Seseorang, ketika selesai menulis sebuah kalimat selalu diakhiri dengan tanda baca “ titik”. Begitu pula disaat membaca, berbicara, tentu akan dapat diketahui bahwa bacaannya sudah selesai, dalam satu kalimat atau bicaranya sudah selesai. Akan tetapi, apakah kita tahu bahwa tanda baca titik ( . ) tersebut bukan merupakan tanda baca yang sederhana? Dan tahu pulakah, bahwa tanda baca “titik” merupakan semiotika terhadap segala kejadian di alam semesta ini? Bahkan, terjadinya alam semesta juga diawali dari titik itu sendiri, yang kemudian dijadikan lambang sebuah tanda baca “ titik”( .), dan ini diakui diseluruh dunia. Akhirnya, tanda baca ini dijadikan pula sebagai tujuan akhir, seperti contohnya ; Sampai titik darah penghabisan ; sampai titik batas ; titik berat, dan lain-lain.
Kenapa tanda baca merupakan lambang dari awal kejadian alam semesta? Hal itu disebabkan bahwa, kejadian alam semesta, adalah berasal dari 1 atom sel alam semesta, yang kemudian terjadi dentuman besar, lalu mengembang menjadi alam semesta seperti sekarang ini. Juga, kejadian makhluk flora, fauna, bahkan manusia itu sendiri, terjadinya dari 1 sel sperma, yang jumlahnya mencapai 300 juta sel sperma, dari saat cemen yang dipancarkan dari laki-laki. Kemudian, dari 300 juta sel sperma ini hanya sepuluh persen yang masuk kedalam rahim. Dan yang hidup, hanya 1 sel sperma yang membuahi indung telur pada perempuan menjadi zygot. Dan ini, juga diperkuat oleh Allah, yang ditulis didalam QS. Al baqarah(2) : 138 yang berbunyi : Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.
Jadi, menurut hemat saya lambang tanda baca “titik”( . ), tidak hanya berarti sebagai suatu tanda akhir belaka. Tetapi, sekaligus juga merupakan awal dari suatu kejadian, pasti dimulai dari “ titik” itu sendiri. Terbukti, didalam kita mau menulis satu huruf saja, tentu akan dimulai dari titik itu sendiri. Contoh ; disaat kita akan menulis huruf A, begitu alat tulis menyentuh selembar kertas, bukankah lambang “ titik” itu yang akan tertulis lebih dahulu? Begitu pula disaat akan mengakhiri menulis huruf A, akan ditutup pula dengan titik sebagai akhir menulis huruf. Dengan demikian, saya semakin meyakini, bahwa lambang tanda baca “ titik”, tidak hanya merupakan akhir, akan tetapi juga merupakan awal.
Secara harfiah, “ titik” memang merupakan tanda berakhir, atau tujuannya selesai. Akan tetapi secara filosopi, titik adalah awal kejadian, awal dari masalah, awal dari anugerah, dan awal dari segalanya. Sebab, titik merupakan alam dari dimensi satu, lalu menjadi garis lurus, cekung, dan cembung, merupakan dimensi dua. Kemudian menjadi benda dan ruang, adalah alam dimensi 3, yaitu dunia tempat manusia. Naik menuju dimensi 4, tempatnya alam makhluk halus. Dimensi 5, tempat alam roh, dan seterusnya sampai alam malaikat dimensi ke 9. Jumlah dimensi hanya sampai 9, karena jumlah angka hanya sembilan.
Kesimpulan saya, karena titik merupakan segala sumber yang ada dari mikro menjadi makro, maka disaat kita mengalami segala sesuatu apapun, buruk maupun baik, bermanfaat maupun tidak, terlebih dahulu dalam berpikir, harus mengacu pada titik sebagai sebab awal Kemudian, arahkan juga pada tujuan akhir kita hidup didunia ini. Yakni, karena kita berasal dari titik, maka akan kembali pula pada titik itu sendiri. Disamping itu, tidak mungkin ada titik, jika tidak ada yang memulai menuliskan titik. Dan siapa yang menuliskan, atau berbuat, maka dia pula yang akan mengalami sampai garis batas titik itu berakhir. Serta, dengan berpikir tentang titik, akan semakin mengetahui bahwa adanya titik, karena adanya Tuhan itu sendiri, yang merupakan sumber adanya “ titik”. Dan Allah, merupakan Dzat awal, juga yang akhir, yang maha wujud, juga yang maha batin.
Demikian, dan saya tutup dengan QS. Al Mukminun(23) ; 12-14 : 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). . Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar