Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 09 Maret 2011

Belajar Mengenal Jati Diri

Segala kesenangan dan kesusahan, akan membuat hatimu tertutup oleh dunia fana, padahal semula hati ini bersifat baqo’ sehingga hatimu yang semula bening sudah terkotori oleh apa yang menjadikan kita penuh penderitaan. Bagaimana mungkin kita akan dapat membeningkan hati, bila masih selalu bergelimang dengan segala kesusahan dan kegembiraan,kesenangan dan kepapaan?


Untuk itu, kembalikanlah dahulu hatimu kepada keadaan semula.Dan caampakanlah dahulu segala urusan duniamu hanya kepada akalmu, dan biarkanlah akalmu yang berpikir. Dan, bukan malah nafsumu yang berpikir. Renungilah wahai orang yang akhli berpikir? Apa sih yang akan dapatkan, ketika suatu saat engkau berbuat kejahatan, dan kemudian diketahui oleh orang lain akan kejahatanmu itu? Dan kemudian apa pula yang kau peroleh, disaat kau menyadari akan kejahatanmu itu? Sebaliknya, disaat engkau berbuat baik, dan diketahui oleh orang lain akan kebaikan dan kebajikanmu itu, apa yang akan kau dapatkan? Selanjutnya, langkah apa pula yang akan kau kerjakan disaat engkau menyadari akan akibat perbuatan kebaikan yang telah kau lakukan? Biarlah dua hal ini akan menjadi bahan renungan bersama.  Dan, bila kita telah memahami kedua hal diatas, maka janganlah sekali2 terikat akan kebaikan, dan kejahatan, apabila engkau tidak dapat menahan perasaanmu. Lebih2 bila engkau telah menyadari tentang arti hidup dan kehidupan didunia ini.
Untuk itu, janganlah sekali2 meninggalkan kerisauan disaat engkau akan tidur. Melainkan ksosongkanlah segala permasalahan itu dari pikiranmu, agar kau dapat tidur dengan tenang. Sebab didalam ketenangan tidurmu itu, sesungguhnya engkau akan bertemu dengan Tuhanmu , bila engkau mengerti. Namun amat jarang sekali diantara kita yang mengetahui, bahwa didalam tidur itu sesungguhnya nafsu akan mati. Dan, nafsu ini pulalah yang selalu menghalangi diri kita untuk bertemu Tuhan. Oleh karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat memerangi nafsunya. Sehingga dapat mengendalikannya terhadap apa yang dibutuhkan oleh nafsu, dan bukan apa yang diinginkan nafsu. Kemudaian, bila kita sudah dapat mengendalikannya, itu sama halnya sebuah kendaraan yang dapat melaju dijalan. Semakin pandai kita mengendalikan, akan semakin cepat pula kita sampai ketujuan.Karena nafsu itu bagaikan kendaraan adanya. Semakin teledor mengendalkannya, akan memperlambat tujuan kita, bahkan bisa pula mencelakakan pengendaranya.
Jadi, telitilah kendaraan nafsu itu, sebelum berangkat, dan cukupilah segala peralatannya, termasuk segala kekurangannya yang mungkin ada. Dan bila ditengah perjalanan ada kelaianan pada kendaraannya, berhentilah dan periksalah sampai ditemukan segala kekurangan yang ada.Agar tidak menyebabkan kecelakaan bagi diri sendiri. Namun, kenapa masih banyak diantara kita yang tak pernah mau memeriksa nafsunya lebih dahulu. Dan, tahukah, bahwa nafsu itulah yang akan selalu kita naiki sejak kita mulai terbangun dipagi hari. kemudian yang akan kita pergunakan sampai akhirnya kita akan tertidur kembali. Jadi, biasakanlah memeriksa nafsu kita lebih dahulu, terhadap kelaianan2 yanga mungkin ada , ketika dipergunakan dihari2 kemarin. Dan, terhadap kemungkinan2 yang akan terjadi, disaat berjalan disepanjang lorong kehidupan sampai kita memejamkan mata.
Bila ternyata ada kerusakan pada nafsu, sehingga akan membahayakan perjalananmu, urungkanlah, dan perbaikilah nafsu kita sampai kembali normal seperti sedia kala. Apa saja jenis kerusakan pada nafsu? Yakni segala kesedihan, kemarahan, kemurungan, putus asa, dendam, iri dengki dsb. Inilah sesungguhnya hikmah sholat yang dikerjakan 5 kali dalam sehari semalam. Saat subuh, kita memeriksa seluruh nafsu agar kembali murni. Bhukankah subuh berarti Bersih, murni, atau suci dari segalanya.
Saat Dhuhur, berarti terang benderang, artinya dengan semangat yang tinggi kita bertebaran kemuka bumi mencari rejeki dan ridhoNya. Sehingga akan memudahkan didalam pencarian rejeki tadi.
Ashar, adalah waktu. Kita harus menyegerakan, tugas2 yang belum terselesaikan, adakah yang belum kita kerjakan. Maghrib  artinya tenggelam. Kita harus sudah menyudahi apa yang kita kerjakan, dan jangan terus berlarut2 dalam masalah. Sudahi saja apapun yang terjadi. Bila masih ada yang belum selesai, teruskanlah besok, lebih baik kita menghadap pada Tuhan apa yang menjadi kekurangan kita dan apa yang sudah diselesaikan.
Isa’ adalah merupakan introspeksi diri, apakah didalam perjalanan tadi, termasuk segala kejadian2 yang kita temui. Kebajikan apa yang kita peroleh dan kebajikan apa yang telah kita lakukan. Sedangkan apabila ada keburukan yang menimpa kita, kita periksa, apakah itu merupakan kesalahan kita sehingga hal itu bisa terjadi. Bila benar, agar besoknya tidak diulangi lagi. Bila masih ada permasalahan yang membuat kita susah, renungkan kenapa itu bisa terjadi. Bila tidak bisa diselesaikan dan masih tetap kita susah dan kecewa, pasrahkan, karena itu adalah merupakan bentuk ujian atau cobaan, yang memang harus kita jalani.” La yukal lifulllaha nafsan, illa wus aha.” Dia Allah tidak akan memberikan kita beban, terkecuali sesuai dengan kemampuannya. Setelah itu, barulah kita tidur, dan jangan membawa beban. Sehingga bila nafsu tertidur pulas, siapa tahu kita akan bertemu dengan Tuhan, karena yang tersisa adalah jiwa dan roh, tanpa nafsu. 

 Renungan yang saya paparkan diatas, antara kebajikan dan kejahatan adalah sbb.  Bila kita berbuat kejahatan, lantas kita sadar akan kejahatannya, dan bahkan diketahui oleh orang lain. Yang terjadi, kita akan mendapatkan caci maki, celaan dsb. Sehingga, akan bisa berubah menjadi lebih baik. Dan, minimal  apabila kita akan berbuat kejahatan, tidak lagi ditempat semula, dilingkungan orang yang mengetahui tindakan kejahatan itu. Dari sini akan terjadi perubahan. Yang semula dia penuh dengan api, akan berubah mendapatkan cahaya, yang tidak lagi membakar dirinya. Bila dia bertemu dengan orang, yang sudah sampai pada tingkat kekosongan,maka semua kejahatannya akan sirna. Dan, dia akan berubah menjadi orang yang baik. Bahkan, bisa lebih baik dari mereka yang sudah baik. Bila kita berbuat baik, dan diketahui oleh orang lain, tentang kebaikan yang kita lakukan, lantas menyadari bahwa itu baik, maka kita akan mendapat pujian,sanjungan dsb. Dengan demikian, kita akan terus terpancang untuk berbuat baik, agar selalu mendapat pujian. Yang perlu dipertanyakan adalah : Perbuatan baikkah itu namanya? Dan, inikah yang dikatakan kebajikan, bila kita berbuat sesuatu, untuk mendapatkan pujian? Lantas, apa bedanya dengan seseorang yang berbuat kejahatan? Walaupun dari sisi yang berbeda, namun keduanya tidak ada bedanya. Yang satu, juga untuk memenuhi keinginannya sendiri, yakni mendapatkan hasil dari perbuatan kejahatannya. Sedang yang satunya, juga untuk memenuhi keinginannya, agar mendapatkan pujian. Lantas dimanakah bedanya?
Tahukah, bahwa perbuatan kebajikan itu, lantaran dia memang ingin berbuat sesuatu, yang memang patut, dan  diharapkan bisa bermanfaat, bagi orang yang mendapatkan kebajikan. Sedang dirinya tidak tahu, bahwa itu kebajikan atau bukan. Selain Tuhan itu sendiri, serta orang yang mendapatkan uluran tangan kita, apakah itu kebajikan atau bukan. Dan bila orang yang menerima kebajikan, masih merasa, itu bukan kebajikan, padahal Tuhan tahu itu kebajikan, maka orang tersebut, memang tidak pernah mau mensyukuri kenikmatan yang Tuhan berikan padanya. Maka, tunggu saja balasan yang akan menimpanya. Cepat atau lambat, justru dia akan lebih hancur, melebihi keadaan semula, sebelum dia menerima kebajikan itu sendiri. Sedang untuk kita, yang merasa telah menanamkan kebajikan, lantas masih pantaskah untuk mendapatkan pahala dari Tuhannya? Selain pujian itu sendiri. Sama halnya, disaat kita menumpang mobil milik orang, dan orang itu diberi tahu agar mobilnya dibetulkan, sehingga nantinya kita bisa lebih nyaman lagi, disaat menumpang mobil itu. Kebajikankah namanya? Kendati akhirnya mobil itu dibetulkan atas saran kita. Serta mengeluarkan uang yang tidak sedikit, kemudian kita lebih nyaman untuk kembali menumpangnya. Berarti, kebajikan yang kita lakukan, adalah untuk kepentingan kita, walau tersembunyi maksudnya. Lantas, pahala apa yang kita kehendaki dari pemilik mobil itu?  Untuk  itu, bila kita ingin memberi nasehat tentang suatu kebajikan, pikirkanlah lebih dahulu. Adakah pamrih yang tersembunyi demi kepentingan kita. Walaupun, sudah diembel2i karena ridho Allah dsb. Sementara ,Tuhan menolong kita, bukanlah karena ingin mendapatkan pujian. Namun, itu adalah untukmu sendiri. Sehingga, apabila kita ingin berbuat baik pada seseorang, yang menurutmu menyimpang dari ajaran kebenaran, namun masih ada pamrih yang tersembunyi pada dirimu, lebih baik jangan lakukan. Terlebih lagi, bila engkau takut, dia akan berbuat jahat padamu, urungkanlah. Sebab bisa jadi, orang yang berbuat kejahatan itu, akan menjadi2 kejahatannya. Bahkan, bisa saja yang semula tidak ada keinginan berbuat jahat padamu, akan tertuntun, dan berbalik berbuat jahat pada dirimu sendiri. Yang akibatnya, engkau mungkin akan ikut2an menjahatinya karena dendam. Dengan alasan engkau telah bermaksud baik, dan dia membalas dengan kejahatan, maka sudah pantaslah, apabila engkaupun membalas atas kejahatannya itu. Benarkah demikian? Sehingga kenapakah Tuhan berfirman, agar kita janganlah sekali 2 mengutuk perbuatan mereka, atau Tuhan mereka. Sebab bisa jadi, mereka akan membalas mengutuk Tuhanmu, dengan kutukan yang lebih keji lagi. Dan bukankah sering terjadi? Orang yang semula berniat memisahkan kedua orang yang sedang bertikai, malah kita ikut bertikai didalamnya. Bahkan, bisa pula kita membunuh, atau kita yang terbunuh. Bila kita bermaksud baik, tak akan ada yang saling berbunuhan.
Selanjutnya, sebagai renungan yang kedua adalah : Janganlah engkau sekali2 menikah, dengan orang yang kamu cintai, atau yang mencintai dirimu. Sebab, segala apa yang ada didunia ini, tidak ada yang abadi. Sebab,  baik yang mencintai, maupun yang dicintai, sebenarnya adalah mencintai dirinya sendiri. Yang suatu saat, apabila telah memiliki, maka akan berobah untuk mencintai yang lain. Karena segala sesuatu yang telah dimiliki, tak akan lagi membuatnya bahagia. Begitulah seterusnya sampai menjelang ajal. Hal itu terjadi, karena nafsumulah yang membuat perobahan, dan selalu menginginkan segala sesuatu yang belum dimiliki. Dan ini pulalah, yang menyebabkan banyak orang mengalami kehancuran. Dikarenakan, mereka lebih mencintai, segala apa yang ada didunia. Padahal, semua orang pasti tahu, bahwa semua yang ada didunia ini, tidak akan abadi, selain Tuhan itu sendiri. Engkau diciptakan kemuka bumi ini, bukan untuk menguasai, apalagi dikuasai, oleh yang tidak abadi. Tetapi untuk mengelola, tanpa ikatan apapun. Sebab, semua yang kita nikmati, adalah titipan belaka dari Tuhanmu. Jadi, menikahlah dengan orang yang mencintai Tuhannya. Tetapi mungkinkah akan bertemu dengan orang yang mencintai Tuhan, sementara dirimupun, masih bergelimang dengan kesenangan dan kesusahan? Sebagai pelajaran, janganlah terikat akan dunia, agar engkau mendapat segalanya, bagaikan angka NOL . Tahukah, apa yang ada didalam NOL, dia tidak ada, tetapi sesungguhnya ada. Dialah sebenarnya yang mengikat, tanpa terikat. Dialah sebenarnya orang yang beriman.Tidak terpancang, apa kata orang, dia beriman apa tidak. Sebab keimanan seseorang itu, bukanlah dilihat dari apa yang dikatakan, atau yang diperbuatnya, tetapi semata-2, hanyalah dapat dirasakan oleh hatinya sendiri. “Wa minannasyi man yakulu amanna billah, wal yaumil akhir, wa maa hum bimukminiin.” Dialah, yang sebenarnya patut untuk kita nikahi. Kendati tanpa kata2, dan suara, namun lewat cahaya Tuhan dan kebenaran. Dia akan datang padamu, dan kamupun, tak akan bisa menolaknya. Serta masing2 kelu, dan bisu,tak akan bisa mengatakan, apakah cinta atau tidak. Yang ada, hanyalah getaran2 jiwa. sama2 ingin bersatu, untuk mencari Tuhan.

Kenapa pada tulisan diatas, saya  berpendapat bahwa” Janganlah sekali2 menikah dengan orang yang kita cintai atau yang mencintai kita, selain orang yang mencintai Tuhannya.”Kalau kita mencintai, berarti posisi kita adalah subyek, sedang yang dicintai adalah obyek.Begitu pula sebaliknya, bila  dicintai, kita adalah obyek sedang yang mencintai adalah subyek. Sesuai dengan sifatnya, subyek adalah yang menguasai, sedang obyek yang dikuasai.Sehingga disini tidak ada titik keseimbangan antara yang mencintai dan yang dicintai. Dan, karena ada perbedaan drajat inilah yang menyebabkan kita berniat untuk memilki. Berarti sesuatu yang dimilki, kedudukannya pasti lebih rendah dari pemiliknya. Sebagaimana sifat manusia, bila segala sesuatu telah dimiliki, maka lambat laun sudah tidak ada lagi rasa senang, dan kembali menjadi biasa. Sebagaimana kita ingin memiliki mobil, begitu menggebu2. Namun sebegitu telah memiliki, yang semula kita selalu merawat mobil tersebut, bahkan melebihi perawatannya pada diri sendiri, lambat laun akan kembali menjadi biasa. Yang akhirnya rasa kecintaan itu akan hilang, bersililuh kedalam nafsu kita. Baru terasa bila mobil itu hilang dari kepemilikan, kita menjadi susah dsb. Terkecuali kalau mobil itu memang dikehendaki untuk dilepas. Bukankah, cinta kepada pasangan itu tidak seperti kita mencintai mobil, yang bukan barang?. Bila kita mencintai Allah, kita adalah obyek, dan Allah sendirilah subyek, sehingga kita akan selalu pasrah dan mensyukuri, terhadap apa yang diberikan Allah pada kita.Sehingga, tidak ada kata “aku ingin memilkimu”. Yang ada “ Aku ingin hidup bersamamu “ atau “ Aku adalah milikmu”. Dengan begitu,bila kita tulus didalam mengucapkan dan akan membuktikan apa yang kita ucapkan, maka pasangan itupun juga akan mengucapkan kata2 yang sama. Sama2 seperasaan “ aku adalah milikmu”. Maka, bila hal ini terjadi, dijamin rumah tangganya akan indah, tentram dan damai. Sebab, masing2 adalah merupakan obyek dari Tuhan sebagai subyeknya. Tidak ada yang merasa lebih tinggi kedudukannya, serta akan saling menghormati akan kekurangan dan kelebihan masing2. Dan didalam kehidupan sehari2 nya kita akan senantiasa bersyukur akan nikmat Tuhan yang dilimpahkan pada kita.
Selanjutnya, kenapa secara textual, kita diwajibkan bersyukur? Hal itu supaya kita mau mengkaji kontekstual yang ada dibaliknya. Kalau hanya sebatas kata, walaupun dengan menggetarkan hati sekalipun, sampai menangis, kita tidak akan mendapatkan apa2,  selain hanya menangis dengan hati yang bergetar belaka. Padahal inti perintah untuk bersyukur, itu adalah semata2 demi kita sendiri, agar mendapatkan ilmul yakin didalam beragama.  Selanjutnya, akan bisa merasakan dengan benar2 ainul yakin. Artinya sudah bisa melihat dengan mata kepala sendiri, dan sudah membuktikan bahwa dengan bersyukur, kita dapat diuntungkan. Kenapa? Karena dengan mengetahui kontexnya, hati kita dituntun untuk tidak sombong, dituntun untuk tidak merasakan bahwa diri kita hebat, dibandingkan dengan yang lainnya. Sehingga, kita akan selalu peduli pada orang disekitar yang membutuhkan pertolongan. Adanya tenggang rasa, serta tidak memandang sebelah matapun pada orang2 miskin. Karena kita tidak akan pernah mendapatkan apa2, selain anugerah dari Tuhan. Juga dimaksudkan, agar hati kita semakin tetap dalam fitrahnya, sebagai manusia yang memang dikodratkan untuk saling tolong menolong. Kita tahu, bahwa hati manusia itu gampang berubah, sesuai dengan namanya dalam bahasa Arab Qolb’ berarti berubah-ubah (labil). Dan, hati manusia juga gampang kotor, padahal dia berfungsi sebagai teropong ghaib. Bila kita tidak pernah membersihkannya, lantas apa bisa dipakai untuk melihat segala sesuatu yang belum terjadi? Sedang manusia saja bisa membuat teropong, mulai teropong jarak 100 meter sampai ribuan km. Bahkan, sampai membuat teropong bintang. Masak Tuhan tidak bisa. Kalau teropong bikinan manusia tidaklah fleksibel, tetapi teropong buatan Tuhan benar2 fleksibel. Kendati demikian, betapapun fleksibelnya teropong yang bernama mata hati ini, akan percuma bila kotor, dan tidak bisa dibersihkan. Apa sajakah kotoran yang bisa menutupi mata hati seseorang? Adalah sisa2 debu2 energi yang dibawa oleh nafsu, lantaran melebihi dari kapasitas kebutuhan nafsu itu sendiri. Karena tidak tersalurkan secara habis oleh nafsu, maka debu2 tadi menempel pada mata hati. Sehingga inilah mungkin yang dikatakan dalam agama, bahwa kita tidak boleh melampaui batas dalam hal memburu duniawi. Karena sebegitu nafsu tidak bisa menampung, padahal jumlah nafsu ada 4, maka yang terjadi adalah luberan sisa makanan nafsu. Serta mengalir pada seluruh nafsu 4 tadi. Bayangkan, masing2  nafsu makanannya berbeda, sedang yang dimakan adalah energi, apa jadinya?, bila meluber, sehingga sudah tidak diketahui lagi sifat masing 2 nafsu tersebut. Nah, dengan rasa syukur yang selalu kita lakukan, akan bisa mengikis sisa2 energi yang tidak tertampung oleh nafsu. Bahkan bisa menghilangkan kotoran2 nafsu, lewat getaran2 syukur yang kita lontarkan. Sebab, kerak2 energi akan bisa sirna dengan sendirinya, lewat energi cahaya murni yang berwujud syukur tadi. Dengan begitu, seluruh nafsu, selalu kembali seperti fitrahnya. Kendati demikian, apabila masih ada sisa energi yang tersimpan, kita gelontor lagi dengan perbuatan kebajikan berupa infaq tadi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan getaran energi dari luar. Wujud energi disaat infaq juga merupakan getaran. Ini perlu riyadah(latihan) yang terus menerus. Sampai hati kita kembali peka. Sebegitu hati sudah mulai gampang tersentuh, disaat melihat suatu kemelaratan, atau suatu kemiskinan, dan memancing kita jadi peduli, serta memberikan uluran tangan membantunya, saat itulah sebenarnya hati kita telah bersih, sudah fitrah sebagai saat kita diciptakan sebagai manusia. Kalau sudah bersih seperti ini, sebagaimana kodrat kita sebagai manusia makhluk yang sempurna,maka tentulah amat gampang sekali kita mengais rejeki didunia, serta tidak akan mungkin kita mendapat kesusahan, Inilah sebenarnya  antara lain, makna dari orang2 yang beriman. Adalah mereka yang pandai bersyukur. Sehingga tolok ukurnya bagi kita sendiri yang selalu bersyukur, akan selalu dimudahkan oleh Allah terhadap segala persoalan didunia, baik didalam menghadapi cobaan, ujian, musibah, maupun barokah itu sendiri,hanyalah semata2 karena kecintaan Allah pada kita. Sebab, bila kita gampang bersyukur, maka kita tidak akan gampang mendapatkan penyakit hati. Karena adanya kerak2 energi tadi yang menutupi mata hati kita, yang wujudnya adalah , iri, dengki,dendam,kecewa dsb. Itu adalah merupakan akibat adanya kerak2 tadi yang lambat laun hati akan mengeras. Yang semula lentur, dan gampang bergetar, akibatnya sudah tidak bisa lagi berbuat sebagaimana fungsinya. Dan ini akan menjadikan gejala penyakit hati seperti sirosis, tubercolosis(tbc),leukemia. dsb. Demikian, dan semoga dengan adanya gambaran dan pendapt ini akan menjadikan kita semakin gampang bersykur.


(Dampak sombong dan rendah hati)
Sebagaimana dikisahkan, bahwa asal muasal iblis diturunkan kemuka bumi, adalah lantaran kesombongannya. Dimana, disaat Allah memerintahkan, agar Iblis mau sujud pada Adam, dia menolak. Sedang Malaikat, tetap tunduk dan patuh. ( wa id qulna lil malaaikatis judu lii adam, fa sajadu illah Iblis QS.2 /34). Malaikat, kendati diciptakan dari cahaya(nur), manusia diciptakan dari tanah, namun tetap tunduk dan patuh pada Allah, menunjukkan sifat kerendahan hati dari Malaikat. Bila kita tinjau dari sudut pandang logika, sesungguhnya  kedua sifat yang bertentangan ini, adalah  merupakan sifat Tuhan itu sendiri. Yang memang Maha jaiz, Maha segalanya. Namun, bagi Tuhan seluruh sifat itu, tidak akan ada namanya, selain setelah terkodratkan kedalam masing2 makhluknya. Sifat Tuhan, yang masih berbentuk energi murni, ditampung kedalam diri malaikat/para kekuatan(bahasa indonesia), bersifat positif/plus. Sedang yang merasuk kedalam diri setan, energinya bersifat negatif/min. Jadi, dengan perilaku sombong, sama halnya dengan melontarkan energi negatif, yang mau tidak mau, suka tidak suka, kita akan mengundang setan, untuk datang pada kita. Sifat kesombongan ini pulalah yang merupakan cikal bakal, bahwa kita nantinya akan berbuat hal2 yang negatif pula, dan selanjutnya akan beranak pinak menjadi sifat2 negatif lainnya. Termasuk didalamnya tindakan/perbuatan kejahatan, yang akan merugikan diri sendiri. Memang, saya tidak menafikan bahwa setiap manusia, tidak akan lepas dari kelemahan, dan kekhilafan. Justru karena itulah oleh Allah, manusia juga diberi pendamping Malaikat,yang memang sejak awal penciptaan manusia, malaikat disuruh sujud, dan tanpa syarat apapun lantas sujud.(itupun karena perintah Allah).Sedang semua para Rasul, dan para Nabi saja, setiap ada masalah selalu didampingi Malaikat. Bahkan Nabi besar Mohammad Saw, setiap ada masalah yang pelik, dan tidak bisa memberi keputusan, menunggu wahyu dari Allah. Ini koq kita sebagai manusia biasa, tidak pernah mau mendekati Malaikat. Ada seseorang yang pernah berkata pada saya, bahwa kita harus berhubungan kepada Tuhan secara langsung? Apakah mungkin? Sedang Rasul yang sudah dibersihkan hatinya saja, hanya 1 kali seumur hidup bisa menghadap Allah. Itupun masih ada hijab atau tabir. Ini kan menunjukkan kesombongan kita sebagai manusia. Sehingga, pantaslah akhirnya setan yang datang, dan menjerumuskana kita. Untuk itu, supaya kita tidak gampang mengundang setan, terlebih dahulu, dekatilah Malaikat itu. Bukan dengan doa, melainkan dengan perbuatan, sikap dan tingkah laku yang rendah hati, dan santun, lemah lembut. Bukankah, dengan kelemah lembutan itu juga merupakan sifat Tuhan sendiri?  Sehingga, bila sikap ini senantiasa kita lakukan secara tawaddu’, maka otomatis malaikat akan datang untuk membimbing kita, mengarahkan pada jalan yang lurus. Setiap ada masalah yang kita tidak bisa menyelesaikan, malaikat akan mengarahkan. Dan, sesekali, disaat ilmu kita mau meningkat, pasti akan datang cobaan ataupun ujian, yang dewan pengujinya adalah setan. Hal itu, juga untuk melihat, sampai sejauh mana hasil pendidikan malaikat merasuk kedalam diri kita. Jadi, ujian itu yang membawa pasti setan. Bukan Tuhan secara langsung. Kalau kata2 ini ditentang, berarti kedudukan kita dengan para nabi lebih tinggi kita. Sebab semua nabi dan Rasul, yang menguji adalah setan dan iblis. Tidak ada satu ayatpun, yang menyebutkan kalau yang menguji itu adalah Allah secara langsung, selain setan. Walaupun secara implisit memang dari Tuhan, tetapi secara explisit adalah setan yang berbuat. Yang memang habitatnya adalah untuk menjerumuskan manusia. Didalam pemahaman ajaran agama khususnya Islam, kita tidak bisa memakan mentah2 ayat2 yang terkandung di dalam Al Qur’an. Sebab kandungan yang ada didalamnya, merupakan firman Tuhan/wahyu, yang diterima langsung oleh Nabi besar Muhammad secara non empiris. Merupakan bahasa yang tersirat, yang kemudian dikodifikasikan menjadi bahasa anak manusia yang terbukukan menjadi Kitab Al Qur’an, yang kita pakai sampai sekarang ini. Jadi, kalau kita ingin memahaminya, haruslah kita kembalikan menjadi tersirat, sesuai dengan pemahaman kita masing2, serta untuk dijalani oleh masing2 penganutnya, tanpa menabrak sendi2 akidah yang telah ada. Namun sebagai pedoman, saya ambil kesimpulan bahwa Al Qur’an terdiri dari sepertiga ayat2 Mukamad( sudah jelas/nyata), yang berupa sejarah. Sedang dua pertiganya lagi Mutasabihad( samar), yang membutuhkan penafsiran. Dua2nya ini merupakan ayat2 textual, atau teori. Sedangkan untuk pelaksanaanya/prakteknya,  adalah mempelajari, dan mencocokkan dengan alam semesta ini. Yang merupakan ayat2 Kauniyah,merupakan kitabimmubin(kitab yang nyata/Al Qur’an), kata orang jawa Al Qur’an teles(basah) yang memang untuk dikaji dengan sebenar2nya. Dalam Al Qur’an al karim, dikatakan Kitab lauh mahfud ( Ini nanti akan saya tulis tersendiri). Kembali pada Teks, kenapa kita harus rendah hati, dan menjauhi kesombongan? Ini adalah semata2 agar kita senantiasa dapat pelajaran dan binaan langsung dari malaikat, tentang hidup dan kehidupan didunia. Dengan demikian, akan mendapatkan suatu pengalaman yang nantinya akan tercatat dalam memory otak kita. Disamping itu, dengan rendah hati, semua orang akan menyukai kita, serta akan memudahkan kita didalam berinteraksi sosial. Baik disaat kita membutuhkan pertolongan, khususnya didalam mengais rejeki agar lebih gampang. Adakah orang yang tidak senang pada orang yang rendah hati? Dampak yang lebih kongkrit lagi adalah kita tidak akan punya musuh, serta selalu berbaik sangka pada orang2 disekitar. Serta gampang pula bergaul, dan tidak akan ada beban yang tersimpan. Yang keakhirannya bila beban ini berlarut2 akan bisa menimbulkan keruwetan didalam pikiran kita. Bagi mereka yang sombong, akan terus menerus digempur habis2 oleh oleh setan dengan ujian2, dan cobaan2. Yang tujuannya adalah agar manusia mau kembali kejalan yang benar. Terkecuali, bila memang sudah ditutup pintu hatinya oleh Tuhan. Itupun, dikarenakan memang manusianya sendiri yang memang tidak mau bertobat. Dan tanda2 orang yang telah tertutup  pintu hatinya, adalah bila dia sudah tidak khawatir dan tidak takut disaat berbuat kejahatan.Kalau sudah seperti ini, kita akan percuma saja memberi tahu. Sebab diberi peringatan ataupun tidak, mereka tidak akan kembali kejalan kebenaran.” Innal ladzina kafaruu, sawaun alaihim, a’andartahum am lam tum dirhum laa yukminun”(QS 2/6). Dampaknya, kita akan semakin terkucil, dijauhi oleh teman dan sanak kerabat. Walaupun secara ragani kelihatan dekat, tetapi semuanya dirasa canggung serta penuh keterpaksaan. Akhirnya, disaat kita menemui kesulitan, orang enggan untuk membantu.Salah2 bila membantu bisa dijerumuskan. Ilmu kita tidak akan pernah bertambah. Sehingga akan semakin membuat kehidupan semakin ruwet, stress dsb. Akibatnya ada kecenderungan untuk kompensasi pada hal2 yang negatif, seperti pergi ke diskotik, hiburan2 lain seperti narkoba, yang justru malah semakin melelahkan baik tenaga, pikiran dan materi. Padahal intinya, hanya satu “ ingin mendapatkan kebahagiaan”. Tetapi bagaimana mungkin bila unsur sombong ini belum dikikis dari dalam dirinya? Serta bagaimana mungkin, akan bisa penuh kedamaian bila setan terus menerus hati kita setiap saatnya. Sedangkan kalau rendah hati adalah merupakan penangkal dari serangan2 setan. Bahkan disaat setan datang kita tidak mengambil apinya melainkan cahayanya. Setiap setan membawa penyakit, berupa virus, bisa kita ubah menjadi vaksin. Bila kita tetap sombong, saya berani menjamin satu juta persen, bahwa orang2 ini tidak akan pernah mendapat kebahagiaan. Baik dirumah, dilingkungan dimana dia berada, bahkan didalam hatinya akan selalu ada kegalauan, kecurigaan,ketakutan, mudah marah, serta gampang memusuhi orang lain yang tidak sejalan.dsb.
Justru, dengan adanya agama akan membuat kehidupan kita semakin teduh, damai, dan penuh ketentraman,sepanjang mengerti bagaimana memahami agama itu, minimal dapat dipraktekkannya untuk dirinya sendiri. Kesimpulannya adalah, bahwa orang yang sombong akan menjadikan nilai tambah bagi orang yang rendah hati, serta untuk menambah pundi2 rejekinya. Sebab orang yang sombong, ada kecenderungan untuk tidak berpikir panjang guna mengeluarkan hartanya. Kita lihat mall 2, Hyper mart, restourant besar, hotel2 berbintang, mobil2 mewah dsb. Adalah semata2 untuk disediakan bagi orang2 yang haus pujian. Padahal, kalau kita kaji dengan tempat2 yang kecil, berapa kali lipat harganya? Kalau ingin mendapat kesenangan dan hiburan? Adakah setelah itu mereka benar2 terhibur? Semakin sering kita ingin mendapat pujian demi kesenangan, justru akan semakin sering kita akan mendapatkan penderitaan. Sayyidina Umar, pernah marah2 lantaran ada anak buahnya yang mau menaikkan gajinya sebagai kholifah. Dia hidup sederhana, bahkan jubahnya penuh tambalan. Tetapi, kita tidak ingin seperti Beliau, namun hendaklah yang wajar. Kalau tidak ada orang yang sombong yang ingin mendapat pujian, tentunya Hotel2 berbintang dan tempat2 yang penuh glamour itu jadi sepi.Terakhir, untuk dijadikan bahan renungan” Untuk apa kita sombong? Adakah keuntungan, dari kesombongan itu? Dan bila kita ingin mendapat pujian, adakah keuntungannya dari pujian yang kita terima? Salah2 justru kita lebih banyak dirugikan untuk mendapat pujian itu sendiri.’”Kalau rendah hati, kita yang diuntungkan lebih dahulu, sedang sombong, orang lain yang diuntungkan, dan dirinya tidak akan mendapat apa2. Subhanallah.

1 komentar:

  1. Benar-benar sebuah pengenalan jati diri yang bagus

    BalasHapus