Setiap orang yang hidup di dunia tanpa terkecuali, apapun jabatan dan predikatnya, wajib bagi mereka untuk menciptakan jembatan didalam kehidupan ini. Yang nantinya, dapat dilalui oleh jiwa dan nafsunya, searah dengan jalan hidup yang diberikan Tuhan. Dan, jangan sampai nafsu akan membuat jembatan sendiri tanpa dikendalikan oleh jiwa, karena nafsu bukan ahlinya. Jika jiwa tidak menciptakan jembatan dalam kehidupan, maka dia tidak akan bisa bergerak mencapai persinggahan terakhir, yakni pulang ke rumahnya sendiri, yaitu kembali ke sisi Tuhan.
Pernahkah kita mengetahui, bahwa sesungguhnya orang yang sering mengalami kesusahan didalam mengarungi hidup dan kehidupannya ini, adalah semata-mata karena tidak diciptakannya jembatan untuk menyeberangi samudra kehidupan ini. Sehingga, sebelum sampai ditujuan, banyak yang jatuh bergelimpangan menyusuri lautan kehidupan, tanpa diketahui seberapa luasnya sampai keujung kematian. Andaipun ada sebagian orang yang telah membuat jembatan, namun bukan menuju arah, darimana Ruhnya berasal. Melainkan, justru malah semakin jauh membelakangi, sehingga dia tersesat jalan. Lantas, bagaimana mungkin bisa kembali ke pangkuan Tuhan dengan benar?
Bagaimanakah cara kita menciptakan jembatan antara hidup dan kehidupan, antara jiwa dan nafsunya, sejalan dengan Ruh yang diberikan Tuhan? Masing-masing orang, pasti pernah merasakan adanya siang dan malam, tentu akan melewati sampai batas senja sebelum malam. Antara gelap dan terang, lebih dahulu pasti melewati temaram. Begitu pula, disaat kita merasakan susah dan gembira, duka dan gita, musibah dan barokah? Apakah mungkin tiada hikmah didalamnya?
Intinya, dari kedua hal yang berlawanan itulah sebenarnya, dimana tempat jembatan kehidupan yang harus dibangun. Dan, bukankah hal ini telah tertanam didalam hati kita masing-masing tanpa memandang dari suku bangsa dan agama apa kita terlahir? Bahkan telah pula diajarkan kepada semua orang lewat semiotika disaat menulis angka 8. Ketika kita menulis angka 8, akan diawali dengan sebuah titik ditengah, bergerak melingkar kebawah, berlawanan dengan jarum jam, untuk kembali melewati titik awal. Kemudian dilanjutkan keatas, mengikuti arah jarum jam, sampai akhirnya menuju dimana titik asal itu berada.
Hal ini melambangkan, bahwa kejadian manusia berawal dari sebuah titik, yang kemudian membesar didalam rahim, setelah itu terlahir kemuka bumi, lalu akhirnya mati. Dari tiada menuju ada, kemudian kembali menuju tiada, selain titik itu sendiri yang tetap ada.
Selanjutnya, bagaimanakah mengetahui, bahwa jembatan atau jalan yang diciptakan didalam kehidupannya telah benar dan sempurna? Yaitu, jika sudah tidak lagi menganggap, apakah yang dihadapi merupakan musibah, ataupun barokah, Semuanya tetap dijalani, karena sudah mengetahui bahwa apapun yang terjadi, akhirnya akan terhenti dengan sendirinya. Dari mana titik itu diciptakan, maka dari situ pula titik itu akan berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar