Jika diri kita ingin tahu tentang pertanian, bertanyalah pada yang akhli pertanian. Jika ingin tahu tentang otomotif bertanyalah pada akhli otomotif. Semua hal yang ada didunia ini ada dua hal yakni masalah raga dan masalah batin. Segala hal yang menyangkut masalah raga pasti akan bisa dijawab oleh orang lain termasuk nama-nama yang nampak panca indra serta yang dapat dilihat secara nyata. Semakin akhli orang yang ditanya akan semakin mendapatkan ketepatan didalam jawabannya.
Tetapi dalam hal rasa, tidak dibenarkan bertanya pada orang lain selain hanya pada dirinya sendiri. Apalagi jika rasa yang kamu tanyakan itu adalah tentang tuhanmu sendiri. Andaikan bisa menjawabnya hanya sebatas nama serta sifat-sifatnya belaka yang mampu dijawabnya. Selebihnya hanya sebatas perkiraan belaka.
Contoh : jika dirimu ingin merasakan buah mangga ; buah manggis dan lainnya, bisakah dirimu mendapatkan jawaban yang tepat tentang rasa buah itu?? Walaupun mereka yang kamu tanyakan sudah ribuan kali pernah memakan buahnya. Bahkan kendati kamu belum pernah merasakan buah itu dan membawa buahnya untuk ditunjukkan kepada mereka, pasti mereka tidak akan pernah bisa tahu rasa yang tepat selain hanya bisa menyebutkan nama yang tepat. Dan bisa saja rasa buah yang kamu makan itu jauh lebih manis dan lebih sempurna dibandingkan oleh mereka yang pernah memakannya.
Begitu pula tentang agama dan tuhan, hanya diri masing-masing orang itu saja yang akan mendapatkan rasanya ketika sudah merasakan sendiri. Dan akan terasa aneh sekali jika masalah agama dan tuhan lantas bertanya pada orang lain. Apapun predikat orang lain tersebut tidak akan pernah tahu tentang rasa selain yang dirasakan sendiri.
Sebab masing-masing orang memiliki pemahaman sendiri sesuai dengan pengalaman ketika merasakannya. Yang bisa jadi pemahaman dan pengalamannya berbeda. Dimana kesemuanya itu tergantung dari seberapa besar unsur kesadaran yang dimiliki, sesuai dengan apa yang dibaca dan dipikirkan serta yang dijalankannya.
Adapun kitab-kitab yang dianggapnya sebagai pendukung pemahamannya, adalah semata merupakan nama, sifat dan sikap didalam menjalani. Akan tetapi tidak mengajarkan tentang ilmunya rasa kepada orang lain, terkecuali ketika orang itu telah merasakannya sendiri.
Jika terhadap rasa buah saja tidak mampu untuk diajarkan selain hanya untuk merasakan. Apalagi akan mengajarkan tentang agama dan tuhan. Sebab agama itu merupakan suatu warna rasa yang terjadi dan dialami langsung oleh siapapun juga ketika dia telah menjalaninya sendiri. Dan apapun yang dirasakan olehnya itulah yang benar. Dalam artian sesuai dengan pengenalan serta pemahaman didalam membuktikannya sendiri lewat warna rasa yang dialami. Dan bukan dari hasil cerita orang lain secara teori. Sehingga dari merasakan itu pula dia akan tahu apa yang dijalani salah atau benar, tergantung dari sadar atau tidaknya ketika dia merasakannya itu. Dan didalam membuktikan benar dan salahnya warna rasa akan dapat diketahui ketika saat pertama dia melakukannya kedalam sikap dan prilakunya sendiri. Dan bukan karena disuruh orang lain. Melainkan karena ada unsur percaya serta masuk diakalnya. Bukan diakal orang yang memberikan petunjuk. Jika banyak orang yang melaksanakan dan berhasil, sedang dirinya tidak berhasil itu semata karena adanya keterpaksaan dan bukan kesadaran. Dalam artian bisa karena paksaan, karena ketakutan dan karena keseganan, atau karena ikut-ikutan belaka.
Itulah yang harus jadi bahan renungan didalam dirimu, adakah segala sesuatu yang hendak kamu lakukan itu sesuai dengan akalmu??? Jika karena akal orang lain dan menyebabkan munculnya suatu keterikatan didalam dirimu, lebih baik jangan kamu lakukan. Dan adanya keterikatan inilah yang membuat dirimu tidak bisa berpikir jernih. Lantas bagaimana mungkin dirimu akan bisa bisa bebas untuk berpikir sedang lahir dan batinmu masih dalam keadaan penuh keterikatan. Jadi jika dirimu ingin berpikir jernih hilangkan keterikatan itu, baik karena rasa takut, rasa kecewa, ancaman, rasa rendah diri, rasa ingin dipuji, dan lainnya.
Dan jika dirimu sudah berpikir dan menghasilkan buah pikiran, laksanakan apa yang jadi buah pikiran itu, dan bukan untuk diceritakan pada orang lain. Sedang dirimu belum menghasilkan warna rasa apapun. Sama halnya ketika dirimu memakan buah yang masih asing dan ternyata menurutmu enak dan lezat, barulah kamu cerita pada orang lain tentang kelezatan buah yang kamu makan. Walaupun bukan merupakan jaminan bahwa yang menurutmu enak dan lezat akan sama pula kelezatannya ketika dirasakan orang lain. Namun demikian dirimu sudah mendapatkan hasil akhir yakni sebuah rasa yang bermakna bagimu. Tetapi jika dirimu belum merasakan lantas kau ceritakan pada orang lain, kemungkinan besar akan terjadi perdebatan yang tidak henti-hentinya, sehingga buah itu tidak akan jadi kamu makan. Padahal siapa tahu buah itu adalah makanan yang terlezat dan yang belum pernah kamu rasakan sepanjang hidupmu.
#Edisi_hati_nurani_03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar