Hancur dan tidaknya seseorang sebenarnya karena nafsunya. Karena watak nafsu, semata-mata hanyalah merupakan perlengkapan yang amat sangat dibutuhkan manusia, didalam memenuhi kebutuhan lahir dan batin. Disamping itu, karena keberadaan nafsu pula yang menyebabkan kehidupan manusia bisa menderita. Adanya perselisihan antar sesama, antara seseorang atau kelompok yang satu dengan yang lain. Adanya peperangan, terorisme, serta adanya keserakahan manusia, satu juta persen disebabkan hasil perbuatan nafsu. Kehancuran alam, kerusakan secara global, juga disebabkan dari nafsu manusia itu sendiri. Begitu pula sebaliknya, adanya kehidupan yang semakin marak, dan penuh keindahan, serta kemegahan, juga cinta kasih, tidak lepas dari nafsu itu sendiri. Jelasnya, baik positif maupun negatif, adalah dari hasil kerja nafsu itu. Nafsu, adalah merupakan perangkat yang serba bisa, untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan seluruh ummat manusia. Namun demikian, bila nafsu tidak dikelola secara benar, maka yang terjadi akan menyebabkan kehancuran. Tidak hanya kepada pemilik nafsu itu sendiri, melainkan juga akan mengorbankan orang lain, serta alam sekitar dimana manusia berada. Kenapa nafsu harus dikelola, dan siapa yang mengelola?
Nafsu harus dikelola, sebab dia hanyalah merupakan perangkat manusia, yang fungsinya hanyalah sebagai robot. Sedang yang mengelola, adalah para pemilik nafsu masing-masing, yakni “Insan atau Jiwa”. Bagaimana cara mengelola nafsu yang sifatnya batin. Yakni dengan ilmu pengetahuan, dan ajaran agama. Ilmu pengetahuan, didapat dari cara kita berpikir, guna diterapkan terhadap segala hal yang empiris. Sedangkan ajaran agama, adalah segala hal yang menyangkut kepentingan perangkat nafsu lahir mapun batin. Empirik maupun non empirik. Sehingga dengan demikian, akan senantiasa membuat keseimbangan, terhadap kepentingan nafsu itu sendiri sebagai “robotnya” jiwa. Khususnya didalam memenuhi apa yang menjadi kebutuhan jiwa, dan raga manusia. Namun, didalam kenyataannya, keberadaan keduanya, antara perkembangan ilmu pengetahuan, dan ajaran agama, tidak bisa berjalan harmonis. Disatu sisi, ilmu pengetahuan berkembang amat pesat. Sedang perjalanan didalam PEMAHAMAN ajaran agama, tidak sepesat ilmu pengetahuan. Karena, masih didominasi oleh orang-orang, atau kelompok tertentu, didalam memahami ajaran agama. Walaupun pemahaman itu hanya untuk dirinya sendiri. Akhirnya, kelompok dari ilmu pengetahuan, seolah memandang rendah terhadap mereka-mereka dari kelompok agama. Padahal, Fungsi agama adalah untuk menyeimbangkan jiwa seseorang, yang telah merambah pada pengetahuan modern. Karena sifat ajaran agama adalah NOL. Betapapun hebatnya ilmu pengetahuan, namun cara bergeraknya seperti deret hitung. Sedangkan ajaran agama, kalau kita percaya, dan mau mengkajinya secara benar, bergeraknya minimal adalah deret ukur, bahkan bisa tidak terhingga, tergantung cara kita mempergunakannya secara tepat guna. Sifat dari Kitab agama khususnya yang merupakan ajaran samawi(ajaran langit). Banyak yang belum bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, ternyata didalam ajaran agama sudah diketemukan ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Contoh yang nyata, yang baru-baru ini diketemukan di kalangan ilmuwan barat tentang penemuan partikel Tuhan. Padahal didalam Al Qur’an sudah dijelaskan, yang dikatakan “ Aku tiupkan RuhKu”, bukankah itu merupakan partikel Tuhan itu sendiri? Namun anehnya, sampai saat ini, pemahaman agama, masih jalan ditempat. Dan, senantiasa yang dibicarakan hanyalah seputar akidah, hukum-hukum, dan adat istiadat. Seolah-olah, semuanya tidak boleh berobah, seperti disaat ajaran agama itu, dibawa oleh para nenek moyang kita. Tragisnya, para generasi muda, ikut pula mengabadikannya, walaupun didalam dirinya penuh peperangan batin. Padahal, kalau ilmu pengetahuan maju pesat, mau tidak mau, pasti akan merobah tatanan kehidupan, serta sikap dan prilaku manusia itu sendiri. Sebab kemajuan ilmu pengetahuan, sama dan sebangun dengan peradaban, dan budaya manusia, yang juga akan berobah. Mana mungkin peradaban dan budaya berubah, sedangkan pemahaman ajaran agama yang kita anut selama ini tetap jalan ditempat. Atau, bahkan harus selalu sama dengan situasi, dan kondisi, disaat agama itu terlahir. Benar-benar antagonis. Kenapa demikian? Menurut pendapat saya, bukankah peradaban dan budaya merupakan bangunan dari nafsu manusia itu sendiri? Sedangkan fungsi agama, adalah untuk pengetahuan jiwa manusia, didalam mengendalikan nafsunya, agar tetap menjadi robot. Dan bukan sebaliknya, robot yang akan mengendalikan jiwa manusia.
Akhirnya, pemahaman agama selama ini tetap dipertahankan, bahkan dipaksakan untuk cocok, walaupun sudah tidak cocok lagi. Buktinya apa? Pertikaian antar para penganut agama, dan munculnya ajaran-ajaran baru. Bahkan satu sama lain saling mengklaim, bahwa dirinya dan ajaran agamanya yang benar, sementara yang lain adalah sesat. Padahal intinya adalah sepele. Yakni : “ Nafsu”. Mungkinkah seseorang akan bisa saling membunuh, marah, benci, iri dan dengki, sementara yang lain susah, dan menderita didalam mencari jalan kehidupannya.
Saya berpendapat, bahwa segala watak manusia yang mengarah pada suatu keadaan seperti : Susah, sedih, menderita, iri, dengki, sombong, marah, dendam etc. adalah merupakan ulah dari “ Nafsu” yang tidak dikelola secara benar dan tepat. Jadi, yang harus kita kelola itu, yakni bagaimana kita bisa mengendalikan nafsu masing-masing, supaya bekerja sesuai dengan fungsinya. Bagaimana supaya terarah? Yakni dengan pemahaman agama, yang diyakini oleh masing orang-masing orang, untuk diterapkan oleh orang-orang itu sendiri. Sebagaimana kita berbahasa, dan bertutur kata, dan bersikap, serta berperilaku, kepada orang lain, antar sesama manusia. Sebab bila kita renungkan, adakah diantara kita yang mengatakan, bahwa bahasa Indonesia lebih baik dari bahasa inggris, dan bahasa china, atau bahasa jepang? Tentu tidak, Semuanya, tergantung pada kebutuhan kita masing-masing. Bila kita butuh dengan orang jepang, sedang orang jepang tidak menguasai bahasa Indonesia, apakah orang jepang itu, yang dipaksa untuk mempelajari bahasa Indonesia dahulu, padahal itu demi kebutuhan kita sendiri? Begitu pula sebaliknya. Semuanya, tentu akan berjalan sesuai dengan aturan yang tidak tertulis. Bahwa, siapa yang butuh, tentu tanpa rasa terpaksa, akan berusaha, apa yang menjadikan kepentingan kita bisa dimengerti, oleh orang yang kita butuhkan. Entah dengan cara mengambil hati, merayu, atau meloby, dengan bahasa orang yang dibutuhkan. Bukan malah dibalik, kita yang butuh, tetapi menggunakan bahasa yang tidak dimengerti, oleh orang yang diharapkan akan membantu kita, apa mungkin? Jadi, sikap perilaku, dan tutur kata yang baik, dan berkenan, bagi orang lain itulah yang diajarkan didalam agama. Serta, agar tidak merugikan bagi orang lain, yang imbasnya akan menyusahkan diri sendiri, maka diajarkanlah, bagaimana cara mengendalikan nafsu manusia lewat “agama”.
Jelasnya, “Nafsu manusia”, didalam mengantarkan manusia lahir dan batin, untuk memenuhi kebutuhannya, akan selalu memberi tanda-tanda kepada jiwa. Yakni tanda-tanda atau semiotika, disaat “Nafsu” membutuhkan bahan bakar(energi) yang sesuai, dengan apa yang menjadai kebutuhan manusia. Dan nafsu, akan memberikan petunjuk apa yang dibutuhkan. Jiwa manusia, harus menuruti apa yang menjadi kebutuhan nafsu, bukan apa yang menjadi keinginan nafsu. Bila didalam pengisian bahan bakar (energi) tidak cocok, dan tidak sesuai, maka akan mempengaruhi cara kerja nafsu, serta hasil akhir yang akan dicapai. Bila kebutuhan energi sesuai, nafsu akan bekerja dengan lancer. Dalam bekerja akan berkoordinasi dengan perangkat manusia yang lainnya, baik lahir maupun batin. Bila sesuai apa yang dikerjakan oleh nafsu, pasti akan berhasil, wujudnya adalah keberhasilan. Serta memberikan signal, berupa perasaan senang, dan bahagia. Bila sejak awal Jiwa manusia didalam mengisi energi tidak sesuai, tidak cocok, kekurangan, atau kelebihan energi, maka jantung akan memberikan signal-signal tersendiri, berupa getaran jantung. Getaran jantung ini bermacam-macam jenisnya, yang kita bisa merasakannya. Bisa berupa getaran; khawatir, takut, sedih, rendah diri, susah, dan lain-lain, dikatakan “munculnya Perasaan”. Getaran-getaran ini menunjukkan, bahwa“nafsu “kekurangan” bahan bakar(energi). Bila munculnya getaran perasaan; tidak senang, marah, dongkol, iri, dengki dendam, sombong dan lain-lain, menunjukkan bahwa nafsu “ Kelebihan”bahan bakar(energi). Kedua hal ini apabila dibiarkan berlarut-larut, akan menimbulkan penyakit pada “nafsu “. Bila kekurangan energi, lama-kelamaan bisa menimbulkan perobahan pada orang tersebut, antara lain jadi rendah diri, tidak percaya diri, malas, dan sebagainya. Akibatnya, bisa menimbulkan kesusahan yang amat sangat, menderita lahir batin. Sedangkan yang berakibat pada penyakit lahir, berupa penyakit tbc, tekanan darah rendah, tekanan batin, atau terkena penyakit paru-paru, gagal ginjal, serta lainnya. Ini akibat kekurangan energi api, yang didalam makanan, karena kekurangan kandungan kalori. Cara mengatasinya, adalah menyadari bahwa segala apa yang terjadi, adalah merupakan cobaan. Dan harus menumbuhkan keyakinan bahwa suatu saat pasti akan berhasil.
Adapun nafsu yang kelebihan energi, bisa menimbulkan rasa tidak senang, serakah, egois, benci, over acting, sombong, kejam, arogan, dendam, dan lain-lain. Bahkan, tidak akan segan-segan untuk melakukan segala cara agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, juga akan menimbulkan penyakit seperti; tekanan darah tinggi, depresi, stroke. Ini akibat kelebihan energi api, yang didalam makanan, tubuh kekurangan kandungan nutrisi. Jadi, didalam mengatasinya, harus jangan banyak pikiran, harus pasrah. Serta jangan terlalu memikirkan duniawi saja. Harus banyak beramal, dan berbuat baik pada sesama. Yang menjadi keanehan bagi saya, efek samping dari kedua macam kelainan didalam pengisian energi pada nafsu itu, adalah bisa sama-sama membuat orang stress, depresi dan gila.
Ringkasnya, dengan melihat watak nafsu, dan kebutuhan, serta adanya tanda-tanda disaat kekurangan, atau kelebihan bahan bakar(energi), dapat disimpulkan, bahwa sebenarnya nafsu bisa dikendalikan dengan baik, yakni melalui tanda-tanda getaran yang kita terima. Bila ternyata jiwa didalam mengisi nafsu kekurangan bahan bakar, akan menimbulkan susah. Maka jalan keluarnya adalah dengan mengurangi apa yang menjadi keinginan. Atau bila perlu, kita tambahi dengan bahan bakarnya, dengan api diluar tubuh. Sebegitu kita menyadari, bahwa nafsu kekurangan bahan bakar, biasanya kita akan tertuntun untuk mendapatkan dari luar tubuh, yakni berupa hinaan, cacian, dibuat sakit hati oleh teman, akan terbakar emosi dan lain-lain. Disamping itu, dengan menambah konsumsi makanan yang mengandung kalori. Karena sejak awal sudah menyadari, maka apa yang didapatkan dari luar tubuh, biasanya akan menjadikan cambuk, serta bisa menjadikan api semangat. Sehingga, apa yang menjadikan kendala berupa kekurangan api energi, akan terpenuhi dengan sendirinya. Begitu pula sebaliknya, bila nafsu kelebihan energi, caranya adalah dengan menambah apa yang menjadi beban nafsu. Atau mengurangi api energi dengan mengurangi makanan yang mengandung kalori, dan memperbanyak nutrisi.
Dengan demikian, kondisi nafsu manusia akan selalu terkontrol, dan selalu dalam keadaan netral sebagaimana saat kita dilahirkan. Disamping itu, perkembangan jiwa selaku pengendali nafsu, akan selalu berkembang bersama-sama secara seimbang, yang secara otomatis pula, akan mempengaruhi pada kehidupan kita yang penuh dengan kedamaian, keindahan, seperti layaknya yang diidamkan. Penuh dengan ketentraman didalam berinteraksi sosial antar sesama manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar