Semua makhluk khususnya manusia, didalam menjalani kehidupan didunia, harus dan selalu bersandar kepada Allah sebagai penciptanya, seperti seorang bayi yang selalu bersandar kepada ibunya. Hal itu, karena bayi belum mengerti apa yang akan dilakukan, baik itu makanan, bahasa, dan pemahaman untuk hidup dimuka bumi. Ibu yang paling mengerti, terhadap segala hal yang menjadi kebutuhan bayi. Disaat bayi telah menjadi anak, ayah harus pula ikut mengisi wawasan anak, didalam pola berpikir, belajar, dan memutuskan sesuatu, sampai akhirnya anak bisa mandiri. Kalau ayah malas dan tidak mau bekerja giat, biasanya hal ini akan menurun pada anak disaat dewasanya kelak. Begitu pula didalam pemahaman agama, ayah amat berperanan penting didalam mendidik anak-anaknya, khususnya didalam pengenalan kepada Tuhan secara teori. Sedang ibu, berfungsi mengajarkan sikap dan perilaku yang baik didalam pergaulan sehari-hari, adat istiadat dan budaya, sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
Dengan bekal dasar berupa teori, yang didapat dari kedua orang tua yang mengasuhnya, pada saat dewasa, anak akan memperdalam ilmu yang didapat. Lewat pergaulan antar teman, serta berinteraksi sosial dengan masyarakat. Termasuk didalam memilih teman, sesuai dengan karakter masing-masing, yang cocok dengan apa yang telah didapat. Dari sini, dimulai adanya penilaian karakter baik, dan karakter buruk, benar dan salah, menurut penilaian dari orang tua masing-masing. Supaya tidak terjadi pemahaman yang berbeda tentang baik dan buruk, serta benar dan salah, maka diturunkan agama, dibawah bimbingan langsung Tuhan yang menciptakan manusia. Hal ini perlu, supaya masing-masing orang tidak mencari kebenaran sendiri-sendiri, mencari menangnya sendiri, kemudian dipaksakan kepada orang lain. Sehingga, dari sini akhirnya muncul kelompok-kelompok yang merasa paling benar, merasa paling baik, dan lain-lain. Semua ini terjadi, karena didalam memahami agama yang dianutnya, hanya sebatas teori, tanpa berpikir tentang apa makna yang ada didalam teori itu, dan bagaimana menerapkan teori itu, sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya, maupun lingkungan.
Didalam kitab-kitab agama, semua telah dijelaskan tentang bagaimana menjalani hidup, dan kehidupan ini secara benar, lewat utusan Tuhan masing-masing. Sebagai ummat Islam, saya akan membahasnya secara Islam, sesuai dengan pemahaman yang saya dapatkan dari Al Qur’an. Yakni, agar manusia dapat bersandar kepada Allah, harus diawali dengan pemahaman terhadap Sahadat (kesaksian atau sumpah) secara mendalam. Sehingga, kenapa sahadat ini ditaruh pada urutan pertama didalam rukun Islam. Hal ini, Karena sahadat( kesaksian) ini, bagaikan akar dari sebuah pohon, yang bisa membuat pohon itu hidup, makin lama makin membesar, berbunga, dan berbuah, serta bermanfaat bagi manusia. Akar berfungsi untuk mencari, dan membagi makanan, pada seluruh batang, dan akar sebagai penunjang hidupnya tanaman. Jika akar tercabut, maka pohon itu akan mati. Begitu pula halnya dengan sahadat. Dan untuk memahami Sahadat ini secara jelas, menurut saya sahadat ini terbagi menjadi 3 yakni : Sahadat teori, Sahadat makna, dan Sahadat rahman(universal).
Sahadat teori :
Didalam sholat, kita mengucapkan dua kalimat sahadat sebanyak 9 kali sehari, belum lagi dalam sholat sunnah, serta lain-lain. Akan tetapi, sampai sejauh manakah kita mengerti, tentang maksud ucapan 2 kalimat sahadat itu?
Sahadat teori tidak akan pernah bisa menyelamatkan kita dari neraka, dan mengantarkan masuk surga. Apalagi, jika sahadat itu hanya sekedar ucapan, tanpa adanya amal kebajikan, serta menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Serta, yang berlawanan dengan makna sahadat yang telah diucapkan. Seseorang yang dijanjikan masuk surga, yaitu bagi mereka yang melaksanakan banyak kebajikan, sesuai dengan substansi sahadat. Sahadat akan bermakna, jika kita telah memahami, bahwa apa yang diucapkan, kemudian dilaksanakan menjadi perbuatan. Hal ini bisa dijalankan, jika kita mengerti apa yang terkandung didalam isi sahadat itu sendiri.
Sahadat makna :
Laa ilaha illallah( tidak ada tuhan selain Allah/Tuhan itu sendiri). Inti dari kalimat tauhid ini, adalah mengerti, bukan karena dipaksakan untuk mengerti, sehingga muncul rasa ikhlas. Memeluk agama, adalah suatu proses pembuktian bagi yang telah bersumpah. Sejak dia mengucapkan kalimat itu, maka sejak saat itu pula dia harus mencari pembuktian, lewat kecerdasan akal yang dimiliki. Mencari, dan terus mencari. Menggetarkan akalnya untuk mencari, apa yang dimaksudkan kalimat itu. Dengan demikian, akan menghasilkan ketaatan, keikhlasan yang luar biasa, dan menembus hati sanubari. Dan setiap saat, akan bisa menambah wawasan, dan bukti-bukti sendiri, yang diketemukan lewat ucapan itu. Serta, bukan lewat copy paste dari orang lain, atau dari buku-buku, terkecuali dari kitab Agama yang diturunkan oleh Allah sendiri lewat RasulNya.
Didalam surah Al Baqarah (2)-256 ; dituliskan bahwa : "Tidak ada paksaan dalam(proses) beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Taghut, dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali, yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah maha mendengar, lagi maha mengetahui". Kemudian didalam surah al Alaq(96) : ayat 4-5. ditulis : “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan tulisan”. “Dia mengajar kepada manusia, apa yang tidak diketahuinya”.
Juga didalam surah al A’raf(7): 3 disebutkan bahwa : ” Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin kecuali Tuhan. Sangat sedikit kamu mengambil pelajaran (daripadanya)”.
Selanjutnya, didalam sura al Hijr(15): 9 “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. Serta masih banyak pula surah yang lain didalam Al Qur’an sebagai pendukungnya. Dengan begitu, sejak kita bersaksi mengucap Sahadat, maka akal harus digetarkan, untuk berpikir hanya tentang Allah, tentang segala ciptaanNya. Baik dalam keadaan duduk, berbaring maupun berdiri.
Sebagaimana ditulis didalam surah Ali Imron(3) ayat 191.” (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Dengan adanya penjelasan Al Qur’an ini berarti, kita harus senantiasa berpikir tentang Allah, dan ciptaanNya. Dengan demikian, akal dan pikiran akan selalu bergetar, hati juga bergetar, serta jiwa akan pula bergetar, otak kanan juga bergetar. Sehingga menimbulkan resonansi secara bersama-sama, bagaikan garpu tala. Bila hal ini dilakukan secara terus menerus, maka akan didapatkan makna yang dalam, terhadap pemahaman ayat-ayat Al Qur’an, dan akan menambah ilmu pengetahuan baru. Seperti yang pernah dilakukan oleh Pemuka-pemuka Islam terdahulu. Sampai akhirnya bisa menemukan beberapa Ilmu seperti Ilmu falaq, Ilmu kimia, aljabar, fisika dan lain-lain. Juga, penemuan ilmu metafisika, serta filsafat yang tinggi. Contohnya adalah : Syech Abdul Kadir Jaelani, Ibnu Sinai, Imam Al Ghazali, dan lain-lain, merupakan pakar Islam yang terkemuka di jamannya. Bahkan sampai sekarang, ilmunya masih dipakai. Kenapa? Karena mereka semua sudah mempercayai, dan tidak lagi berbicara atau memperdebatkan tentang Al Qur’an. Yang diperbuat, adalah dengan berpikir, mengasah kecerdasan otaknya, untuk mendapatkan kebenaran material, sehingga bisa bermanfaat bagi seluruh ummat. Baru seperti inilah yang menunjukkan, bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.
Sahadat rahman :
Berbicara tentang sahadat rahman, adalah merupakan implementasi dari sahadat makna, yang telah dimengerti secara jelas, serta dipahami. Tidak hanya oleh hati, tetapi akal dan pikiran, serta seluruh emosi, yang membuat tubuh lahir dan batin akan bergetar semuanya, disaat membaca ayat-ayat Al Qur’an, menukik kepada seluruh jiwa. Seperti halnya ketika kita mendengar lagu yang indah, dan mengerti artinya. Disaat dilantunkan, bisa meneteskan air mata. Apalagi bila yang dilantunkan adalah Al Qur’an itu sendiri.
Apa yang menjadi pedoman didalam sahadat rahman? Adalah “ Muhammadur Rasulullah “ ( nabi Muhammad Utusan Allah). Dengan mengakui kesaksian, bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka hati, pikiran dan jiwa, harus senantiasa mempunyai landasan, kepada suri tauladan yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Sikap prilakunya yang sopan santun, kegigihannya, kecerdasannya, pasrah dan rajinnya, bahkan segalanya. Kemudian untuk kita contoh, dan kita terapkan didalam kehidupan sehari-harinya. Apabila kita menghadapi masalah, kita harus melihat apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Dan juga melihat Al Qur’an sebagai petunjuknya. Dengan begitu, maka kita akan selalu dalam keadaan sabar, disaat ada masalah atau musibah. Terlebih lagi, bila sahadat makna benar-benar dikuasai. Intinya, segala sesuatu yang terjadi didalam diri kita, baik dan buruknya, semata-mata adalah karena ijin Allah, dan Allah Maha Mengetahui. Sedangkan Kita, hanya mencari apa hikmah yang ada didalamnya. Dengan begitu, kita tidak akan pernah lagi mencari kesalahan orang lain, walaupun jelas tahu, bahwa mereka salah pada kita. Dan itu adalah merupakan cobaan yang diberikan Tuhan pada kita. Dengan mengetahui hikmah, maka tidak akan sia-sia munculnya cobaan atau ujian pada diri kita. Sebab, dibalik musibah pasti akan ada anugerah, bagi mereka yang beriman.
Ringkasnya, didalam Sahadat rahman, adalah dengan melakukan perbuatan harus sesuai dengan apa yang ada didalam hati, didalam pikiran, didalam jiwa, serta dengan apa yang diucapkan. Jadi, didalam melakukannya dengan penuh kesadaran, keikhlasan, serta tidak ada rasa terpaksa untuk melakukan. Dengan begitu, maka didalam menjalani kehidupan sehari-hari bagaikan air yang mengalir, akhirnya sampai pula ke samudra.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar