Banyak orang yang pandai bersilat lidah dengan berkata bahwa dia hanya sekedar mengkritik. Untuk menangkis jawaban itu tanyakan lebih dahulu ; apa perbedaan mengkritik dan menghina atau mencaci maki menurutnya. Dan jangan sekali-kali dirimu menjawab sebelum dia menjawab perbedaan antara mengkritik dan menghina. Dan jangan ikut bersilat lidah sebelum jelas terhadap pemahaman yang jadi permasalahan.
Dan jika ada diantara mereka yang menyalahkan dirimu didalam mengambil suatu kebijakan atau keputusan, gantilah bertanya bahwa jika dia hebat dan pandai, mengapa bukan dia yang menjadi pemimpin. Atau mengapa dia tidak mengajukan diri untuk dipilih menjadi seorang pemimpin? Dan jika sudah mengajukan diri kenapa tidak ada yang memilihnya untuk menjadi pengambil kebijakan?
Jika dia menjawab ; bahwa dia tidak terpilih karena mereka orang-orang yang memilih itu bodoh? Bukankah orang bodoh memang akan memilih orang yang pandai? Sehingga jika dirinya tidak terpilih, berarti dia kalah pandai dengan orang lain yang dipilihnya. Maka dengan begitu dia akan terkunci oleh jawabannya sendiri.
Sesungguhnya ketahuilah olehmu; bahwa keterpilihan seseorang menjadi pemimpin disuatu negeri, bukan semata-mata tergantung dari pandai atau bodohnya seseorang. Melainkan, semua tergantung dari mayoritas rasa yang sama dan tersambung antara yang memilih dan yang dipilih. Dan bukan antara benar ataupun salah, karena hakekat kebenaran didunia itu bukan berada pada ruang lingkup perseorangan. Akan tetapi sudah merupakan ruang lingkup semesta. Dalam artian adanya kesamaan antara kehendakmu dengan kehendak alam semesta itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar