Partner | KAENDRA Tour & MICE

Minggu, 11 Desember 2011

JATI SUARA (SUARA HATI)

Bila engkau mencari dan mendapatkan kebenaran, apalagi jika hasil penemuan sendiri, jangan sekali-kali disebarkan lebih dahulu pada orang lain. Tetapi buktikanlah dahulu, bahwa kebenaran itu memang dapat kau buktikan sendiri, serta bermanfaat bagimu. Kebenaran tidak harus disebarkan, melainkan ia akan tersebar dengan sendirinya. Dan, setiap kebenaran, kalau itu memang benar, pasti akan dibuktikan oleh siapapun juga, sekalipun yang membuktikan itu adalah orang yang kafir. Serta, bukanlah merupakan kebenaran namanya, bila yang membuktikan harus orang tertentu, sepanjang  orang itu mampu bahwa yang kau sampaikan merupakan kebenaran atau tidak. Bahkan, bila itu merupakan kebenaran, akan selalu bisa dicari kebenaran  demi kebenaran, didalam kebenaran awal yang engkau temui. Sebab, sesungguhnya kebenaran dimuka bumi ini, tidak ada yang abadi, selain Tuhan pemilik kebenaran itu sendiri. Dan, kebenaran yang tidak pernah digali lagi, hanyalah bisa cocok didalam jaman, dimana kebenaran itu didapatkan.
Jangan sekali-kali, engkau berdebat dengan orang lain tentang suatu kebenaran, bila tidak untuk dilaksanakan. Sebab, sekali engkau berdebat, maka selamanya akan menjadi kebiasaan untuk berdebat, tanpa hendak melaksanakan apa yang diperdebatkan. Walaupun akhirnya, kebenaran itu dapat dibuktikan, tetap saja engkau tak akan pernah melaksanakan, kebenaran yang kau dapatkan. Seterusnya, engkau akan selalu mencari orang-orang yang menyampaikan kebenaran. Seharusnya, daripada engkau berdebat tentang kebenaran yang didapatkan orang lain, kenapa engkau sendiri tidak ikut berusaha, dan menemukan kebenaran itu dari dirimu sendiri? Dan, Itu jauh lebih baik, serta akan lebih bermanfaat bagimu, daripada engkau selalu mendapat kebenaran dari orang lain. Kemudian, kau sebarkan kebenaran itu, pada orang yang lain lagi, tanpa mendapatkan, apa yang ada didalam kebenaran itu sendiri.

Dan, sesungguhnya masing-masing orang, telah tertanam benih-benih kebenaran didalam dirinya untuk dikembangkan.  Apabila hal itu tidak dicari, dan akal tidak dilatih untuk mencari dan menemukannya, lambat laun benih-benih kebenaran itu akan mati. Sehingga, akan selalu mencontoh, kebenaran yang didapat orang lain. Walaupun, belum tentu cocok untuk diterapkan didalam kehidupanmu. Oleh karena itu, carilah terus menerus kebenaran itu selagi kita masih hidup. Semakin banyak kebenaran yang didapatkan, akan semakin banyak pengetahuan yang dimiliki. Akhirnya, akan semakin mempertajam akal dan hati didalam menemukan kebenaran-kebenaran baru. Serta tidak selalu menggantungkan diri, pada kebenaran yang didapat dari orang lain. Dan untuk mencari kebenaran didalam diri, hanya dengan satu jalan, yaitu mencintai Tuhan selaku pemilik kebenaran. Serta, melaksanakan segala karakter Tuhan yang mampu untuk dilaksanakan.


Janganlah sekali-kali menyemaikan rasa benci kedalam dirimu. Sebab sebegitu rasa benci itu tersemai, kemudian akan tertanam menjadi perasaan. Selanjutnya, dia akan tumbuh dengan subur memenuhi jaringan nafsumu. Apalagi, jika rasa benci itu  kau pupuk dengan   rasa iri dan dengki. Maka lambat laun dia tidak hanya tumbuh membesar didalam manusia batini, melainkan akan pula menerobos keluar, menuju jaringan darahmu, kemudian membentuk segumpal daging yang tumbuh didalam struktur jaringan tubuhmu. Dan pernahkah kau menyadari, bahwa daging  tumbuh di dalam jaringan tubuhmu  yang dikatakan kanker liver, merupakan pohon kebencian yang pernah kau tanam sendiri . Yang semula, dia tumbuh dialam batin, kemudian menerobos keluar, lantaran alam batin, sudah tidak mampu menopang keberadaan pohon kebencian itu. Dan itulah kenapa Tuhan melarang engkau membenci, karena semata-mata untuk dirimu sendiri, dan bukan untuk orang lain.
Pernahkah kita berpikir dan menyadari, bahwa sesungguhnya  yang membangun dunia ini menjadi surga adalah orang miskin? Bahkan jika seandainya tidak ada orang miskin, kemungkinan besar  orang yang terbiasa bergelimang harta akan banyak yang mati kelaparan, kedinginan, kepanasan, atau tidak sempat hidup lama didunia.  Mengapa demikian? Karena mulai dari yang menyediakan bahan makanan  untuk ditanam, dituai dan lain-lain adalah orang miskin. Begitu pula yang membuat rumah, yang bekerja  diseluruh sektor kehidupan, semuanya diawali dari orang miskin. Jika kita menganggap bahwa orang miskin itu dibayar. Lantas darimanakah kita dapat uang jika tidak melibatkan orang miskin. Pengusaha yang kaya raya, bisakah menjadi kaya jika tanpa orang miskin?

Oleh karena itu janganlah sekali-kali memandang sebelah mata terhadap orang miskin. Sebab jika semua orang miskin tidak mau  disuruh untuk bekerja, tentu kita akan mendapat bencana.

Mengapa disaat kita mengalami penderitaan, terasa begitu lama. Sedangkan disaat merasakan kebahagiaan  begitu cepat berlalu? Padahal kalau kita menyadari, ketika mengalami penderitaan, waktu yang dilewati lebih singkat, dibanding  waktu disaat kita bahagia. Ini terjadi, bukan bicara besar dan kecilnya rasa syukur kepada Tuhan.

 Akan tetapi, karena disaat  mengalami penderitaan, kita berpikir terus menerus, bagaimana bisanya lepas dari penderitaan. Sedangkan disaat merasakan bahagia, kita menikmati  kebahagiaan itu, sehingga terasa begitu cepat berlalu. Padahal, apa bedanya dengan keduanya? Dan kenapa tidak adil? Yakni sama-sama menikmati perasaan itu, baik menderita maupun bahagia. 

Jadi, justru karena dipikir terus menerus itulah, yang menyebabkan kita jadi terpaku pada penderitaannya, dan bukan menikmati penderitaan itu, serta berpikir; bagaimana mengisi penderitaan menjadi suatu kebahagiaan. Seperti halnya perubahan siang dan malam; Pernahkah kita merasakan penderitaan disaat mengalami kegelapan? Padahal, itu selalu kita lalui pada setiap harinya. Yang ada, justru malam itu, kita hiasi dengan cahaya gemerlapan, sehingga bisa lebih bahagia melewati malam, melebihi siang disaat terang benderang. Serta  tanpa merubah keadaan malam menjadi siang.

Banyak orang  yang mencari pasangan hidupnya, namun sampai detik ini tidak ada satu orangpun  yang cocok bagi dirinya, sehingga sampai sekarang belum menikah. Bagi saya, hal itu sama halnya dengan  memiliki sawah, namun dibiarkan kosong sambil menunggu barangkali akan tumbuh tanaman sendiri. Kenapa? Karena dia tidak menanam, tetapi keliling  pada beberapa sawah milik orang lain, untuk melihat apa yang ditanam. Padahal masing-2 lahan tentu berbeda tanamannya, tergantung dari selera dan kecocokan, antara pemilik dan habitat tanahnya. Jadinya, dia tidak pernah menanam. Jika menanam, akhirnya tidak cocok dengan lahan yang dimilikinya.  Lalu bagaimana bisa tumbuh subur? Salah-salah , tanaman itu akan mati sebelum menuai hasilnya. Intinya; jika kita ingin mendapatkan jodoh, semailah dahulu biji kasih kedalam dirinya, yang sekiranya cocok untuk ditanam diluar tubuhnya. Jika kita menginginkan jodoh yang penuh kelembutan, adakah biji kelembutan yang disemai didalam dirinya? Jika kita merindukan orang yang sabar, dan menerima kita apa adanya, adakah bibit sabar dan rasa syukur yang disemai didalam diri?  Inilah sebenarnya inti dari kehidupan didunia ini, bahwa apa yang ditanam, maka dia pulalah yang akan menuai hasilnya.

Apabila kita menginginkan agar sekelompok orang, atau masyarakat, untuk melakukan perubahan  seperti yang kita kehendaki,  janganlah selalu berbicara. Apapun istilahnya, dan apapun alasannya. Hal itu tidak akan berhasil  untuk mempengaruhi, agar mereka menuruti apa yang akan kita katakan. Terkecuali, kalau kita ingin mengobarkan semangat untuk berperang. Mengapa demikian? Sebab ketahuilah, bahwa dengan bicara, yang keluar adalah suara. Bukankah kita tahu, bahwa energi suara bergerak secara TRANSVERSAL? Sebegitu kita pergi, maka suara kita telah hilang, apalagi jikalau diantara mereka ada yang telah membenci kita. Lebih baik menggunakan tulisan, yang penuh dengan energi makna. Karena didalamnya, akan menyalurkan GELOMBANG LONGITUDINAL yang akan mengaduk-aduk tidak hanya pikiran, melainkan akan pula menembus hati dan jiwa.  Terlebih lagi, jika kita seorang pejabat. Telah berapa banyak  anggaran yang dikeluarkan, dan dibuang percuma? Baik waktu yang harus disediakan oleh orang lain, sejak sebelum kita datang, sampai kita pulang.  Terutama bila  seluruh pejabat diatasnya,  juga melakukan hal yang sama, sudah berapa milyar harta yang terkuras hanya untuk bicara?

Mencintai seperti apa yang kita lihat dan kita dengar lakukan selama ini kalau tidak jeli, kita akan salah jalan serta akan selalu berada di persimpangan yang tidak tahu arah sehingga tidak akan sampai ketujuan, dan akan terhenti terhadap apa yang dicintai, dan ada perasaan terikat terhadap apa yang dicintai. Itu watak manusia. Sehingga, kenapa kita harus mencintai dahulu pada penciptanya. Sebab bisa terjadi, disaat kita melihat barang yang bagus, kita lantas mencintainya. Tetapi, begitu kita mengerti jika penciptanya adalah seorang perampok, atau orang yang tidak kita sukai, kita lantas berubah ikut membenci barangnya. Dan, bukankah itu berarti nafsu yang mengendalikan, bukan jiwa? Agar hal itu tidak terjadi, semua apapun yang kita lihat, kita dengar, dan kita baca, adalah merupakan variabel belaka untuk mengenal siapa penciptanya, dan jangan keburu mencintai. Begitu pula terhadap seluruh makhluk Tuhan, ada yang negatif, dan ada yang positif. Jika kita sudah mengenal Tuhan, serta mencintai Tuhan, maka sudah tidak ada lagi penilaian baik dan buruk. Yang ada, hanyalah positif dan negatif, dengan sifat, kebiasaan, dan kodrat masing-masing, guna mengisi kehidupan di alam semesta ini. Seperti contoh ; lagu yang minor, justru akan lebih indah didengar oleh orang yang yang suka keromantisan, dan kelembutan. Padahal minor itu adalah notasi yang menyimpang. Dalam "gending jawa"(musik jawa) dikatakan "tembang yang slendro". Bagi orang yang suka gembira, maka lagunya bernada mayor. Jadi sudah ada sifat dan kebiasaan pada masing-masing orang dan budaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar