Pernahkah ada seorang pemimpin yang tidak mempunyai kesalahan disaat memimpin? Baik kesalahan didalam mengambil keputusan untuk semua orang yang dipimpinnya, atau kesalahan disaat memimpin untuk dirinya sendiri, serta keluarganya. Tidak ada seorangpun diseluruh dunia yang selalu benar sepanjang hidupnya. Dan sudah sangat wajar, bila suatu ketika seorang pemimpin mempunyai kesalahan. Bahkan, seorang nabi dan rasul, yang jelas-jelas sebagai manusia pilihan, berkali-kali memiliki kesalahan, serta berkali-kali pula ditegur oleh Tuhan secara langsung.
Hal itu semata-mata adalah untuk mengakui serta menyadari, bahwa kita adalah manusia, walaupun seorang nabi tidak akan terlepas dari kesalahan.
Jika kita seorang pemimpin, yang merasa selalu benar, serta tidak pernah berbuat salah, baik disaat memimpin dirinya sendiri, memimpin keluarganya, terlebih disaat memimpin sebuah negara, pernahkah merenungkan bahwa kita bukan Tuhan? Lalu, apakah kita merasa, bahwa kedudukan pemimpin itu lebih hebat dari seorang nabi, yang juga sering kali berbuat kesalahan? Atau barangkali, kita sudah merasa menjadi Tuhan? Padahal kita tahu, bahwa tuhan itu hanyalah satu, yakni adalah Allah itu sendiri. Kalau kita merasa benar, apakah Allah yang salah? Adanya pertikaian dimuka bumi ini, tidak lepas dari adanya dua pihak, antara pihak yang salah dan pihak yang benar.
Hanya lewat kejujuran hati, akan mengetahui bahwa dirinya salah. Dari mana tahu bahwa diri kita salah disaat memimpin? Yaitu, ketika kita ditegur oleh Tuhan. Jika seorang nabi, akan ditegur secara langsung lewat wahyu, sedangkan kita, akan ditegur lewat suara rakyat, sebagai perwujudan suara Tuhan itu sendiri(vox pupoli, vox Dei). Jika kita menyadari, kemudian mau mengakui disaat berbuat salah, itulah tanda bahwa dirinya adalah seorang pemimpin yang benar dan berwibawa. Dan, pemimpin seperti ini, pasti arif dan bijaksana, serta dicintai oleh rakyatnya.
Jika sebagai pemimpin tidak segera menyadari kesalahannya, serta berusaha menutupi, makin lama kesalahan itu akan semakin bertumpuk-tumpuk. Seiring dengan berapa banyak teguran dari rakyat, maka sebanyak itu pula sifat manusia akan dibuang, dan mencoba menggantikan sifat Tuhan yang maha benar. Maka yang terjadi, dia akan ditinggalkan Tuhannya, sebab Tuhan tidak bisa disaingi dalam segalanya.
Intinya : bahwa kebenaran itu adalah senantiasa berbuat segala sesuatu, menuruti perintah Tuhan. Termasuk didalamnya, kita harus menerima dan mengakui secara jujur, serta segera mawas diri, jika ditegur oleh Tuhan lewat rakyatnya, bahwa kita salah. Sebab, jika kita selalu merasa benar, menunjukkan bahwa diri kita sudah menjadi Tuhan itu sendiri, sehingga jangan menyalahkan, jika akhirnya kita akan berhadapan dengan Tuhan yang sesungguhnya, dan kita hanyalah debu didalam kekuasaan Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar