Saat ini ketika kita ingin mencari sesuatu yang terjadi didunia, atau ingin mendapatkan tambahan wawasan, cukup lewat google pencari. Bahkan terhadap segala ilmu pengetahuan maupun ramalan cuaca sampai ramalan nasib, bisa dilihat di mesin telusur google. Bahkan untuk membuat bom, untuk mengerti bahasa seluruh bangsa didunia, semuanya serba ada serta tersedia cepat saji hanya dalam waktu beberapa menit. Termasuk ketika mau belajar meditasi, memperdalam ilmu agama, ilmu kedokteran, fisika tradisional sampai fisika qwantum, metafisika dan lainnya, semua tersedia.
Tetapi, pernahkah kita merenungkan bahwa kenapa mesin google pencari itu bisa mencari segala petunjuk apapun? Padahal mesin pencari itu adalah buatan seorang anak manusia. Semua orang bisa menelusuri lewat google pencari. Tanpa pandang bulu, tanpa pandang suku, bangsa dan bahasa, bahkan tanpa memandang siapa, dan apa predikatnya, beragama maupun tidak, semuanya bisa mendapatkan segala apa yang dicari didalamnya.
Namun demikian, kehebatan google telusur itu masih belum ada artinya apa-apa jika dibandingkan dengan #mesin_telusur_asli yang ada didalam diri manusia. Jika mesin telusur asli manusia itu sudah diketemukan oleh masing-masing orang, maka ilmunya akan jauh lebih hebat lagi dibandingkan mesin telusur buatan manusia. Mengapa??
Hal itu karena mesin telusur asli pada diri manusia bisa dipakai untuk membaca seluruh tanda-tanda alam atau semiotika. Membaca sejarah kejadian masa lampau, masa sekarang bahkan masa-masa yang akan datang. Sedangkan didalam google telusur hanya bisa membaca apa yang sudah terjadi, dan apa yang telah ditanam didalamnya yang sifatnya statis. Sehingga tidak bisa sepenuhnya membaca semiotika yang ada dialam semesta ini. Terutama jika berkaitan dengan semiotika diri manusia serta perubahan sifat, sikap, dan prilaku anak manusia. Padahal pengetahuan semiotika ini adalah amat penting sekali bagi keberlangsungan ummat manusia didalam menapak jaman-jaman yang akan dilalui dimasa mendatang.
Setiap kejadian apapun dialam semesta, khususnya didunia, selalu memberikan tanda-tanda yang tersirat atau semiotika. Dan jika kita ingin membacanya cukup hanya dengan selalu merangkum atas seluruh peristiwa dan kita saring 2 hal yang sifatnya fenomenal. Dan dari 2 sifat fenomenal itulah terselip sebuah bacaan semiotika.
Dan itu butuh ketelitian didalam membaca, butuh latihan, butuh kebebasan terhadap apa yang dibaca. Sehingga semakin lengkap memadukan antara beberapa peristiwa yang fenomenal, maka akan didapat semiotika yang tepat dan jelas.
Supaya bisa fokus terhadap pembacaan semiotika, dilarang keras untuk mengadakan penilaian. Sebab sebegitu kita menilai, maka yang muncul adalah nafsu. Padahal yang mampu membaca semiotika hanyalah #hati_nurani. Dan hanya kepada hati nurani saja semiotika itu diberikan agar jiwa dapat membacanya dengan benar. Sedangkan nafsu hanya sebatas sarana dan wahana sebagai kelengkapan perangkat jiwa untuk memenuhi terhadap tugasnya untuk melaksanakan bacaan semiotika yang akan dijadikan suatu tindakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar