Notes kali ini, sengaja secara khusus saya ambilkan dari getaran suara hati. Yang merupakan gelombang cahaya( longitudinal), mengaduk2, dan membrowsing alam semesta. Hingga akhirnya, terciptalah gelombang suara(transversal), yang secara langsung saya up load, tanpa adanya suntingan apapun, selain mengalir begitu saja. Selamat membaca, dan Semoga bermanfaat.
v Apabila kita ingin berhasil mencapai tujuan hidup dan kehidupan di dunia ini maka jalan satu-satunya yang harus kita capai adalah menjadi orang yang dibutuhkan bukan menjadi orang yang membutuhkan, di samping itu jangan pula menjadi orang yang diinginkan sebab keinginan masing-masing manusia tidaklah terbatas.
v Kemudian untuk menjadi orang yang senantiasa dibutuhkan maka terlebih dahulu kita harus bermanfaat bagi orang lain bukan menjadi orang yang memanfaatkan atau dimanfaatkan bagi orang lain. Tapi mungkinkah seseorang bisa bermanfaat bagi orang lain bila untuk dirinya sendiri dia tidak bermanfaat?
v Untuk itu agar kita mengetahui apakah kita bermanfaat atau tidak, maka terlebih dahulu renungkanlah apakah kita sudah benar-benar mempergunakan segala akal dan pikiran kita serta segala perangkat yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai umat manusia.
v Apakah perangkat Tuhan tersebut? yakni akal yang dilengkapi dengan panca indra serta otak kanan yang dilengkapi pula dengan indra keenam atau sixth sense yang sering dikatakan dengan insting atau naluri. Di samping itu kita juga dilengkapi dengan hati untuk melihat serta mengarahkan dan merasakan apa yang terbaik bagi kita sebelum kita berbuat sesuatu tentang manfaat dan tidaknya perbuatan itu, sehingga dengan demikian maka perangkat-perangkat yang telah ada pada diri kita akan sempurna di dalam pengetapannya penerapannya.
v Lantas apakah yang terjadi bila pengetrapan penerapan itu tidak sempurna? Ketahuilah olehmu bahwa ketidak-sempurnaan itu akan menyebabkan seluruh perangkat cepat rusak dan bahkan kita akan mengalami kematian seperti yang kita ketahui selama ini, sehingga kenapa hal ini banyak dialami oleh orang-orang zaman sekarang yang kehidupannya tidak selama orang-orang zaman dahulu.
v Juga, pernahkah engkau melihat bahwa orang yang menangis itu pasti merupakan gambaran kalau dia sedang berduka? Dan pernah pula kah engkau melihat orang yang tertawa adalah dia dalam keadaan bahagia?
v Adakah yang bisa menjamin bahwa orang yang berduka itu harus menangis, atau sebaliknya bahwa orang yang menangis itu merupakan perwujudan kalau dia sedang berduka? Serta adakah pula peraturan yang menuliskannya seperti itu selain hanya sandiwara. Sesungguhnya ketahuilah bahwa perwujudan duka dan gita bukanlah semata-mata harus lewat ratapan dan meneteskan air mata, dan bukan pula lewat ketawa tanda bahagia, akan tetapi adalah sejauh mana adanya “getaran rasa” yang tersirat lewat relung-relung jiwa dari orang-orang yang papa penuh dukana atau orang yang gembira penuh gitana.
v Duka dan tidaknya seseorang tidaklah mudah diketahui orang lain, hanya sekedar lewat tanda-tanda yang tersurat lewat ketawa dan air mata, selain oleh mereka sendiri yang berduka dan gembira, serta orang-orang tertentu yang telah pula merasakan duka nestapa maupun bahagia seperti mereka yang sedang ditimpa petaka dan pataka.
v Dan mereka itu pulalah yang telah dibuka pintu hatinya oleh Tuhan semesta untuk merasakan getar-getar duka dan gitana tanpa harus melihat mereka meneteskan air mata. Bahkan sering terjadi disaat ada orang yang meneteskan air mata darah sekalipun, dia justru malah ketawa, sedang disaat dia melihat ada orang ketawa malah dia justru meneteskan air mata duka.
v Dan itu pula lah yang akan memberikan tanda bahwa mereka itu telah memasuki awal keimanan pada Tuhan yang telah menciptakan dirinya, sehingga keimanan itu akan menggerakkan hatinya untuk melaksanakan sifat Tuhan yang dibutuhkan oleh orang lain.
v Tahu pulakah engkau? Keimanan bagaimanakah yang bisa menggerakkan pintu hati seseorang? Yaitu bagi mereka-mereka yang bisa berbuat jujur pada dirinya sendiri. Dan kejujuran pada diri sendiri inilah yang merupakan jembatan untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan di dunia ini. Dan manakah yang patut, jujur pada diri sendiri, ataukah jujur pada orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri?
v Sesungguhnya, adalah merupakan kebohongan yang nyata bila kita melihat seseorang yang jujur pada orang lain, lantas dinilai bahwa dia telah berbuat baik, padahal dirinya sendiri dikorbankan. Sebab, yang pasti mereka yang jujur pada orang lain, itu dikarenakan mempunyai pamrih yang tersembunyi, yang cepat atau lambat akan terkuak dengan sendirinya, tergantung pada seberapa besar pamrih yang tersembunyi itu terhadap orang yang dijujurinya.
v Untuk itu, janganlah engkau mudah menilai bahwa seseorang telah berbuat jujur, sebelum engkau merenungi dengan sungguh-sungguh. Sebab mungkinkah seseorang bisa jujur pada orang lain, sedang pada dirinya sendiri saja tidak jujur. Padahal dirinya itu telah lama menyatu dengan jiwa raganya sejak mereka terlahir ke muka bumi ini.
v Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya ketidak jujuran pada diri sendiri inilah, yang merupakan awal petaka bagi seseorang di dalam mengarungi hidup di dunia ini. Cepat atau lambat, suatu saat mereka akan mengalami kehancuran dan akan penuh penderitaan. Yang apabila kehancuran, penderitaan, dan kesusahan, telah mendera dirinya, maka bagaimana mungkin mereka akan bisa mendapat kebahagiaan dan keberhasilan di dunia ini?
v Tahukah pula engkau? Kenapa ketidak jujuran akan mengalami kehancuran? Ketahuilah olehmu bahwa kejujuran pada diri sendiri adalah merupakan jembatan untuk membuka pintu hati seseorang. Sehingga dengan demikian seseorang akan senantiasa introspeksi, menengok ke dalam jati dirinya. Dan hanya jati diri inilah yang bisa senantiasa berhubungan dengan siapa yang mencipta dirinya.
v Bila pada masing-masing orang telah hilang jati dirinya, maka mereka sebenarnya telah tidak mempunyai hati. Kendatipun ada, namun telah tertutup oleh kegelapan di dalam mengarungi hidup, yang lambat laun mereka akan menggadaikan hidup dan kehidupannya pada orang lain yang bisa menghidupi dirinya. Dan bukankah dengan demikian, itu berarti mereka telah melupakan Tuhannya?
v Lantas, siapakah yang akan disalahkan bila mereka akan selalu kesulitan untuk sekedar mencari kehidupan, dan selalu penuh kelaparan dan penderitaan? Bila sudah demikian apakah masih pantas mereka-mereka itu menyandang sebagai makhluk yang mulia dan sebagai pemimpin di dunia ini, di antara makhluk-makhluk yang lain? Sementara untuk memimpin dirinya sendiri saja tidak mampu?
v Tanda-tanda orang yang tidak jujur pada dirinya adalah dengan melihat sikap dan perilaku orang-orang tersebut. Yaitu bila banyak di antara mereka yang senantiasa mengemis-ngemis pada orang lain Terlebih lagi, bila cara mengemisnya sambil menangis dengan muka sedih. Bahkan, ada pula yang sampai berebut sesuatu pemberian, dengan mengorbankan orang lain. Bila perlu sampai bertengkar, dan saling membunuh. Itulah tanda-tanda orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri.
v Begitu pula pada orang yang sombong. Adalah merupakan salah satu tanda, dari orang yang tidak jujur. Dan dengan kesombongannya itu, adalah semata-mata untuk menutupi ketidak jujurannya. Apabila suatu ketika ,elah ditimpa kemalangan, maka tentu akan nampak, bahwa kesombongannya itu akan hilang, dan tidak akan berbeda pula dengan mereka yang mengemis-ngemis. Bisakah engkau membedakan antara yang sombong, dan yang mengemis-ngemis, disaat ada bencana yang menimpa pada mereka? Tentu, tak akan ada perbedaan, terkecuali saling berebut untuk mencari keselamatan masing-masing. Baik yang melarat, maupun yang sombong, tentu akan sama-sama menjerit-jerit, disaat ketakutan melanda mereka.
v Kejujuran pada diri bagaimanakah yang dimaksudkan itu? Adalah kejujuran, bahwa dunia yang kita tempati ini, bukanlah merupakan dunia kita yang sesungguhnya. Kita, hanyalah sekedar tamu, terhadap dunia makhluk lain selain manusia. Untuk itu, apabila kita mengalami kebuntuan, dan ketidak tahuan, terhadap apa yang kita butuhkan di dunia ini, kenapa tidak bertanya kepada Tuhan yang telah mengundang kita ke dunia ini? Sebab hanya Tuhan itu jualah yang mengetahui segalanya. Bukan memaksakan, untuk berpikir sendiri, serta menyelesaikan segala kebuntuan tersebut. Terlebih lagi, bila lantas menangis untuk meminta pertolongan pada orang lain. Bahkan kalau bisa, justru engkaulah yang harus menolong mereka, yang sedang dalam kegelapan, sebagai bukti terima kasihmu, kepada Tuhan yang telah memberi kemudahan bagimu, dibandingkan dengan mereka itu.
v Dan, tahu pulakah engkau bahwa semakin jujur pada diri sendiri, maka hatimu akan semakin bening. Dan semakin bening hatimu, maka akan semakin bening, dan semakin cepat pula, untuk menerima isyarat-isyarat Tuhan, Agar bisa mengatasi kehidupan di dunia ini, dengan penuh kebenaran. Dan, bukan merupakan kebathilan.
v Lantas bagaimanakah orang yang dikatakan berhasil itu? Yaitu apabila mereka telah berhasil hidup di dunia ini dengan layak. Tanpa menjadikan beban terus menerus pada orang lain, serta bisa pula menghidupi keluarganya. Selanjutnya,bisa mengantarkan anak-anaknya ke dalam kehidupan yang mandiri. Dan bukan kehidupan yang semu. Itulah yang dikatakan keberhasilan yang penuh kebenaran.
v Seperti apakah kehidupan yang semu itu? Adalah mereka-mereka, yang di dalam meraih keberhasilannya, dengan cara-cara merugikan orang lain, baik sengaja maupun tidak. Kendatipun anak-anaknya berhasil, akan tetapi bukan diambil dari keringatnya sendiri. Melainkan, dengan cara memeras keringat orang lain, dengan tipu daya, baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja. Dan kehidupan semu inilah nantinya, yang akan bisa menghambat kehidupan, dan masa depan anak-anaknya. Yang walaupun berhasil secara duniawi, akan tetapi akan mengalami banyak penderitaan yang tidak terbatas. Tergantung, seberapa besar mereka mengadakan tipu dayanya.
v Dan, kenapa mereka sampai suka merugikan orang lain untuk menghidupi anak-anaknya? Bukankah mereka semua itu, sama-sama mengetahui, bahwa Tuhan Maha Kaya. Semestinya, tanpa menipu pun, mereka akan bisa mendapatkan kekayaan yang sama, bila mereka menghendaki, serta mau untuk berpikir.
v Tidak,! mereka sama sekali tidak mengetahui, kalau Tuhan Maha Kaya. Adapun, bila mereka berkata,Tuhan Maha Kaya, adalah sebatas ucapan saja, yang ditirunya dari orang lain, atau kitabnya orang lain. Dan mereka, sama sekali belum pernah mempercayai, kalau Tuhan Maha Kaya. Dan kalau saja, mereka sedikit mempercayai bilaTuhan Maha Kaya, maka dengan pengetahuan yang sedikit itu, tentu mereka akan tertuntun. Untuk mendapatkan penerang, di dalam menyusuri kehidupan di dunia ini, dengan penuh kelapangan hati.
v Lantas, kenapa mereka tidak mempercayai Tuhan itu kaya? Hal itu dikarenakan, mereka belum mempercayai, adanya Tuhan dengan sungguh-sungguh. Selain karena adanya kewajiban saja, yang telah dijejalkan ke dalam otaknya, sejak mereka masih kecil. Padahal sesungguhnya, hati mereka buta adanya. Dan kalau mereka mempercayai, tentu mereka akan selalu mencari keberadaan Tuhan sampai ketemu. Terutama, disaat mereka ditimpa kemalangan, maupun kebahagiaan. Sehingga, salahkah, bila akhirnya mereka akan semakin tersesat, ke dalam kegelapan demi kegelapan.?
v Dan, kenapa pula mereka tidak mencoba untuk mencarinya sendiri? Tanpa harus dijejali dengan kata-kata dari orang terdahulu, bahwa Tuhan kaya. Tetapi, tidak sedikitpun kekayaan yang bisa tercurah, pada kehidupannya beserta keluarganya? Mestinya, mereka mau berpikir, apa mungkin mereka hidup di dunia ini, bila tanpa ada Dzat yang menghidupkannya. Juga, mungkinkah Dzat itu hanya menghidupkannya saja, tanpa memberikan bekal kehidupan di dunia ini?
v Ketahuilah, bahwa sesungguhnya mereka tidak mau berpikir. Dikarenakan mereka semua malas. Dan kemalasan inilah, yang akhirnya mengantarkan mereka ke dalam kebodohan yang nyata. Kenapa pula mereka berlarut-larut dalam kemalasan, sehingga mereka senantiasa dalam kemelaratan? Hal itu, karena mereka sesungguhnya, tidak pernah menjalani puasa, yang telah ditetapkan pada seluruh anak manusia, agar mereka menjalani dengan sungguh-sungguh.
v Apabila ada orang yang mengatakan “Bukankah mereka semua adalah ahli puasa?” Tidak! mereka belum pernah menjalani puasa. Selain, hanya menahan lapar, dan dahaga belaka, sejak dari pagi sampai petang. Dan tidak satupun, yang berniat untuk merenunginya, sampai bertahun-tahun. Dan, apakah dengan begitu mereka telah berpuasa? Tetapi, salahkah, bila akhirnya mereka tetap berkubang, dengan penderitaan yang terus menerus.
v Apabila mereka benar-benar telah menjalani puasa, tentunya mereka tidak akan berada di dalam kemelaratan. Puasakah namanya? Bila mereka senantiasa hidup, dalam foya-foya kendatipun mereka melarat? Semestinya, kalau mereka benar-benar puasa, tentu mereka tak akan mudah mengeluarkan kekayaan, untuk hal-hal yang tidak perlu. Hingga suatu ketika, disaat mereka ditimpa kemalangan, dan membutuhkan uang banyak, ada tabungan yang tersimpan. Dan puasa pulakah namanya, bila hanya dalam 1 bulan? Kemudian pada sebelas bulan berikutnya, mereka kembali, dalam keadaan papa seperti semula. Bahkan, disaat mereka bekerja sebelas bulan, hanya untuk dihabiskan di dalam bulan puasa. Apakah hal itu menandakan bahwa mereka puasa, selain hanya lapar, dan dahaga belaka?
v Ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya orang-orang yang kamu katakan miskin, sebenarnya adalah kaya raya. Kendati, tak ada sebutir nasi pun, yang tersimpan untuk dimakannya. Begitu pula sebaliknya. Orang yang menurutmu kaya raya, adalah miskin adanya. Kendatipun harta kekayaan yang dimilikinya, telah tumpah ruah berlebihan.
v Kenapa demikian? Hal itu, dikarenakan orang yang benar-benar merasa miskin, dan apalagi selalu dikatakan sendiri, bahwa dirinya miskin. Maka, tentu mereka akan berusaha, untuk melepaskan dirinya dari kemiskinan. Namun, kenapa masih tetap miskin, kalau memang tak ada yang dapat dimakannya? Itu dikarenakan, mereka dalam hatinya merasa kaya. Lantas, masih pantaskah orang seperti itu dibantu? Sebab, kendatipun kau bantu berkali-kali, selama dia masih belum pernah berhenti merasa kaya, maka selamanya, dia akan tetap miskin. Di samping itu, mungkinkah dengan berkata, bahwa dirinya miskin, sambil mengeluh kesana kemari, akan bisa merubah kemiskinannya menjadi kaya raya?
v Sebaliknya, kenapa orang yang kaya raya itu sesungguhnya adalah merupakan orang yang sebenar-benarnya miskin? Hal itu, karena mereka tidak pernah berhenti, untuk mencari kekayaan terus menerus. Kendatipun, harta yang telah dikumpulkan telah melimpah. Bukankah hal itu menunjukkan, bahwa mereka adalah selalu merasa miskin?
v Kenapa kedua hal itu bisa terjadi? Semuanya, karena orang yang miskin, dan akan selalu tetap miskin, bila memandang orang lain, selalu berada di bawahnya. Sehingga lambat laun, mereka tak akan pernah memandang orang lain, yang berada di atasnya. Seseorang, yang sebenarnya berada di atasnya, akan dianggapnya, selalu berada di bawahnya. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa merubah nasibnya untuk berada di atas? Kalau selalu menganggap, semua orang berada di bawahnya? Hal inilah yang akan menjadikan bibit kesombongan, dan mungkinkah orang yang sombong bisa berhasil? Karena, kesombongan itulah yang akan menjadikan dirinya malas untuk berpikir secara jernih.
v Begitu pula orang yang merasa miskin. Dikarenakan, dia selalu memandang, bahwa orang lain yang ada disekitarnya, dianggap selalu berada di atasnya. Sehingga, lambat laun semua orang, kendatipun berada di bawahnya, dianggapnya berada di atasnya. Dan, orang-orang yang demikian, akan senantiasa meminta bantuan pada semua orang, yang sejatinya lebih rendah dari dirinya. Lantas, bila sudah demikian, apakah mungkin orang-orang yang seperti ini akan memberikan bantuan pada orang lain, bila dirinya selalu miskin? Yang jelas, dialah yang akan selalu meminta bantuan pada orang-oran. Yang kendatipun materinya lebih sedikit, senantiasa dipaksakan untuk membantu, agar memenuhi materi yang dibutuhkan. Bagaikan sumur, meminta bantuan air pada bak mandi.
v Untuk itu, agar tidak seperti kedua golongan di atas, sekali waktu rasakanlah kemiskinan itu, dengan sebenar-benarnya miskin, bila engkau membutuhkan kekayaan. Serta, jadikanlah orang yang di atasmu, merupakan pedoman, untuk kau samai kekayaannya. Sembari prihatin, dengan melihat orang-orang yang berada di bawahmu. Kenapa engkau berada di atasnya, dan kenapa pula, ada orang yang berada di atasmu. Padahal, makanan yang mereka makan, juga sama dengan apa yang kamu makan. Udara yang mereka hirup, dan bumi tempat mereka berpijak, juga sama, dengan apa yang ada dalam dirimu. Serta, akan menjadikan semangat bagimu, untuk mengejar orang-orang yang di atasmu. Tanpa harus merendahkan, orang yang berada di bawahmu.
v Sehingga dengan begitu, engkau tidak akan melampaui batas. Tidak akan pula, meminta bantuan pada orang yang lebih miskin. Serta, akan juga melatih dirimu, untuk tidak lagi meminta, pada orang yang lebih kaya darimu. Selain, meminta bantuan pada akal, dan pikiranmu sendiri. Yang juga, sama-sama diciptakan oleh Tuhan yang sama.
v Dan perlu pula kau ketahui. Bahwa, apabila engkau senantiasa berpikir, dan berbuat untuk dirimu sendiri, maka orang lainpun, juga akan berpikiran sama seperti dirimu. Dia, akan pula berpikir, dan berbuat untuk dirinya sendiri. Kalau sudah begitu, lantas bagaimanakah kalian bisa hidup untuk saling tolong menolong, selain untuk diri sendiri?
v Tahukah kalian, bahwasanya segala kesusahan yang kau alami itu, lantaran kalian tak sedikit pun berpikir, dan berbuat untuk orang lain. Sehingga disaat dirimu mengalami kesulitan, maka tak ada seorangpun mau menolong dirimu. Dan, apabila ada yang mau menolong, dikarenakan ada pamrih yang tersembunyi dibalik pertolongannya. Sebagaimana dirimu, disaat mau menolong orang lain. Hal itu terjadi, karena engkau telah berTuhan pada segala hal yang penuh kepalsuan. Serta, mementingkan harta, dan kekayaan, dibandingkan hidup yang saling tolong menolong.
v Dan bila engkau telah berTuhan pada kepalsuan. Serta, menganggap kepalsuan itu lebih berharga dari dirimu. Maka, tentulah kedudukanmu akan berubah, lebih rendah dari kepalsuan itu sendiri. Sehingga dengan demikian, maka tentu saja, kesusahan yang akan kamu alami. Bukankah engkau mengetahui. Bahwa, segala kepalsuan itu, adalah engkau sendiri yang menciptakannya? Lantas, masih pantaskah segala ciptaanmu engkau dewa-dewakan? Sehingga, lambat laun, keaslianmu, atau jati dirimu, yang merupakan ciptaan Tuhan, tak akan lagi bisa mencipta. Dan kemudian, masih bisakah engkau dengan mudah, untuk mendapatkan kepalsuan, seperti halnya kekayaan dunia? Sedangkan keberadaanmu yang sekarang ini, telah berubah lebih rendah, dari kepalsuan yang kau ciptakan sendiri?
v Tahu pulakah engkau? Bahwa semulya-mulyanya orang didunia, adalah bagi mereka, yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain. Dan mereka, adalah bagaikan air telaga. Yang senantiasa memberikan kesejukan bagi sekitarnya. Dan mereka pulalah, yang memberikan sinar kehidupan bagi sesama. Adapun, orang sehina-hinanya didunia, adalah bagi mereka yang senantiasa mencari kesempatan, untuk memanfaatkan orang lain. Untuk memenuhi apa yang menjadi kepentingannya. Dan mereka, bagaikan harimau yang mengendap-endap, untuk menangkap mangsanya. Atau, bagaikan buaya yang siap menerkam mangsanya sewaktu-waktu. Disamping itu, mereka inilah yang senantiasa menjadi penghambat bagi jalannya kehidupan. Serta, menjadi pengrusak bagi lingkungannya. Hal itu, karena orang yang seperti ini, tidak akan pernah mau memikirkan orang lain, selain memikirkan dirinya sendiri. Dan, dalam kehidupan sehari-harinya, senantiasa akan menyusahkan orang lain. Sehingga, amat wajarlah apabila dia, selamanya tak akan pernah mendapatkan kemudahan, didalam mengarungi hidupnya. Baik didalam berumah tangga, maupun didalam mencari rejeki. Juga, akan selalu penuh kesulitan pula, sampai mereka bertoubat dengan berbuat kebajikan. Serta, memulai hidup dengan memberi kemudahan pada orang lain. Pantaskah mereka akan hidup penuh kemudahan? Sedangkan dia selalu menyusahkan orang lain? Dan biasanya pula, apabila orang seperti ini khususnya bagi perempuan. Janganlah sekali-kali mempunyai anak perempuan. Sebab, hal ini dikelak kemudian hari, disaat menikah atau berumah tangga, nasibnya kelak, juga akan mengalami, kehidupan yang sama seperti ibunya. Untuk itu berhati-hatilah. Bagi orang tua yang punya anak laki-laki, jangan sekali-kali menikahi, dan berumah tangga, dengan anak perempuan mereka. Agar kehidupan rumah tangganya tidak hancur. Serta, akan pula selalu mengalami kesusahan didalam hidupnya.
v Apabila ada laki-laki yang masuk dalam kehidupannya. Berarti, laki-laki itu telah masuk dalam perangkap karma yang penuh kesusahan pula. Terkecuali, memang sifatnya juga sama dengan watak perempuan itu. Yang orang tuanya, juga selalu menyusahkan orang lain. Dan biasanya pula, para laki-laki yang menjadi suaminya, akan kalah dominan dibandingkan istrinya. Karena hampir didalam kegiatan rumah tangganya, istrinyalah yang menjadi pengambil keputusan. Kalau sudah begini, mungkinkah rumah tangganya akan tenteram? Yang pasti, baik istri ataupun suami, akan sama-sama menderita. Cepat ataupun lambat, akan memudahkan untuk munculnya pihak ketiga didalam rumah tangganya.
v Tahu pulakah, bahwa orang yang paling bodoh didunia, adalah mereka yang senantiasa dimanfaatkan orang lain. Dan, orang-orang inilah yang sebenarnya memberikan kesempatan, timbulnya kemalasan. Bagi orang-orang, yang biasa mencari kesempatan dalam kesempitan, didalam memenuhi kebutuhannya.
v Kenapa mereka bisa dimanfaatkan oleh orang lain? Hal itu adalah, kemungkinan besar dikarenakan untuk menebus karma, yang dibuat oleh orang tuanya dahulu. Baik sadar, maupun tidak, juga pernah memanfaatkan orang lain, demi kepentingannya sendiri. Sehingga saat ini, suka maupun tidak, harus pula ditebus oleh anaknya. Apabila mereka menjalaninya dengan penuh kesadaran, dan penuh keikhlasan, setiap dimanfaatkan oleh orang lain. Maka lambat laun, diapun akan mengalami kejayaan, dan keberhasilan. Walaupun didalam hidupnya memang penuh liku-liku kepahitan. Serta jatuh bangun, didalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Yang pasti, anak-anaknyapun akan terselamatkan dari kehancuran. Dan seluruh anak-anaknya, akan mendapat kemudahan didalam mendapatkan rejeki.Terkecuali, bila pernah pula menggunakan kesempatan, untuk memanfaatkan orang lain seperti orang tuanya.
v Bagaimanakah tanda-tandanya orang-orang yang suka memanfaatkan orang lain itu? Adalah mereka-mereka, yang senantiasa membanggakan akan titelnya, dan derajadnya. serta bicaranya selalu tidak pernah rendah, melainkan selalu tinggi. Juga, tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri. Tetapi, selalu menyalahkan orang lain, atau pihak ketiga, bila suatu ketika ditimpa kegagalan, atau kemalangan. Disamping itu, orangnya tidak pernah mau menerima nasehat dari orang lain. Serta, selalu ikut-ikutan berkata, bahwa dia berbuat baik pada orang lain. Padahal, sebenarnya adalah kebohongan yang nyata. Hal itu dapat dibuktikan, terhadap perobahan didalam hidupnya. Semakin baiknya kehidupannya, atau semakin terpurukkah? Dari sinilah sebenarnya untuk melihat, apakah orang itu menggunakan kesempatan, bila ada orang lain berhasil, untuk dijadikan manfaat baginya. Dan biasanya pula, orangnya suka menghina orang lain, bila derajadnya lebih rendah dari dirinya. Bahkan, kendatipun keberadaannya juga sama, masih selalu mencari celah untuk dihinanya. Serta, senantiasa bersikap sinis, bila melihat penghasilan orang yang dilihatnya itu rendah. Padahal, dirinyapun sebenarnya belum berpenghasilan apa-apa. Namun, bila dikelak kemudian hari, orang yang dihinanya itu telah mencapai keberhasilan, dia akan mencari kesempatan. Bagaimana orang yang pernah dihina, bisa memberikan keuntungan baginya. Bahkan, tidak segan-segan pula untuk dimintai pinjaman. Namun disaat akan membayar, maka akan mencari seribu alasan untuk tidak membayar. Yang pada intinya, memang tidak ingin membayarnya. Subhanllah, wal hamdulillah, Allahu akbar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar