dan bukan pada siapa yang dipimpinnya.

Orang-orang semacam ini, pada umumnya akan selalu menyalahkan orang lain disaat mengalami kegagalan. Bahkan ironisnya, disaat gagalpun akan mengatakan berhasil, dan akan selalu memuji bahwa dirinya berhasil. Serta, akan mengatakan bahwa orang lain telah berkhianat. Padahal, dirinyalah penyebab utama yang membuat orang lain berkhianat. Sehingga jika dia ditinggalkan, akan menyulutkan dendam untuk menjatuhkan orang yang dianggap berkhianat, dengan menghalalkan segala cara, sampai orang itu hancur. Dan semua apa yang dilakukan terlihat seperti elegan, namun sesungguhnya dia bisa mencelakai, atau bisa membunuh dengan senyuman.

Semestinya, sebagai orang yang memiliki hati berbuatlah yang terbaik, mengalir sesuai intuisinya demi kebermanfaatan bagi orang lain, dan bukan orang lain yang disuruh bermanfaat bagi dirinya. Jika tidak, saat ini sudah waktunya untuk tumbang, serta akan mengalami kehancuran yang berkepanjangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar