Katanya, tuhan itu maha kaya raya, dan semua itu adalah untuk ummatnya, tetapi kenapa banyak ummat yang miskin? Katanya segala permohonan akan dikabulkan, tetapi kenapa masalah justru semakin banyak??? .
Katanya jika sabar dan selalu bersyukur, akan membuat diri kita bahagia, dan makmur, tetapi kenapa hidup makin susah dan menderita??
Katanya, siapa yang menanam akan menuai. Katanya agama itu membuat kedamaian, dan menjauhkan dari kekacauan serta kekerasan. Katanya sembahyang itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Katanya tuhan itu maha tahu, tetapi kenapa kejahatan dan kekejian semakin meraja lela. Katanya semua orang yang berbuat baik akan mendapat pahala, tapi kenapa yang berbuat dosa malah jaya? Sedang yang jujur menderita??
Jika semua sudah atas dasar katanya, tetapi tidak pernah mau membuktikan apa yang disebut dengan #katanya, bagaimana mungkin akan mendapat kejelasan??
Semua apa yang dikatakan dan didengar, serta dibaca, haruslah dipikirkan dan direnungkan. Kemudian untuk dibuktikan. Terutama, jika hal itu menyangkut suatu ajaran ketuhanan, masing-masing orang kedudukannya adalah sama. Tidak ada satupun yang boleh mengatakan bahwa dirinya paling benar. Apalagi jika yang menyampaikan suatu ajaran itu juga sama, yakni masih berdasar atas nama "katanya".
Apapun alasannya, seseorang tidak boleh memberikan penegasan serta menekankan suatu keyakinan pada orang lain, jika dirinya sendiri belum pernah menyaksikan sendiri apa yang dikatakan. Jika semua itu hanyalah berdasarkan dari sebuah kitab yang dibacanya, semestinya dirinya sendiri yang harus membuktikan dulu, dan bukan menyuruh orang lain. Apalagi jika seluruh isi kitab itu dibacanya dan dihafalkan, tetapi tidak ada satupun yang dilaksanakan dan dipraktekkan sendiri.
Kenapa masing-masing orang tidak mau berpikir?? Dan kenapa harus menyuruh orang lain yang membacakan kitab dan kita yang mendengarkan?? Kecuali jika semua orang buta tidak punya mata. Sehingga tidak salah pula jika yang menyampaikan ayat-ayat petunjuk itu mendapatkan upahnya. Dan hanya sekedar menyampaikan apa yang dibacanya. Dan selama dirinya yang membaca itu belum membuktikan sendiri, maka seharusnya disebutkan bahwa itu adalah "katanya".
Sehingga jika semua masih dalam bentuk katanya, maka apa yang didengar dan dibaca tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, selain hanya mendapatkan "Katanya", yang berulang, bergaung, dari mulut yang satu kemulut yang lain. Dan akhirnya akan sama-sama saling bertikai, berselisih paham untuk membela seluruh ungkapan kitab yang berisi cerita tentang #katanya_tanpa_fakta. Janji tanpa bukti. Dan dirimu masih tetap hidup dalam angan-angan seperti sedia kala. Dan hanya mereka para #penyampai_berita_katanya, yang akan semakin kaya raya. Dan hal inilah yang membuat semua orang berlomba-lomba untuk menghafal cerita tentang "katanya" yang ternyata lebih menjanjikan dibandingkan menjalankan apa yang disebut "katanya". Itupun lantaran mereka tahu bahwa banyak orang yang malas untuk membaca dan berpikir sehingga mudah tertipu lantaran hanya sekedar menuruti kosa kata 'katanya".
#Edisi_puasa_06
Tidak ada komentar:
Posting Komentar