Seseorang, disaat mengalami suatu masalah sering merasa kebingungan bagaimana cara menyelesaikannya. Dan dari sini kemudian akan berkembang menjadi masalah lain yang menimbulkan seseorang menderita, susah, dan lain-lain. Hal ini bisa terjadi, dikarenakan tidak pernah menyadari, bahwa setiap manusia hidup didunia, mau tidak mau, suka maupun tidak, tidak akan pernah lepas dari permasalahan. Walaupun didalam setiap doa yang disampaikan pada Tuhan, selalu meminta agar dilepaskan dari permasalahan. Padahal, sebagaimana yang pernah saya tuliskan jauh sebelumnya, bahwa manusia hidup didunia ini adalah sementara. Disamping itu, alam dunia ini bukan merupakan alam manusia yang sebenarnya, jadi kita harus selalu siap untuk mendapatkan masalah yang beraneka ragam. Jika kita tidak pernah memperhatikan, maka kita sebagai manusia akan selalu mengalami penderitaan disaat masalah telah menerpa kita.
Untuk itu, sebagai langkah awal, lewat tulisan ini saya mencoba untuk mengurai terhadap permasalahan hidup manusia yang tidak akan lepas dari munculnya suatu warna perasaan disaat permasalahan itu timbul.
Dan, agar tidak terlambat didalam antisipasi, diperlukan suatu pemikiran dan perenungan pada setiap masalah yang timbul didalam kehidupan kita sehari-harinya. Apa yang harus dipikirkan, dan direnungkan? Yaitu, segala sesuatu yang terjadi pada hari ini, dan kemudian dicocokkan dengan apa yang telah terjadi pada hari-hari sebelumnya, khususnya terhadap segala perasaan yang timbul akibat adanya permasalahan yang kita alami. Contoh ; disaat kita selesai marah, pikirkan dan renungkan kenapa tadi kita marah, bisakah untuk selanjutnya tidak marah lagi bila ada permasalahan yang sejenis?
Begitu pula, disaat kita selesai mengalami kesedihan, penderitaan dan lain-lain. Bisakah kita untuk tidak mengalami hal yang sama disaat perasaan itu akan timbul kembali? Adapun caranya tidak ada lain, kecuali hanya dengan berpikir, apakah jika perasaan itu muncul, adakah keuntungan yang kita dapatkan? Bila ternyata tidak ada, lantas untuk apa kita marah dan kita bersedih? Hal ini bisa menjadi bahan perenungan, disaat masalahnya telah berlalu. Sebab pada saat kita marah, kita bersedih, tentu hati kita akan jadi gelap, sehingga kita tidak akan bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Makanya saat kita bersedih, menderita, marah dan lain-lain, jangan sekali-kali mengambil suatu keputusan apapun. Lebih baik lanjutkan dahulu perasaan yang muncul pada kita. Bahkan, dalam keadaan bahagia yang melampaui batas, juga tidak diperkenankan mengambil suatu keputusan apapun. Khususnya, yang menyangkut segala sesuatu yang belum terjadi. Sebab, keputusan yang ada, akan mempengaruhi pada tindakan yang akan diambil, yang biasanya akan membuat kerugian pada diri sendiri.
Jadi, dengan adanya permasalahan-permasalahan pada diri kita, bisa mendapatkan pengalaman didalam perkembangan jiwa. Tetapi, yang sering terjadi, jika permasalahan itu timbul, khususnya perasaan marah masih sering membekas, bahkan bisa pula berakibat dendam pada seseorang.
Selanjutnya, sebagai langkah yang kedua, disaat berdoa, kurangilah segala hal yang secara tidak kita sadari menyuruh Tuhan untuk bekerja. Walaupun kelihatannya memohon secara halus, akan tetapi hal itu menunjukkan, bahwa kita yang menjadi Tuhan, dan memerintah Tuhan agar bekerja untuk kita. Contoh : Ya Allah mudahkan rejeki bagi kami, limpahkan rejeki, berilah kenikmatan pada kami, lapangkan dada kami masukkan kami kedalam surga. Bimbinglah kami, dan lain-lain. Menurut hemat saya, mestinya disaat berdoa harus yang mengandung arti bahwa kita yang bekerja, bukan Tuhan. Contoh doa yang benar adalah” Ya Allah, petunjuk apa yang harus aku laksanakan agar rejeki ku lancar”. Ya Allah Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa masuk surga, seperti mereka-mereka yang masuk surga? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan supaya aku semakin dekat denganMu dan jauh dari kesesatan? dan sebagainya, tergantung konteks doa apa yang kita kehendaki. Ini hanya sekedar contoh, bagi mereka yang belum mengenal jati diri. Adapun bagi mereka yang telah mengenal jati diri, saya yakin bahwa mereka disaat berdoa, tidak akan pernah menggunakan kata-kata, melainkan cukup dengan suatu perbuatan untuk mencapai sesuatu. Namun, bila hal ini tidak saya tulis, lantas sampai kapan kita akan berhenti menyuruh Tuhan terus menerus? Sampai kapan kita akan dewasa dan mandiri? Dan sampai kapan kita bisa benar-benar berbakti kepada Tuhan?
Kesimpulannya, dengan langkah doa yang saya sebutkan diatas, kita akan tertuntun untuk selalu bekerja sesuai dengan petunjuk Tuhan, bukan malah sebaliknya kita yang memerintah Tuhan untuk bekerja. Walaupun cara doa seperti yang lazim kita pergunakan itu adalah sah-sah saja. Akan tetapi, apabila doa seperti itu berkelanjutan terus menerus akan membuat kita malas untuk berusaha dan bekerja, serta akan pula kecanduan untuk menyuruh orang lain mengerjakan apa yang menjadi kesulitan kita. Sementara kita, hanya tinggal ongkang-ongkang kaki saja, dan tinggal memakainya. Bukankah saat ini kita sering hanya sebagai pendengar, penonton, dan juga pemakai belaka? Dan jarang sekali yang sebagai pelaku sejarah, kendatipun itu hanya sejarahnya sendiri. Amat ironis sekali. Namun diantara kita masih belum menyadari, sehingga doa seperti yang menurut kita lazim, dan memang ada pedomannya, tetap saja dilakukan. Dengan adanya cara, dan redaksi doa yang masih seperti itu, akan membuat kita kebiasaan menyuruh orang lain. Atau setidak-tidaknya kita akan berlomba-lomba untuk menggunakan segala cara, bagaimana bisa selalu menyuruh orang lain terhadap kepentingan kita. Dengan demikian yang perlu saya pertanyakan dimanakah unsur kebaktian kita kepada Tuhan? Dan apakah kebaktian dan ibadah itu memang harus menyuruh Tuhan? Sehingga, semakin sering kita menyuruh Tuhan lantas kita dikatakan beriman kepada Tuhan?
Sebagai langkah yang ketiga atau terakhir, janganlah sekali-kali kita makan, minum atau lain-lain, yang sekiranya kita tidak benar-benar membutuhkan. Juga, jangan seringkali memikirkan segala sesuatu yang telah berlalu, walaupun itu pahit atau senang. Tetapi selalu melangkahlah kedepan agar kita tidak selalu terganjal oleh masa lalu. Dan sering-seringlah berlatih untuk bertanya pada dirinya sendiri apa yang harus dilakukan, sembari membaca, memperhatikan, berpikir, dan merenung, bahwa segala sesuatu yang terjadi, akan terjadi, adalah merupakan variabel yang memang harus dilalui serta diketahui oleh Tuhan yang telah menciptakan kita beserta alam seisinya ini. Bahkan segala sesuatu yang tidak mungkin terjadi, bisa saja terjadi. Sehingga dengan begitu, apabila kita selalu berlatih untuk mengajak diskusi dengan diri sendiri, diharapkan “jati diri “kita akan muncul dengan sendirinya. Bahkan, kalau sudah terbiasa, kita akan sering mendengar suara kita sendiri, atau melihat diri kita sendiri. Karena sesungguhnya itulah yang benar. Dan, dia itulah yang selama ini melihat dan mendengar, kendati tanpa mata dan telinga, seperti apa yang pernah saya tulis terdahulu, yakni “mendengar warna dan melihat suara”.
Romo mungkin bagi sebagian orang mengenali diri sendiri mungkin adalah masalah yang mudah tapi umumnya sebagian besar orang menganggap adalah masalah yang sukar dan sulit. Secara pribadi saya sendiri berpendapat bahwa mengatasi proses pengenalan diri sendiri ini memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan gampang. Permasalahan utama yang sering timbul dan menghambat kita untuk dapat mengenali diri kita ini adalah kemampuan diri untuk berdiri secara "jujur, obyektif dan adil" dalam memberikan pandangan terhadap diri sendiri.mekaten pangertosan Ayu Romo, matur suwon.
BalasHapusRoro yang baik, berbicara tentang jati diri tidak mengenal istilah susah atau gampang, bagaikan seorang bayi yang semula tidak bisa apa-apa, lalu bisa tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan dan berbicara. Begitu pula disaat kita sekokah dari Sekolah Dasar hingga Perguruan tinggi. Juga sama dengan disaat kita berjalan mengejar bayangan kita sendiri yang tidak pernah terkejar, namun kita tahu bahwa itu adalah bayangan kita sendiri. Pencarian jati diri adalah suatu proses untuk mengetahui, mengenal dan memperhatikan apa yang terjadi pada dirinya, sikap prilakunya, serta perubahan-perubahan pada setiap saatnya, termasuk didalamnya segala akibat apa yang diperbuat, dan kenapa sampai berbuat. Selanjutnya untuk kita simak kenapa kita harus berbuat, dan siapa yang berbuat, perasaan apa yang ada pada saat kita akan berbuat, dan saat berbuat, dan juga perasaan setelah perbuatan itu kita lakukan. Sehingga dengan demikian kita akan selalu menyadari terhadap segala perbuatan kita. Dan, makin lama akan semakin berkurang perbuatan yang terjadi tanpa kita sadari. Sudah semakin tipis kekhilafan atau kesalahan yang diperbuat dan senantiasa tertuntun dengan sendirinya.
BalasHapusBukankah asal mulanya anak disaat belajar berjalan sering terjatuh? Lambat laun anak tidak hanya bisa berjalan, tetapi kemudian bisa berlari cepat tanpa jatuh, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan begitu seseorang tidak lagi sembrono didalam mengambil keputusan. Bahkan disaat akan berbuat sesuatu, tidak akan mungkin dilakukan bila akhirnya akan merugikan diri sendiri, selain memang disadari sepenuhnya bahwa perbuatan itu memang harus dilakukan. Disamping itu, sudah tidak ada lagi was-was, ragu-ragu, selain untuk berbuat atau untuk tidak berbuat. Dengan begitu tidak akan lagi pernah ada susah dan gembira yang melampaui batas. Gampangnya, pencarian jati diri adalah satu-satunya wacana dan variabel untuk mengenal Tuhan.
Jadi, pencarian jati diri tidak akan pernah berhenti sampai mati, seperti kita mencari ilmu, apakah mengenal kata sulit dan gampang? Seperti halnya permainan catur yang hanya terdiri dari 64 kotak(hitam dan putih), namun adakah seseorang yang habis belajar catur walaupun sudah tingkatan grand master sekalipun. Tentu akan ada ilmu-ilmu baru yang diketemukan. Kenapa demikian? Karena ilmu Tuhan tidak akan habis-habis walaupun 7 lautan dijadikan tinta untuk menulisnya. Begitu pula tentang jati diri masing-masing orang harus dicari. Sehingga dengan begitu ada titik awal dari mana kita mau melangkah untuk terus berjalan, dan tidak selalu jalan ditempat. Akibatnya akan banyak menyita waktu, namun tidak mendapatkan apa-apa. Terbukti masih banyak pula orang yang merasa telah menemukan jati diri tetapi masih merasakan susah. Lantas yang perlu dipertanyakan, jati diri mana yang telah diketemukan? Kalau memang sudah ketemu kenapa masih bisa susah?
Kesimpulannya, adalah bagaimana kita jujur pada diri sendiri, sebab bagaimana mungkin akan bisa jujur pada orang lain kalau pada dirinya sendiri saja tidak bisa jujur, khususnya didalam pencarian jati diri. Itulah kenapa ajaran Tau ( tahu/mengenal= bahasa indonesia), orangnya dikatakan Tau she ( benar-benar tahu/ makrifat bahasa Arab), siapa yang mengajar? Adalah siu tau( yang maha tahu( bukan yang maha agung).
Jadi, apabila Roro ingin mencari jati diri, carilah kedalam diri sendiri, bukan diluar tubuh atau pengenalan dari orang lain, baik itu membaca, mendengarkan dan lain-lain. Sebab segala yang dari luar tubuh itu adalah ilmu yang didapat dari pengalaman orang lain. Lebih fatal lagi, bila ilmu itu bukan didapat dari diri sendiri melainkan masih merupakan nukilan dari orang lain lagi, sehingga makin lama akan semakin kabur pengertiannya. Seperti halnya cinta bukan? Apa bisa pengalaman orang lain kita lakukan kalau tidak pernah mengalami sendiri, isinya hanyalah merupakan bayangan belaka.
Demikian tanggapan romo dan semoga bisa bermanfaat.
Assalamualaikum guru (karena anda yang "menunjukkan")
BalasHapusSudikah kira nya guru membimbing saya, agar bisa lebih cepat mengenal sebenarnya diri. Alhamdulillah, saya telah bertemu dengan seorang guru yang telah membantu "menunjukkan" (membuka simpul hijab) antara diri dengan Zat Allah. Tapi karena saya kebetulan kerja di luar kota, sehingga banyak pertanyaan yang kadang menumpuk di fikiran saya, dan saya tidak tahu harua bertanya kemana. Sedangkan beliau guru saya tersebut ada di kota lain. Saat ini tahapan mengenal diri yang baru saya terima hanya sebatas (awal). Sudikah kira nya guru untuk membimbing saya agar lebih faham dalam mengenal diri.
Aamiin, wa alaikum salam. Deny anakku, sebenarnya tidaklah pantas saya dipanggil seorang guru. Sebab yang diajarkan guru itu adalah pasti sebuah ilmu. Dan seluruh ilmu pasti mengenal tinggi atau rendah. Yang berarti berbicara nilai atau angka. Dengan begitu berarti ada diluar raga. Sementara yang saya tulis adalah masalah RASA. Semua rasa tidak dapat diajarkan, melainkan untuk dirasakan sendiri karena adanya didalam diri.
Hapusjadi jika anakku ingin belajar hanya ada satu jalan yakni dengan merasakan serta merenungi apa yang telah dirasakan. Dengan begitu akan membuktikan serta akhirnya akan menyaksikan sendiri, tanpa lagi percaya begitu saja. Untuk itu bacalah seluruh tulisan saya dari awal. Karena isinya adalah untuk mendorong untuk merenungi. Dengan demikian saya yakin nanti akan dapat memetik hasil dari rasa yang telah disaksikan tsb.
adapun ketika makan tentu lewat dari 1 sendok yang akhirya akan habis 1 piring bukan? Begitu pula dalam hal rasa, tidak biaa secara sekaligus walaupun hidangan itu penuh 1 meja. Tetapi dirasakan satu persatu.
sekali lagi bacalah tulisan saya dari awal tahun 2010 sampai 2015. Syukur2 bila diprint. Dan bisa juga dilihat di FB.Disitu akan dapat mendalami dengan sendirinya tidak terasa akan merasuk energi yang selama ini tersimpan didalam kegelapan. Demikian dan semoga bermanfaat jawaban ini. Gbu.
Assalamualaikum guru (karena anda yang "menunjukkan")
BalasHapusSudikah kira nya guru membimbing saya, agar bisa lebih cepat mengenal sebenarnya diri. Alhamdulillah, saya telah bertemu dengan seorang guru yang telah membantu "menunjukkan" (membuka simpul hijab) antara diri dengan Zat Allah. Tapi karena saya kebetulan kerja di luar kota, sehingga banyak pertanyaan yang kadang menumpuk di fikiran saya, dan saya tidak tahu harus bertanya kemana. Sedangkan beliau guru saya tersebut ada di kota lain. Saat ini tahapan mengenal diri yang baru saya terima hanya sebatas (awal). Sudikah kira nya guru untuk membimbing saya agar lebih faham dalam mengenal diri. Mohon jawaban guru di email deniromansyah21@yahoo.co.id