Ada sebagian orang berkata bahwa; "sejelek-jeleknya orang yang mengakui adanya tuhan, masih jauh lebih baik, dibandingkan orang yang baik budi pekertinya sekalipun, tetapi tidak pernah mengakui tuhan".
Bagaimana mungkin fatwa semacam ini bisa muncul??? Padahal pengakuan adanya tuhan, tidak akan berarti apa-apa jika dirinya tidak terangsang untuk membuktikannya. Merangsang untuk mengubah perangai manusia yang jahat menjadi baik. Sebab semua kejahatan yang ada serta perangai yang buruk, semua diawali dari kesusahan dan penderitaan yang dialami.
Dan jika hal itu berlangsung secara berkesinambungan, ada kecenderungan untuk mengubah karakter seseorang menjadi jahat. Sebab adanya kejahatan itu lantaran mereka ingin mencukupi apa yang menjadi kebutuhan, kemudian kecanduan untuk memenuhi apa yang menjadi keinginannya.
Dengan adanya fatwa diatas itu menunjukkan telah terjadi distorsi arti pemahaman tentang tuhan. Telah terjadi manipulasi definisi; Bahwa yang semula pengakuan tentang tuhan supaya berakhlak mulia, berubah menjadi pencarian pengikut sebanyak-banyaknya. Hanya cukup dengan sebuah pengakuan saja jika dirinya percaya adanya tuhan. Dan justru pengakuan seperti itulah yang menurut saya merupakan suatu penipuan yang dikemas menjadi suatu pengakuan.
Padahal orang yang berbudi perkerti baik, dan berakhlak mulia, sudah pasti orang itu memiliki kesadaran tentang tuhan. Walaupun mungkin sebutan tentang tuhan itu berbeda. Dalam kenyataannya; mereka dianggapnya sesat dan lainnya.
Akhirnya, justru para pengikut yang dianggap beriman inilah yang menjadi bulan-bulanan didalam kehidupan yang semakin penuh kemiskinan, penuh kegelapan dan penderitaan. Sementara mereka para penyampai fatwanya selalu hidup penuh kemegahan, bergelimang harta penuh kemewahan, sambil tetap menyebarkan fatwa yang penuh adu domba.
Seharusnya " hentikan bicara tentang tuhan, hentikan bicara saling menyesatkan." Tetapi bagaimana cara menolong mereka untuk kembali hidup didunia agar dapat mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya secara nyata pada saat ini. Dan bukan diberi janji-janji kehidupan kelak setelah mati. Kehidupan yang masih ilusi penuh delusi. Kalau tidak sanggup, biarkan saya akan membangunkan mereka satu persatu, bersama mereka yang telah terbangun lebih dahulu dari #pengakuan_yang_tidak_bermakna.
#Edisi_keb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar