Lanjutan :........
Selama ini, masih banyak yang salah pengertian terhadap kebaktian kepada Tuhan. Berbakti, kepada Tuhan, bukan suatu tindakan ritual, atau dengan cara lain berupa gerakan, penuh kata dan doa. Menurut hemat saya, pemikiran seperti itu kurang benar. Dan masih belum dapat dikatakan dengan kebaktian, bila hanya dengan kata-kata belaka
Apa yang kita lakukan selama ini, hanya sebatas untuk mengabadikan suatu sejarah dari nenek moyang, yang berguna didalam mengajarkan suatu budaya, dari masyarakat dari mana agama itu dilahirkan. Juga, untuk mengajar, dan melatih, para pemula. Khususnya anak-anak, serta menunjukkan bahwa dibalik semua perbuatan kita, ada Dzat yang maha dahsyat, yang menggerakkan kita didalam mengarungi hidup di dunia. Juga, untuk memberikan pelajaran bahwa seluruh perbuatan kita, baik yang nampak atau tidak, senantiasa diketahui oleh Dzat Tuhan tersebut. Hal itu, supaya kita sebagai manusia, selalu berbuat baik, agar tatanan didalam masyarakat selalu terjaga keseimbangannya. Namun, pernahkah kita berpikir, bahwa apakah hanya para nenek moyang saja yang bisa mencari, dan menemukan Tuhan secara benar? Sedang manusia jaman sekarang tidak diperbolehkan untuk mencari kebenaran tersebut. Kalau memang begitu, untuk apa kita diberi akal, kalau hanya untuk mengikuti nenek moyang? Dan, bukankah nenek moyang juga selalu mencari, sampai akhirnya bertemu Tuhan? Mestinya, dengan kemajuan akal pada jaman sekarang ini, lebih memudahkan didalam menghayati ilmu tentang Tuhan. Juga, agar lebih mudah diterima oleh anak muda, dimana akal dan pikiran mereka sudah diisi pelajaran sekolah. Jadi, mereka tidak sekedar mengikuti saja apa yang telah didapat oleh para nenek moyang, sebagai pendahulu pencari Tuhan. Dus, dekadensi moral akan terkurangi, seperti jaman dahulu sampai akhirnya muncul para nabi, dan rasul, para penemu agama.
Agama, adalah untuk keseimbangan jiwa, disaat akal dan pikiran sudah tidak mampu mengatasi masalah yang timbul pada diri manusia. Sehingga, dengan agama, kita bisa mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Agama, mengenalkan eksistensi Tuhan. Sedang berbakti , adalah untuk merasakan eksistensi Tuhan, Yang Maha kuasa, Maha Kaya, dan Maha segalanya. Hal ini, dimaksudkan supaya manusia tidak mudah stress dan mengalami kesusahan, disaat ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Dengan adanya ajaran agama, manusia bisa merasa terlindungi. Karena dibalik agama, ada Tuhan yang selalu melindungi kita. Disamping itu, dengan ajaran agama, agar manusia hidup rukun satu sama lain. Serta, tidak merasa menang sendiri, tidak memakai hukum rimba siapa kuat dia yang menang. Dan tidak akan berbuat untuk saling menguasai orang lain. Didalam ajaran agama ditunjukkan, bahwa dibalik kekuatan kita, sesungguhnya ada Dzat yang lebih kuat lagi yaitu Tuhan itu sendiri.
Jadi, arti berbakti kepada Tuhan, adalah untuk memberikan semangat hidup, serta didalam mencari rejeki, agar selalu bertumpu pada tatanan, dan harkat hidup orang banyak. Serta tidak merampas hak-hak orang lain, selalu berbuat baik, dan berinteraksi sosial antara manusia yang satu dengan yang lain. Juga, bisa menjaga keluhuran budi pekerti sebagai manusia yang bermartabat.
Kongkritnya, dalam berbakti kepada Tuhan adalah “menjadi hamba”( beribadah) Raja atau penguasa semesta yaitu Tuhan. Manusia yang menjadi pesuruh Tuhan, bukan sebaliknya. Selama ini Tuhan yang kita suruh. Seluruh karakter manusia, adalah untuk menjalankan karakter Tuhan, walaupun hanya sebatas kecil saja. Dan, ini perlu disadari, agar lebih memudahkan kita didalam berinteraksi sosial, antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Disamping itu, juga bertujuan agar hidup kita bisa lebih berarti. Dengan menjalankan karakter Tuhan, kita akan saling menghargai. Sebab, apapun derajad seseorang, semua adalah menjalankan salah satu, atau lebih, dari karakter Tuhan tersebut. Disamping itu, punya maksud agar kita tidak berbuat melebihi kapasitas sebagai manusia, serta tidak boleh menekan orang lain. Sebab, masing-masing orang tentu punya kelemahan, dan kelebihan, yang telah terukur. Sehingga, apabila ada orang yang berbuat melebihi kapasitasnya, tentu akan menyebabkan terjadi perubahan ekosistem pada dirinya. Selanjutnya akan menimbulkan kesusahan, penderitaan, kemelaratan, penyakit dan sebagainya.
Bagaimana cara kebaktian atau beribadah pada Tuhan secara benar? Menurut hemat saya, adalah bukan hanya mengucapkan kata-kata atau doa belaka. Sebab, dengan kata-kata atau doa, tidak akan merobah kehidupan dari susah menuju damai dan tentram. Apalagi bila hidupnya penuh kesusahan dan penderitaan. Jadi, artikulasi berbakti dan beribadah kepada Tuhan, adalah dengan melaksanakan sifat/ karakter Tuhan, menjadi perbuatan manusia. Khususnya adalah yang menyangkut tentang sifat/karakter Tuhan yang kita kehendaki, dan kita butuhkan. Dengan doa, atau kata-kata, akan memberikan suatu keyakinan, bahwa sifat/karakter Tuhan akan merasuk pada jantung kita. Setelah sifat/karakter itu merasuk kedalam jantung, kita melaksanakan menjadi satu perbuatan atau tindakan nyata. (hanya sebagai Tuhan, tidak boleh mengklaim dirinya Tuhan/menjadi Tuhan). Gambarannya adalah sebagai berikut :
1. Bila kita membutuhkan “rasa kasih“Tuhan, agar apa yang diminta dikabulkan, maka kita harus pula memulai, dengan memberi sebagai rasa kasih pula pada orang lain.
2. Apabila ingin mendapat ampunan Tuhan, maka kita juga harus mudah memaafkan kesalahan orang lain. Begitu pula apabila kita meminta keselamatan, maka kita harus selalu menyelamatkan orang lain.
3. Bahkan, apabila meminta dimudahkan rejeki, maka kita juga harus memulai dengan memberikan rejeki pada orang lain. Dimulai pada orang yang tidak kenal, tidak tahu rumah, dan alamatnya masing-masing. Dengan begitu, maka kita benar-benar telah menerapkan sifat/karakter Tuhan. Jadi singkatnya, dengan memasukkan serta merasakan sifat Tuhan pada diri kita, bukan hanya sebatas kata atau doa. Tetapi, dengan terlebih dahulu meniru sifat/karakter Tuhan.
Jadi, inilah sesungguhnya yang dikatakan kita selalu ingat pada Tuhan. Dan perlu pula diketahui, bahwa berhasil serta tidaknya seseorang didalam permintaan pada Tuhan, bukan tergantung berapa juta kali mereka mengucapkan doa kepada Tuhan, melainkan tergantung seberapa besar melakukan, dan merasakan, sifat/karakter Tuhan itu, pada diri mereka masing-masing.
Inilah sebenarnya yang artikulasi kebaktian dan beribadah secara benar kepada Tuhan. Bukan seperti yang selama ini kita lakukan. Itu, hanya sebatas ritual sebagaimana yang saya tuliskan diatas. Disamping itu, dengan selalu berbicara pada Tuhan, agar kita selalu konsisten, dengan apa yang kita ucapkan. Dan selalu melaksanakan apa yang kita ucapkan. Jika kita renungkan, kepada Tuhan saja kita sering tidak pernah menepati apa yang kita ucapkan, apakah mungkin kita akan menepati bila berjanji pada orang lain. Sedangkan Tuhan, yang telah mencipta, dan memberikan hidup, dan kehidupan saja sudah dibohongi. Apalagi dengan sesama manusia yang lain. Tentu akan lebih dibohongi. Kita sering beralasan, bahwa manusia itu memang banyak kelemahannya. Dan itu yang selalu dijadikan alasan, setiap mempunyai kesalahan. Selalu berlindung dibalik kelemahan manusia, agar mendapat ampunan. Bahkan, tidak segan pula Tuhan diminta untuk selalu mengampuni kita. Padahal, lepas adanya ampunan atau tidak, jika ada perubahan ekosistem dasar, didalam raga dan jiwa manusia, akan terjadi pula perobahan didalam tata cara, sifat dan perangai kita. Sehingga, komponen dan unsur yang kita miliki didalam diri manusia, sudah tidak bisa lagi bekerja secara otomatis, seperti semula saat kita tercipta. Dan hal ini, akan membuat ekosistem baru. Yang semula kita bisa mempergunakan akal secara benar, namun akhirnya akal sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Begitu pula sebaliknya, otak kanan, atau instink. Yang semula setajam pisau pencukur, akhirnya juga tidak bisa lagi dipergunakan sebagaimana mestinya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Hal itu dikarenakan, perangkat akal dan instink, cara kerjanya telah terbalik. Yakni, disaat harus menggunakan pikiran, perangkat yang muncul adalah otak kanan, begitu pula sebaliknya. Yang seharusnya menggunakan instink, tetapi perangkat yang digunakan otak kiri atau pikiran. Dengan begitu, kita selalu salah langkah, didalam mengetrapkan komponen tersebut. Jika hal ini berlarut-larut, maka yang didapat akan selalu karut marut, didalam mengatasi setiap permasalahan yang timbul. Dan hal inilah yang dikatakan, bahwa Qolbu(jantung) kita telah dibutakan. Manusia akan selalu tersesat, dan penuh dosa.
Bersambung.............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar