Jika kita telaah secara mendalam, di dunia ini sebenarnya hanya ada 2 karakter dasar yakni “KARAKTER TUHAN” dan “KARAKTER MANUSIA”. Karakter Tuhan, adalah yang mencitrakan sebagai maha Pencipta, Maha Pemberi, serta wujud dari Maha batin itu sendiri. Sedangkan karakter manusia, adalah yang mencitrakan sebagai pihak yang menerima dan mendapatkan, serta merupakan wujud dari alam lahir.
Jadi, karena hanya ada 2 karakter tersebut, maka disaat kita menghadapi segala persoalan apapun didunia ini, hanya tinggal memilih karakter apa yang dibutuhkan dan cocok untuk mengatasi masalahnya. Jika kita salah memilih karakter itu maka kita mengalami kegagalan ataupun kesusahan. Sebab sebegitu kita memilih salah satu karakter, maka secara otomatis akan muncul pula variabel sebagai penyeimbang. Begitu pula adanya pertengkaran, perselisihan, dan persilangan pendapat, sesungguhnya karena adanya kedua belah pihak yang memilih 1 karakter yang sama secara bersamaan. Sebagai contoh; jika kedua pihak secara bersamaan memilih karakter Tuhan, tentu satu sama lain akan menunjukkan kekuasaannya untuk menghilangkan pihak lain. Begitu pula sebaliknya, jika sama-sama memilih karakter manusia, tentu akan berebut untuk lebih dahulu mendapatkan atau menerima, sementara pihak lain dipaksa menjadi pemberi.
Intinya, jika kita ingin berhasil satu dengan mewujutkan apa yang menjadi kehendak, maka terlebih dahulu kita harus mempelajari sifat dari kehendak itu sendiri, khususnya terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi, barulah menentukan karakter apa yang akan kita pilih. Siapa yang memulai, maka dialah yang wajib memilih karakter itu lebh dahulu. Sehingga dengan demikian, maka pihak lain akan tertuntun untuk mengambil karakter yang berbeda. Inilah yang dikatakan keseimbangan. Dan jangan sampai kita yang memulai, tetapi orang lain yang disuruh memilih karakternya, sehingga memunculkan lobi antara yang satu dengan yang lain.
Misalnya saya ingin meminta bantuan pada orang lain, maka saya harus memilih karakter sebagai manusia, maka kita harus pro aktif karena kita yang membutuhkan. Harus mengerti watak orang yang akan kita minta, situasi dan kondisinya, dengan mendahulukan watak kita sebagai manusia yang meminta atau mendapatkan. Dengan demikian, maka orang yang akan kita datangi dan kita harapkan untuk memberi, pasti akan menggunakan karakter sebagai Tuhan. Mungkinkah Tuhan akan menolak apa yang menjadi kehendak dari manusia? Begitu pula. Disaat kita berkehendak untuk memberi nasehat agar diturut dan diikuti apa yang menjadi nasehat, maka kita harus memilih karakter sebagai Tuhan yang serba tahu. Kalau kita memberi nasehat, tetapi tidak menguasai bidangnya apalagi yang diberi nasehat lebih pandai dari kita, apa mungkin nasehatnya bisa diikuti? Intinya kita harus punya wibawa dibandingkan orang yang akan diberi nasehat. Mungkinkah seorang yang biasa berbuat kejahatan menyuruh orang lain berhenti berbuat jahat? Begitu pula seorang pemimpin yang biasa korupsi apa mungkin menyuruh anak buahnya tidak korupsi, sedangkan dirinya selalu menggunakan kesempatan untuk korupsi.
Kesimpulannya, segala permasalahan didunia yang tidak bisa diatasi, karena kesalahan didalam memilih salah satu karakter dari dua karakter, sehingga variabel yang datang sebagai keseimbangan juga salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar