Beberapa hari ini kita dibuat tertegun ketika Indonesia dilanda gempa bumi yang letaknya di Lombok Nusa Tenggara Barat yang banyak membawa kurban ratusan jiwa meninggal, serta ribuan orang terluka, bahkan diduga kerugian mencapai 1 T lebih. Dan sudah sekitar diatas 500 kali terjadi gempa bumi disana, yang datangnya tidak bisa diprediksi.
Belum selesai dilanda gempa bumi ini, kembali kita bangsa Indonesia juga dilanda #gempa_rasa. Yakni ketika adanya pemilihan calon wakil presiden dari Kubu Prabowo Subianto dan Kubu Petahana Joko Widodo.
Mengapa saya sebut Gempa Rasa? Karena masing- masing Pendukung kedua belah kubu merasa tidak menerimakan atas pilihan tersebut dengan berbagai alasan. Bahkan benar-benar tidak dapat diprediksi atas pemilihan pasangan yang akan dijadikan wakilnya. Dan baru pada detik-detik terakhir ketika diumumkan membuat semuanya terperangah. Masing-masing rasa para pendukung seperti diaduk-aduk bagaikan terkena gempa. Tidak ada satupun pengamat yang bisa menebak secara benar. Semuanya lepas dari perkiraan. Artinya apa? Bahwa semuanya ini sudah bukan merupakan kehendak atau keinginan manusia lewat akalnya. Melainkan semuanya adalah merupakan kehendak Tuhan itu sendiri, dimana akal manusia amat terbatas.
Namun demikian, kita sedikit banyak dapat membaca beberapa hal yang menarik dari pemilihan kedua pasangan calon tersebut. Yakni sbb.:
1.Pasangan Bapak Prabowo Subianto lahir tahun 1951 sedangkan wakilnya Bapak Sandiaga Uno lahir tahun 1969 yang selisih umurnya 18 tahun. Sedangkan dari Kubu Petahana yakni Bapak Joko Widodo lahir tahun 1961, sedangkan wakilnya Bapak Ma'ruf Amin lahir tahun 1943. Dimana selisih umurnya juga 18 tahun;
2. Pasangan Bapak Prabowo adalah generasi tua dan muda, sedangkan pasangan Bapak Joko Widodo adalah generasi muda dan tua;
3. Sama-sama terpaut 6 shio. Dimana Bapak Prabowo shio kelinci dan Sandiaga Uno shio ayam ( 6 shio). Sedangkan Bapak Joko widodo shio kerbau dan Bapak Ma'ruf Amin shio kambing ( 6 shio).
4. Masing-masing calon dari kedua kubu sama- sama terlahir pada tahun berekor ganjil. Sedangkan pilpres tahun depan 2019 juga berekor ganjil.
Dari 4 poin diatas semakin menunjukkan pada kita bahwa fenomena diatas adalah merupakan pertarungan otak kanan . Dalam artian siapa yang terbiasa menggunakan #rasa maka dialah yang akan menang. Karena jika sudah berbicara rasa adalah bicara #hati_nurani yang memang merupakan utusan Tuhan itu sendiri. Jika kita menggunakan akal tentu akan kalah.
Oleh karena semua merupakan masterpiece Tuhan sendiri, kita sebagai manusia wajib mengikuti apa yang menjadi suara hati, dan bukan dari suara nafsu ataupun akal. Dengan demikian Indonesia akan benar-benar menjadi negara yang maju dan adil dan makmur serta sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa sesuai dengan pancasila dan UUD 45.
Selamat merenung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar