Menolak suatu jabatan bukan merupakan gambaran bahwa dirinya tidak haus kekuasaan. Bisa jadi merupakan kesombongan jika ada niat untuk menunjukkan jika dirinya tidak haus kekuasaan. Serta bisa juga karena ketidak mampuan didalam diri yang dibalut dengan dalih tidak haus kekuasaan.
Juga sebaliknya, orang yang merasa lebih mampu untuk memegang suatu jabatan melebihi orang lain hanya sebatas lewat jargon kata-kata, justru akan jauh lebih celaka terutama jika disampaikan dengan rasa benci dan caci maki. Sebab orang yang benar-benar mampu sekalipun, akan lebih banyak menyampaikan program yang akan dilakukan ketika dia dipercaya untuk memegang suatu jabatan yang diembannya.
Dan bagi orang-orang yang pernah mengemban suatu jabatan tidak akan mungkin mencaci maki pejabat penggantinya, terkecuali jika didalam dirinya ada rasa iri dan dengki lantaran pernah mengalami kegagalan, agar penggantinya ikut gagal seperti dirinya.
Adapun orang yang pernah berhasil mengemban suatu jabatan, tentu ada kerinduan bahwa penggantinya akan lebih berkembang melebihi dirinya. Jika ternyata perkembangannya lebih rendah, tentu akan memberikan saran dan acuan baik diminta atau tidak. Mengapa? Karena masing-masing orang secara kodrati tidak ingin apa yang telah terbangun sebelumnya akan dirusak dan untuk diubah menjadi lebih jelek. Hal itu terbukti dengan adanya bangunan yang rusak lantaran bencana tentu ada kehendak untuk kembali dibangun lebih baik dan lebih indah.
Oleh karena itu, selagi didalam diri masih ada setitik cahaya perbanyaklah berbuat Dharma, agar cahaya itu semakin menyebar menjadi pelita kendati hanya untuk dirimu sendiri. Jika tidak mampu berbuat Dharma, janganlah berbuat kharma lantaran saat ini sudah masuk kedalam era boomerang. Dengan menebarkan kharma maka setitik cahaya itu akan padam dan membuatmu tersesat jalan selamanya. Hal itu terjadi karena seluruh indramu telah tidak lagi berfungsi dengan benar. Melainkan akan dikendalikan oleh indra lain yang datang dari luar dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar