Sering kita mendengar ada orang yang mengeluh, bahwa kehidupannya merasa hampa, merasa bosan menjalani kehidupannya, bersedih, putus asa, dan lain sebagainya. Dan mungkin juga diantara kita pernah mengalami demikian. Ketika ditanyakan, kenapa merasa hampa, jawabannya selalu klasik, bahwa mereka tidak merasa bahagia, selalu penuh kesusahan, sering mengalami rasa sepi yang selalu melingkupi kehidupannya pada setiap harinya. Atau, kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang didambakan. Intinya, mereka selalu mengeluh disaat menjalani kehidupan yang ada didepannya.
Tetapi kenapa mereka hanya dapat mengeluh, dan tidak merubah cara hidupnya sesuai dengan yang diharapkan? Rata-rata jawabannya selalu sama, bahwa mereka telah berusaha merubahnya, namun hasil akhirnya selalu sama, yakni tetap berada didalam kehampaan. Mengapa bisa terjadi demikian?
Menurut hemat saya, segala perasaan yang sedang berkecamuk didalam dirinya, karena senantiasa dibandingkan dengan kehidupan masa lalunya, atau dengan apa yang didambakan, akan terjadi pada kehidupannya dimasa yang akan datang. Namun yang terjadi, apa yang diperoleh tidak sesuai dengan kenyataan yang sedang dihadapi.
Dari sudut pandang metafisika, kenapa mereka bisa mengalami keadaan seperti itu? Karena adanya faktor nafsu manusia yang mempengaruhi, serta memberikan warna tanpa disadari, dan kita tidak bisa mengendalikan, sehingga terhanyut kedalam keinginan, sesuai dengan arah kemana nafsu itu berada.
Diantara kita tentu mengetahui, bahwa berbagai macam karakter nafsu tentu memiliki ciri khas masing-masing. Secara metafisika, tidak ada istilah nafsu yang baik atau yang buruk. Tidak ada nafsu yang lemah maupun sempurna. Semuanya, pasti tercipta sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Merujuk pada tulisan saya beberapa waktu yang lalu, yakni tentang “Nafsu adalah kendaraan multi guna secepat cahaya”, telah saya jelaskan panjang lebar, bahwa nafsu bisa mengantarkan manusia kemana saja, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Bisa membuat manusia terpuruk, namun juga bisa membuat manusia menjadi orang yang mulia, dan penuh keberhasilan. Semuanya, tergantung dari sampai sejauh mana jiwa manusia bisa mengendalikan nafsunya. Atau sebaliknya, jiwa manusia akan dikendalikan oleh nafsunya, menuju kedalam keinginan nafsu itu sendiri.
Sesuai dengan karakternya, nafsu bisa menembus seluruh alam, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, serta dimensi. Nafsu, bisa kembali menuju masa lalu, dan bisa pula menuju kemasa depan. Seperti halnya kisah fiktif, tentang seseorang yang bisa menciptakan mesin pengatur waktu, dan bisa pergi ke masa lampau, maupun ke masa depan.
Jadi, disaat seseorang mengalami kehampaan didalam hidup, antara lain karena pada saat kehampaan sedang menyelimuti dirinya, nafsunya sedang pergi meninggalkan “saat sekarang”, dimana jiwa manusia itu berada. Jika nafsu menuju ke masa lalu, akan menimbulkan lamunan, atau memori pada diri kita. Sehingga mau tidak mau, jiwa akan ikut terhanyut pada masa lalu. Jika nafsu pergi ke masa depan, jiwa akan tertuntun, untuk menuju kemasa depan. Perbedaannya adalah sebagai berikut:
1. Jika nafsu ke masa lalu, tentu yang diingat adalah kejadian yang pernah dialami oleh dirinya sendiri di masa lalu, sadar maupun tidak, akan mengajak jiwa agar bisa kembali hidup pada masa lalu yang indah. Atau, tidak menginginkan masa lalu itu kembali terjadi pada saat sekarang.
2. Jika nafsu menuju ke masa depan, tentu yang timbul adalah khayalan, atau dambaan yang ingin dialami, agar masa depan itu terjadi pada saat sekarang. Dan adanya khayalan, atau impian ini, pada umumnya ingin agar dirinya seperti orang lain yang pernah dilihat, didengar, dan dirasakan. Disadari maupun tidak, masa depan itu seolah-olah telah terjadi pada dirinya. Baik yang menyangkut tentang keberhasilan, maupun tentang kegagalan yang akan dialaminya. Keberhasilan yang telah diraih oleh orang lain, akan menjadi impian. Sedang kegagalan dan kehancuran orang lain bisa juga menjadi stigma bagi dirinya jika melakukan hal yang sama.
Dari sinilah awal seseorang merasakan sedih, hampa, putus asa, dan lain-lain. Mengapa? Karena, baik disadari maupun tidak, ketika nafsu menuju kemasa lalu, atau masa depan, jiwa ikut tertuntun kearah dimana nafsu berada. Sehingga saat sekarang( kini), jiwa dan nafsu, sama-sama tidak berada didalam tubuh batin. Seperti halnya sebuah kantor, jika karyawan maupun pimpinan tidak berada ditempat, maka kantor menjadi kosong, dan nampak sepi, padahal bukan hari libur. Sehingga lambat laun, jika kantor dibiarkan kosong, cepat atau lambat, kantor itu akan dimasuki orang yang berniat jahat. Begitu pula terhadap tubuh batin. Jika nafsu pergi ke masa lalu, atau masa depan, dan jiwa ikut terhanyut kearah nafsu berada, secara terus menerus, tidak berbeda pula dengan keadaan kantor yang kosong tadi. Bisa menimbulkan sedih, hampa, stress, depresi, gila, dan lain-lain.
Memang, tugas nafsu adalah untuk menuju ke masa lalu, ataupun masa depan. Yang semua itu adalah sekedar untuk mengingatkan kita sebagai tolok ukur, atau barometer, menuju ke masa depan. Tugas jiwa, adalah membentangkan garis linier kedua titik, yakni dari titik start masa lalu, menuju titik finish masa depan, untuk menjadi garis kehidupan. Dari kedua titik tersebut, tentu akan melewati masa kini, atau saat sekarang. Dan jiwa, harus selalu berjalan membentangkan garis kehidupan, tidak boleh berhenti, sampai menuju akhir kehidupannya, yakni kematian.
Jika jiwa terhenti di masa lalu, bagaimana mungkin garis linier kehidupan itu akan terbentuk? Begitu pula sebaliknya, jika jiwa menuju masa depan, sementara masa sekarang ditinggalkan, lalu bagaimana garis kehidupan akan terbentang? Yang terjadi, justru hanya satu titik, yakni masa depan. Sehingga, tali tidak akan terbentang, melainkan tali linier kehidupan itu akan terseret terus, kemana kita berjalan, dan masa depan juga tidak akan bisa dituju. Seperti halnya kita membentangkan tali sepanjang 100 meter, kemudian kita bawa berjalan sampai tali itu terbentang, tetapi tidak ada titik awal sebagai pengikat salah satu ujungnya, apa yang akan terjadi? Sudah barang tentu sampai sejauh ribuan mil sekalipun, maka ujung tali yang kita pegang tidak akan pernah berakhir. Jangankan orang lain yang melihatnya tidak akan heran. Kita sendiri yang membentangkan tali itupun juga heran, kenapa tidak pernah sampai ke titik akhir. Lambat laun, kita yang membawa tali juga akan putus asa.
Kenapa kehidupan ini saya lambangkan seperti tali linier? Kita tentu tahu, bahwa kehidupan didunia ini sudah diukur, sejak awal kelahiran sampai meninggal dunia, sampai sejauh mana kita diberi tali oleh Tuhan untuk kita bentangkan. Semua ini sudah ditulis didalam memori, yang dibawa oleh Ruh yang didalam ilmu kedokteran sudah ada didalam DNA masing-masing orang, tentang umur manusia. Tugas kita sebagai manusia adalah tinggal membawa tali linier kehidupan ini untuk kita bentangkan sampai titik akhir.
Kesimpulannya, kita sebagai manusia hanya cukup sekali menentukan, kemana arah masa depan yang akan kita tuju, tanpa harus lagi menengok ke masa lalu. Apabila pada sekali waktu kita teringat akan masa lalu, kita jangan sampai terhanyut, yang membuat kita akan berhenti berjalan membentangkan tali linier tadi. Jika kita teringat, adalah sekedar merupakan semiotika bagi kita, barangkali tali linier kehidupan yang kita bawa lepas atau renggang dari ikatannya. Jika ikatannya sudah kokoh, tetap saja kita berjalan dari saat ini. Jika renggang, kita kencangkan. Bukankah masa kini adalah kumpulan dari masa lalu? Itulah sebabnya banyak orang yang mempelajari ilmu garis tangan(daktiluskopi), atau mencari orang yang bisa membaca garis tangan. Karena didalam garis tangan seseorang, akan nampak peta perjalanan kehidupan yang telah dijalani, sedang dijalani, dan yang akan dijalani.
Terakhir saya sampaikan “ Laa Tahsaan’ ( jangan bersedih).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar