Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 28 November 2011

RENUNGAN TENTANG GEJALA KIAMAT(DOOMSDAY)

Lanjutan :


Kita semua tahu, bahwa sesungguhnya pada masing-masing bintang, mempunyai beberapa planet yang mengitarinya. Dan didalam tata surya, ada dua planet yang letaknya bersisian, yang memiliki karakter seperti Adam dan Hawa, sebagaimana manusia. Dan hanya pada kedua planet itu yang terdapat makhluk. Masing-masing makhluk, memiliki derajat yang berbeda, serta  ada pula yang tertinggi derajatnya.
Sebagai contoh, bahwa matahari adalah merupakan salah satu bintang yang telah kita kenal, maka kedua planet yang dimaksud, adalah Bumi dan Mars. Dan sebagaimana kodratnya, bahwa matahari adalah sumber api yang memiliki panas, maka bumi bersifat dingin. Oleh karena itu, maka mahluk yang berada di bumi bersifat kebalikan, yakni panas atau Adam, sedang bumi bersifat Hawa. Sehingga sering dikatakan, bahwa bumi adalah ibu pertiwi.

          Begitu pula sifat yang terdapat pada planet Mars, tidak berbeda pula terhadap segala apa yang ada dibumi. Hanya saja, karena tempatnya lebih jauh dengan matahari, maka watak Adam dan Hawa yang di planet Mars, susunannya amat berbeda sekali dengan yang berada dibumi. Hal ini amat tergantung, dengan seberapa besar panas atau kalori yang disampaikan oleh matahari, maka sebesar itu pula dingin yang dipancarkan, oleh masing-masing planet.


          Jadi,  karena bumi lebih banyak menerima panas, maka bumi, serta makhluk yang berada didalamnya bersifat Adam. Adapun planet Mars, bersifat Hawa. Dan sebagaimana lazimnya, sifat Hawa yang lemah maka mereka tidak akan lepas dari karakter untuk selalu menyempurnakan kelemahan itu melalui nalar. Sehingga, makhluk yang ada di Mars lebih peka, dibanding dengan orang-orang yang ada dibumi. Penalaran ini pula yang menyebabkan mereka lebih dahulu ke Bumi, daripada orang-orang bumi menuju kesana.


Dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa apabila telah tiba saatnya orang-orang bumi telah menggunakan penalaran, maka pada saat itu orang bumi sampai kesana. Sebab, hanya dengan penalaran ini  satu-satunya  jalan untuk memasuki planet Mars.
Jika tiba saatnya orang-orang bumi kesana, maka makhluk yang berada pada planet Mars akan tunduk pada orang-orang di  bumi. Seperti karakter bahwa Adam bersifat pemandu didepan, bukan dibelakang.


Namun, bagaimana mungkin akan segera sampai kesana, jika terhadap sesama manusia saja, masih suka berperang untuk memuaskan nafsu. Ini terjadi karena penalaran tidak berkembang sebagaimana mestinya.


Dan, bagaimana mungkin penalaran akan berkembang, jika kita tidak menyukai perbedaan. Karena adanya perbedaan yang membuat penalaran terbuka, dan berkembang. Seperti halnya notasi lagu. Apa bisa dikatakan indah jika disusun hanya dari 1 tangga nada saja?

Padahal, jika mau menyadari bahwa keberadaan Bumi tempat kita berpijak, telah pula mendekati kehancuran. Ini disebabkan oleh ulah kita sendiri, yang telah merubah kodrat Bumi, dari Hawa menuju Adam. Lambat laun, tidak akan lagi mempunyai kekuatan daya tarik menarik, dimana matahari sebagai bintangnya. Sebab, kedua planet makin lama akan semakin mendekati kesamaan karakter. Adanya daya tarik, karena adanya kedua sifat yang berbeda. Jika semua sama, bagaimana mungkin terjadi grafitasi? Jadi, amat wajar bila suatu ketika Bumi akan terlepas dari garis edarnya. Semula bumi senantiasa mengelilingi matahari, apabila keadaan ini dibiarkan terus menerus, maka lambat laun Bumi akan mengalami kehancuran.


Sekarang, telah banyak tanda-tanda bahwa bumi akan mengalami kehancuran. Antara lain; banyak terjadi gempa bumi, bencana banjir melanda, anomali cuaca, dan lain-lain. Semua itu, karena peredaran Bumi mulai terganggu, sebagai akibat masuknya unsur Adam kedalam sifat Bumi.


Jika Bumi mengalami kehancuran, maka kehancuran pula yang akan dialami oleh planet Mars. Karena kedua planet ini merupakan bentuk satu kesatuan yang terikat kokoh, lewat perbedaan sifat itu. Seberapa besar kehancuran planet Bumi dan planet Mars, maka akan menimbulkan kehancuran juga pada seluruh planet-planet, dan benda-benda angkasa lain yang beredar mengelilingi matahari.


Apabila seluruh planet-planet didalam tata surya telah musnah, maka dalam waktu sekejab, keadaan Matahari akan oleng, dan tidak terkendali, karena unsur Hawa telah hilang, dan sudah tidak memiliki keseimbangan. Selanjutnya, matahari akan terbang kesana kemari tidak tentu porosnya. Terkecuali, jika pada saat itu muncul sebuah bintang lain, yang mendekat pada matahari. Maka akan menimbulkan daya tarik menarik antara keduanya. Bintang yang panasnya lebih tinggi, akan bersifat Adam, sedang yang lain bersifat Hawa. Jika matahari bersifat hawa, setelah daya tarik menarik antara kedua bintang itu berlalu, akan kembali muncul pula gugusan planet-planet baru, berisi loncatan unsur-unsur dari benda yang bersifat hawa. Juga, akan terbentuk pula planet-planet baru, dan benda-benda angkasa, seperti awal kejadian planet terdahulu. Matahari yang sekarang ini telah menjadi semakin kecil, karena berjuta juta tahun yang lalu telah membentuk planet-planet seperti yang dikenal saat ini. Pada saat yang akan datang, akan menjadi bertambah kecil lagi. Dan bahkan, bisa saja menjadi hancur berantakan, tanpa membentuk planet baru. Karena sesungguhnya, Matahari itu adalah bintang yang paling kecil, diantara bintang bintang lainnya.


          Hal ini yang mungkin dimaksud dengan gejala kiamat, seperti yang pernah disampaikan lewat wahyu kepada para Nabi dan Rasul. Bukan merupakan kiamat(DOOMSDAY) pada keseluruhan mahkluk, serta seluruh alam seisinya. Jika terjadi kiamat, akan tetapi tidak secara bersamaan, melainkan silih berganti, seperti awal kejadian dahulu, yang juga merupakan proses, tidak langsung ada secara tiba-tiba.

          Jadi, apabila pada suatu masa, baik yang berlalu, maupun yang akan datang, kita melihat makhluk luar angkasa berdatangan ke Bumi, sesungguhnya mereka berasal dari planet Mars. Dan bukan dari planet lain. Mereka datang, karena planet Mars saat ini semakin sering dilanda gempa, serta hujan meteor yang tiada henti. Disamping itu benda-benda angkasa banyak yang berjatuhan, bagaikan hujan pada planet Mars.


Hal ini terjadi karena eksisttensi Bumi  telah berubah bentuk dari sifat asal. Makhluk Mars sudah mengetahui, bahwa perubahan terjadi, akibat ulah manusia yang berada di bumi. Sehingga suatu ketika penghuni planet Mars  akan menyerang orang-orang di bumi, apabila sifat Bumi tidak dikembalikan seperti sifat asal.

Siapa sesungguhnya mahkluk Mars itu? Jika kita ingin mengetahui, dan menjawab dengan benar, terlebih dahulu harus mengetahui keadaan planet tempat mereka berpijak. Jika eksistensi mereka dikaitkan dengan Bumi, planet Mars adalah Hawa. Begitu pula, bila dikaitkan dengan garis orbit yang sama-sama mengelilingi Matahari, walaupun unsur sifat mahkluk derajad tinggi yang ada didalamnya  bersifat Adam.
Akan tetapi, karena tempat kedudukan  planet lebih jauh dari jalur edarnya dibandingkan dengan bumi, inti cahaya (sinar ultra violet) yang diterima dari matahari, akan lebih sedikit. Sehingga akan mempengaruhi terhadap karakter mahkluknya. Yakni, mereka lebih ada kecenderungan mempunyai karakter batin yang lebih besar(dominan), dibandingkan dari keadaan lahir(materi)


          Bila disejajarkan dengan manusia yang berada di Bumi, karakter lahir manusia lebih berperan dan dominan, dibanding sifat batin. Sedang mahkluk Halus, sama sekali tidak mempunyai sifat lahir(materi). 
 Jika disejajarkan dengan malaikat, karakter lahir(materi), dan karakter batin(anti materi), memiliki keseimbangan, serta memiliki energi positif.


Sengaja ini saya tulis panjang lebar, semata mata untuk saling meningkatkan tingkat perenungan dan penalaran, agar bisa seimbang dengan kedudukan daya pikir. Dengan harapan, kita akan bisa secara bersama-sama menyelamatkan eksistensi Bumi sebagai tempat kita berpijak, dan yang kita cintai.

           Jadi tidak heran, bila suatu ketika makhluk dari planet Mars turun ke Bumi, dan kita tidak dapat melihat secara nyata. Jika hanya melihat dengan mata dan pikiran, jangan harap dapat mengerti tentang mereka. Dan itu pula mengapa, pada tulisan terdahulu, saya mengajak merenung untuk “ melihat suara, dan mendengar warna”. Kalau kita mempergunakan penalaran lewat perenungan, yakni dengan menarik nafas dalam dalam, kemudian nafas ditahan, baru dapat melihat secara nyata. Dan bukan merupakan khayalan, seperti yang dilontarkan selama ini tentang keberadaan mereka. Mengapa? Karena infra merah yang ada didalam diri manusia, akan terbuka otomatis, dan bola mata kita akan berubah fungsi menjadi teropong infra merah. Ini membutuhkan latihan dan kesabaran. Jika bola mata manusia telah berfungsi sebagai infra merah, tidak hanya makhluk dari planet Mars, bahkan makhluk halus juga bisa dilihat. Bukankah saat ini Amerika telah menciptakan teropong yang dilengkapi dengan infra merah guna melihat angkas luar?


          Selanjutnya, membahas tentang mahkluk Mars, amat menarik sekali. Ilmu pengetahuan yang dicapai mereka hanya kelihatannya saja lebih tinggi, dibanding dengan kemajuan yang dicapai oleh orang di Bumi. Itu bukan karena mereka lebih pandai dari kita. Akan tetapi, karena mereka selama ini lebih banyak menggunakan penalaran, dan sedikit sekali memiliki akal, bahkan hampir hampir tak ada. Dan mereka membangun dengan nalar, begitu juga disaat mencipta senjata, dan piring terbang.


Mungkin masih banyak diantara kita yang tidak percaya. Bagaimana jika seandainya saya ambilkan contoh yang nyata. Yakni tentang seekor burung yang sedang membuat sangkar. 
 Juga, tentang binatang kecil dilaut, yang mampu membuat rumah mereka dari kerak-kerak air, sehingga tercipta bangunan berupa koral atau karang besar dan indah. Bahkan mampu pula menenggelamkan kapal-kapal besar hasil ciptaan manusia. Seperti “Great Barrier rief”


          Dari contoh-contoh diatas, kita bisa merenung. Apakah mereka mempunyai akal sehingga bisa berbuat demikian? Semua itu karena mereka adalah makhluk-makhluk yang pandai bersyukur. Dan mereka tidak menyia-menyiakan segala yang dimiliki. Padahal makhluk itu derajatnya lebih rendah dibanding manusia.


Sedangkan manusia, apa yang dihasilkan? Adapun bangunan-bangunan yang kita ciptakan selama ini, semata mata adalah merupakan bentuk dari bangunan nafsu. Dan, sebagaimana watak nafsu, tidak lepas dari kehendak serta keinginan. Jika suatu saat  timbul kejenuhan, maka bangunan yang telah dicipta, akan dirusak kembali. Lalu yang menjadi bahan renungan, untuk apa dibangun kalau akhirnya akan dirusak, apalagi jika yang membangun bukan kita sendiri.


Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar