Sesi : ikhlas dan khusu’
Bagaimana untuk mengetahui, apakah sinar yang datang menyinari akal itu, merupakan sinarnya nafsu, ataukah sinarnya hati? Untuk menjawabnya, kita haruslah lebih dahulu mengetahui: jenis apakah yang menjadi harapan nafsu itu. Sinar nafsu yakni:
pertama, apabila yang diharapkan berhasil, akan menimbulkan suatu kegembiraan, dan kebahagiaan yang melampaui batas. Juga, menimbulkan suatu kebanggaan, kesombongan, dan tidak mensyukuri, kalau keberhasilan itu, adalah merupakan anugerah Tuhan. Dan, mengalami kegagalan, akan membuatnya susah, sedih, kecewa, frustasi, dan bahkan masih terus saja ngotot, agar yang diharapkan bisa berhasil. Bila perlu mencari jalan pintas, dengan mendatangi orang pintar, dukun, dsb. Bahkan, akan memohon terus menerus pada Tuhan, agar apa yang menjadi harapannya bisa terkabul. Serta tidak segan-2 pula untuk berbuat sesuatu. walaupun hal itu, akan berdampak kerugian bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang lain. Walaupun, dampak negatif ini disadari akan merugikan, tetapi akan tetap diterjangnya, sampai apa yang diharapkan terkabul.
Kedua, apa yang diharapkan kurang bermanfaat bagi dirinya. Serta, hanyalah merupakan keinginan, bukan kebutuhan. Keadaan ini, merupakan pertanda yang amat sangat jelas, bahwa apa yang diharapkan itu, benar-2 telah mendapatkan sinar dari nafsu secara langsung. Padahal, nafsu sebenarnya tidaklah mempunyai sinar sendiri. Dia hanyalah memantulkan sinar, yang didapat dari hati. Kemudian dipantulkan ke akal, agar akal bisa berpikir. Seperti halnya sinar rembulan, yang merupakan sinar pantulan, atau sinar bayangan. Sedang yang mempunyai sinar adalah matahari. Bila terhalang, akan menimbulkan gerhana. Sebegitu nafsu mempunyai kepentingan, untuk mengharapkan sesuatu bagi seluruh tubuh bathin, maka Hati akan menyinari nafsu agar diteruskan ke akal, sesuai dengan kebutuhannya. Dan bila, sinar hati dipakai untuk menuruti keinginan, justru akan menimbulkan bahaya, bagi keberlangsungan ekosistem didalam diri manusia lahir, maupun bathin.
Apa sebabnya? Karena, sinar hati akan tersedot terus menerus. Tanpa terkontrol, merasuk kedalam diri nafsu. Dan nafsu, akan terus menerus pula menyinari akal, agar berpikir, guna menuruti segala apa yang menjadi keinginan nafsu. Padahal kita tahu, bahwa yang namanya keinginan, tidak pernah terbatas, dia unlimited. Sehingga, bila hal ini berlaku terus menerus, akan berakibat fatal. Sehingga, akal yang mempunyai keterbatasan didalam berpikir, sudah tak lagi bisa berpikir sehat. dan akan pula dipengaruhi oleh nafsu, untuk menuruti segala kehendaknya. Tidak perduli, apakah akan berakibat negatif, ataukah positif, yang penting bisa berhasil.
Dan perlu pula saya sampaikan disini, bahwa nafsu: adalah merupakan perut dari manusia bathin, berisi makanan energi murni, tanpa materi. Bayangkan! Padahal energinya adalah merupakan energi cahaya, yang kecepatannya bisa mencapai 300.000 km/detik, tentu kekuatannyapun lebih hebat, dan dahsyat, dibandingkan dari energi2 lain. Gerakannya bersifat longitudinal(berputar2 spt spiral), tentunya akan mengacak2 sistim keseimbangan dalam tubuh lahir dan bathin. Dari sinilah yang akan menimbulkan awal petaka bagi manusia. Munculnya penderitaan, kesusahan, kehancuran, keberingasan, kekejaman dsb. Dan kalau boleh saya istilahkan: inilah yang dikatakan tsunami dalam diri. Dikarenakan, ekosistem awal didalam diri, sudah rusak. Seperti halnya Hand phone, atau komputer yang “Hang,”tidak bisa dijalankan, maupun dimatikan, selain baterainya dicabut. Lha kalau manusia? Apanya yang dicabut, selain rohnya. Dan, ini pulalah yang akhirnya orang bisa depresi, stress, kelumpuhan (pan swei=bhs china), gila dsb. Jadi fungsi hati, adalah yang mengisi, mengontrol, dan mengendalikan keluarnya sinar. Yang akan diberikan pada nafsu, sesuai dengan kebutuhannya, untuk diteruskan pada akalnya.
Dari sini pulalah awal mula pentingnya suatu agama, yang ditanamkan pada hati manusia. Sedangkan fungsi jiwa (suksma), adalah untuk memberikan sinar murni pada hati, yang datangnya dari luar tubuh( macro kosmos). Sehingga, hati akan bisa membaca informasi2 dari alam makro. Baik yang empiris, maupun yang non empiris. Serta untuk menangkap, kira2 energi apa yang dibutuhkan oleh nafsu. Manfaat dan tidaknya untuk diambil, seberapa banyak yang dibutuhkan oleh nafsu. Serta, seberapa besar sinar yang harus diasupkan pada nafsu dengan benar2 terukur, dan terkendali. Bila semuanya sudah tepat, maka barulah hati akan menyinarkan cahayanya, sesuai dengan kebutuhannya. Adapun tanda2 nafsu orang yang tersinari dari hatinya yakni: apabila dia berhasil, tidak ada rasa bangga, dan tidak ada rasa bahagia yang berlebihan. Juga, tidak ada rasa kesombongan, selain akan mensyukuri, bahwa apa yang didapat, semata2 karena anugerah dari Tuhannya. Bahkan, bisa pula selalu terharu, dan menangis, bila mendapatkan sesuatu apapun, seberapa kecilpun nilainya, adalah selalu dari Allah. Sebab, nafsu itu hidup dikarenakan dia mendompleng, pada diri manusia dikala masih hidup.
Disaat manusia mati, nafsu sudah tidak berfungsi lagi. Akan kembali pada asalnya. Yang tanah, kembali pada tanah, Yang air, kembali pada air, udara pada udara, tanaman kembali pada tanaman dsb. Bila menuruti keinginan, nafsu tidak bisa kembali pada asalnya, tetapi akan menempel terus, pada jiwa orang yang mati itu. Sehingga, nafsu yang tertempel ini pulalah, yang akan menjadi saksi, disaat hari pembalasan/kiamat tiba. Dan disitu, manusia tidak akan bisa mengelak, karena ada bukti2 nyata. Dimana, dulu Tuhan memberikan Jiwa yang bersih, yang nirmala. Koq saat pulang kepangkuan Tuhan, bercelometan dengan kerak2 nafsu. Jadi, untuk supaya sinar hati akan terukur didalam penyinarannya, langkah awal yang harus dilakukan, hanyalah dengan satu sikap yakni: apa yang dilakukan, dan dikerjakan, baik bagi diri sendiri maupun untuk orang lain, hendaknya tanpa pamrih/tendensi apapun. Selain hanya karena rasa kasih. Serta, adanya rasa syukur pada Tuhan, yang telah memberikan kehidupan pada kita didunia ini. Yang semula jiwa tidak merasakan apa2, namun setelah dilambari dengan nafsu, bisa merasakan kesenangan, kegembiraan, kebahagiaan, keindahan dsb. Dan bila hal ini terus menerus dilaksanakan, akan memunculkan rasa ihklas, dan rasa khusuk yang mendalam. Yang mengandung makna, telah menyatu dengan kebesaran Tuhan, eksistensi Tuhan. Khusuk, akan merasuk pada jiwa, dan raga, saat kita mengerjakan sholat, untuk menghadap Tuhan. Dan maaf, khusuk itu tidak didapat didalam sholat. Melainkan diluar sholat, saat kita mengerjakan ibadah, sebagai hamba Tuhan dalam kehidupan sehari2nya. Bukan seperti apa yang kita persepsikan selama ini. Bahwa, agar sholat khusuk, kita menganggap, seolah2 Tuhan ada didepan kita. Kita membayangkan, seolah2 Tuhan hadir. Dengan begitu, kan berarti kita menyembah Tuhan, yang kita ciptakan sendiri. Atau dalam artian, kita menyembah hasil ciptaan, dan bayangan kita, tentang Tuhan. Lantas, apa bedanya dengan kita menyembah taghut, atau patung, yang juga merupakan hasil ciptaan manusia? Mana yang lebih tinggi? Kita, ataukah bayangan dan ciptaan kita? Bukankah Tuhan itu tidak boleh disamakan, dengan segala makhluk ciptaanNya. Kita menyembah ciptaan Tuhan saja dikatakan menyimpang. Apalagi bila kita menyembah Tuhan hasil ciptaan kita sendiri? Seharusnya, tanpa membayangkan, karena Allah sudah maha mengetahui. Dan sebelum sholat, kita sudah menyatu dengan eksistensinya, menyatu dengan kebesarannya, seperti kalau punggung kita gatal, kita langsung menggaruknya. Dan bukankah pula didalam sholat isinya berupa janji2 kita, berupa doa, pujian dan kepasrahan, rasa syukur dsb. Yang didapat disaat kita melakukan diluar sholat.
Jadi bagaimana kita akan khusuk, bila diluar sholat kita tdk khusuk? Dan bagaimana akan tambah khusuk didalam sholat, bila tidak mengerti artinya apa yang kita sampaikan pada Tuhan?
Kesimpulan saya dalam tulisan ini, agar kita tidak mendapatkan tsunami dalam kehidupan, hendaknya selalu menuruti apa yang menjadi kebutuhan nafsu. Sehingga, tataran kehidupan rasa akan bisa meningkat ki level2 atasnya, setelah tersinari dari hati. Selanjutnya saat menyinari akal, akan benar2 terukur. Sehingga nantinya, disaat akal mengolah lewat berfikir, akan bisa mewujudkan menjadi kebutuhan nafsu, yang berwujud menjadi kenyataan, tidak hanya sebatas energi belaka. Sudah berupa bentuk, menjadi : Energi, materi, ruang, dan waktu. Sesuai dengan eksistensi nafsu itu sendiri, yang terimplementasikan kedalam Perasaan(feeling). Dan selanjutnya, perasaan itu akan naik dengan cepatnya, ke tingkatan yang lebih atas. Mulai dari tingkat awal : puas, bahagia, indah, tentram, damai, dan kosong, sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya. Semoga tulisan ini bisa saling memberikan manfaat untuk kita bersama, serta bisa pula merangsang kita, untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan, sesuai dengan agama, dan keyakinannya masing2. Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar