Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian-kejadian, peristiwa demi peristiwa terjadi disekitar kita. Yakni adanya peristiwa yang ajaib, dimana ada anak perempuan sekitar umur 3,5 tahun bisa mengobati segala macam penyakit, hanya dengan mengobok-obok jari-jari tangannya kedalam sebotol air, yang kemudian diminumkan pada orang-orang yang membutuhkan. Peristiwa ini terjadi didaerah Jawa barat.
Sementara disisi yang lain, banyak terjadi fenomena alam yang ekstrim saling silih berganti. Bencana alam berupa banjir, gunung meletus, gempa, angin ribut dan lain-lain. Banyaknya perampokan, korupsi, penyalah gunaan kekuasaan, saksi palsu, saling memfitnah, pembunuhan massal, serta kecelakaan telah menjadi ajang pemberitaan di media masa. Semua ini, seolah-olah menggambarkan manusia sudah tidak ada harganya lagi. Kedua contoh peristiwa diatas, merupakan gambaran perbuatan positif dan negatif, yang perlu menjadi bahan pelajaran, bagi orang-orang yang suka berpikir. Adanya kejadian anak kecil bisa mengobati orang-orang yang sakit itu, walaupun tidak masuk akal, akan tetapi bisa dibuktikan, sampai ditayangkan berulang-ulang di televisi. Terlepas hal itu merupakan gymnostik atau bukan, kenyataannya makin hari makin banyak yang datang untuk meminta kesembuhan. Begitu pula sebaliknya, kejadian-kejadian negatif yang terjadi selama ini, juga tidak masuk akal. Mulai dari yang hanya sekedar pencurian sandal, piring, serta hal-hal yang kecil lainnya, sudah dianggap pantas masuk di pengadilan. Belum ditambah lagi dengan adanya kesaksian palsu, tentang korupsi dan lain-lain, yang didalam penanganannya juga tidak masuk akal.
Terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang benar, bagi saya adanya fenomena tersebut merupakan semiotika dari Tuhan, agar kita bisa membaca pesan yang terkandung didalamnya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Semata-mata, agar kita sebagai manusia tertarik untuk membacanya. Dan bukan untuk menghujat atau memuji terhadap para pelakunya. Mencela pelaku yang menimbulkan kejadian negatif, atau mengagumi pelaku yang berbuat positif. Akan tetapi, bagaimana mungkin kita akan tertarik untuk memperhatikan, merenungkan, kemudian mempelajari serta memahami, jika kejadiannya selalu diterima secara akal. Yang tentunya, akan dianggap biasa-biasa saja, jika kejadiannya selalu normatif, dan tidak lepas dari tatanan yang telah ada, sesuai dengan jalur hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Adanya hujatan, caci-maki, pujian serta kekaguman yang ada selama ini, semata-mata karena adanya persamaan didalam sudut pandang pada hampir semua orang, yakni menggunakan otak yang ada dikepala. Andaikata ada pro- kontra, dan memang akan terjadi pro dan kontra, karena melihatnya selalu dari otak yang ada di kepala. Dan kita tahu, masing-masing orang tentu akan mempunyai penafsiran sendiri-sendiri, sesuai dengan kebiasaan cara berpikir, karakter, serta lingkungan dan pendidikan yang pernah dialami oleh mereka masing-masing. Oleh karena itu tidak mengherankan, jika akhir-akhir ini senantiasa muncul suatu peristiwa yang tidak masuk akal, kejadian yang baik, maupun yang buruk. Hal itu sebenarnya merupakan petunjuk dari Tuhan, agar hati manusia bisa tergelitik untuk memperhatikan, atau membaca fenomena tersebut. Sehingga, apabila hati bisa membaca, maka akan ditemukan suatu semiotika atau sebuah tanda-tanda/ayat-ayat Tuhan yang sebenarnya. Akan tetapi, tanda-tanda tersebut masih belum bisa menggelitik hati manusia untuk membacanya. Terbukti, semakin lama tanda-tanda itu makin sering terjadi, bahkan makin hari makin hebat. Jika hal ini belum disadari, maka tanda-tanda dari Tuhan itu akan semakin dahsyat, yang akhirnya akan menghancurkan diri manusia, yang apabila sudah diberikan semiotika, namun tetap tidak bergeming untuk mempelajari.
Ada seseorang yang pernah bertanya, bagaimana cara membaca semiotika Tuhan? Dan bahkan ada seseorang yang amat sangat lugas sekali menegur saya, yang nadanya seakan-akan menggurui, bahwa tidak gampang menyimpulkan tentang semiotika, serta harus bisa dibuktikan dengan teori akademika. Bahkan, bila perlu harus diperdebatkan dahulu didalam suatu diskusi panel untuk diterima sebagai semiotika, jika tidak bisa dibuktikan dengan teori akademik, dikatakan sembrono. Itu yang dikatakan pada saya.
Aneh, menurut saya “semiotika” tidak membutuhkan suatu cara apapun, dan tidak pernah mengenal istilah “cara” didalam membaca eksistensinya, dan tidak mengenal disiplin ilmu apapun untuk memahami semiotika. Jadi, tidak mengenal istilah metodologi. Segala sesuatu pembuktian yang masih menggunakan “cara” namanya bukan semiotika. Banyak yang salah kaprah tentang semiotika itu sendiri. Jika ada orang yang mengatakan bahwa semiotika ada ilmunya, yang dikatakan semiologi, itu hanya sekedar istilah dari pengalaman masing-masing orang yang menemukan semiotika. Dan kemudian dirangkum menjadi suatu ilmu untuk dipelajari oleh orang lain. Sehingga akhirnya yang didapat bukan lagi semiotika Tuhan, melainkan orang-orang yang mendapatkan semiotika itu yang dipelajari. Makin jauh dari maksud dan tujuan keberadaan semiotika.
Perlu diketahui, bahwa karakter semiotika adalah “langsung dan individu”. Bagi siapapun yang ingin mendapatkan semiotika tidak memerlukan cara, seperti halnya disaat kita jatuh cinta pada seseorang, menyukai sesuatu, merindukan sesuatu, bermimpi, dan lain-lain. Apakah ada cara yang ditemukan didalamnya? Semua berjalan dengan sendirinya, tidak bisa dilatih oleh orang lain, atau melihat pengalaman orang lain. Serta tidak pula mengenal, apakah seseorang itu berpendidikan rendah maupun berpendidikan tinggi. Terbukti, masih banyak orang yang berpendidikan tinggi, sekalipun dia seorang profesor, namun ternyata tidak memiliki “hati nurani”. Ini terjadi, karena mereka tidak ada kepekaan didalam membaca semiotika. Kalau ada, berarti suatu saat akan ada ilmu untuk bermimpi, ilmu untuk mencintai, ilmu untuk merindukan, berarti apa yang didapatkan sudah bukan merupakan semiotika. Dan yang dilatih, hanyalah otak yang ada di kepala, terhadap pengalaman orang lain yang mendapatkan semiotika. Yang didapat adalah ilmu tetapi tidak memiliki jiwa. Jika demikian yang terjadi, lambat laun ilmu yang ditemukan nantinya akan merusak karakter manusia menjadi binatang. Jiwa manusia sudah menjadi robot dari nafsunya, yang cepat ataupun lambat akan menghancurkan dirinya sendiri. Seseorang yang sudah kehilangan jati dirinya, akan kehilangan makna untuk apa manusia hidup didunia.
Manusia, diciptakan dalam keadaan yang sempurna, karena memiliki “akal dan budi”, yang berada didalam jantung manusia. Disamping itu, manusia juga memiliki otak yang ada di kepala. Didalam membaca semiotika, kita hanya cukup memperhatikan peristiwa yang ada di alam sekitar, termasuk flora dan fauna yang hidup didalamnya. Apa yang harus kita perhatikan? Adalah segala perubahan yang terjadi, pasti ada yang menggerakkan, pasti mempunyai maksud dan tujuan untuk memberitahukan pada kita. Tentang akibat yang akan, dan belum terjadi, pada waktu-waktu yang akan datang. Perubahan itulah yang dikatakan fenomena karena adanya sebuah peristiwa, baik terhadap alam mikro, maupun alam makro.
Jika kita senantiasa memperhatikan fenomena itu, serta berpikir apa maksudnya, maka yang muncul kemudian, akan terjadi suatu diskusi panjang dengan diri sendiri. Dari diskusi diri, akan muncul perenungan yang terus menerus, sampai akhirnya menemukan suatu titik perenungan, bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi jika tidak mempunyai maksud dan tujuan. Dengan demikian, kita tidak mungkin lagi berpikir tentang pihak perantara sebagai penyebab utama peristiwa itu terjadi, selain Tuhan itu sendiri yang menyuruh adanya perantara itu kepada kita. Seperti contoh ; adanya bencana alam yang menyebabkan meninggalnya 1 juta orang sekalipun, adakah yang bisa dituntut ke pengadilan? Disaat ada harimau memangsa manusia, adanya orang yang terluka parah karena dimakan binatang buas, banyaknya rumah yang hancur karena diterjang badai, adakah orang yang dendam karena rumahnya telah dirusak?
Sebaliknya, jika kita melihat ada orang yang naik mobil kemudian melanggar beberapa orang dan meninggal dunia, kenapa kita yang melihat begitu dendam, bahkan ingin menghukum seberat-beratnya. Bahkan, orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan ikut mencaci maki, melebihi dari caci maki dari para keluarga korban. Jika kita merenungkan secara mendalam, apa bedanya dengan ribuan orang bahkan jutaan manusia mati mengenaskan karena diterjang badai? Inilah sekedar contoh untuk menemukan sesuatu tanda dari peristiwa-peristiwa yang terjadi selama ini. Jika kita benar-benar jeli, tentu akan mendapatkan pesan yang berupa semiotika bagi orang-orang yang melihat, mendengar, serta merasakan adanya fenomena dimaksud.
Kenyataannya tidak demikian. Mengapa? Karena disaat ada peristiwa, baik yang menimpa dirinya sendiri atau keluarganya, perasaan kita sudah terlebih dahulu hanyut dalam sebuah perasaan. Bahkan, orang-orang yang tidak mengalami sendiri, hanya sekedar melihat, mendengar dan tidak mengalami, gejolak perasaannya lebih dahsyat dari mereka yang mengalaminya. Jika demikian, bagaimana mungkin “akal dan budi” manusia bisa bersikap?
Bahan renungan diatas inilah sebenarnya yang merupakan awal bagi seseorang untuk mendapatkan semiotika. Yakni, dengan merenung bahwa segala sesuatu tidak akan mungkin terjadi jika Tuhan tidak menghendaki, tentu kita akan berpikir, apa maksud Tuhan mengirim pesan lewat fenomena, minimal terhadap diri sendiri. Sehingga yang muncul bukan otak yang ada di kepala yang berpikir, melainkan hati manusia yang berpikir. Otak di kepala, hanya tinggal menerima signal-signal dari hati untuk menjadikan tanda-tanda menjadi faktual, dari non empirik menjadi empirik.
Kesimpulannya ; jika kita ingin membaca semiotika, kita harus selalu melatih untuk merenungkan setiap kejadian, jangan terhanyut pada peristiwanya, melainkan berpikir tentang penyebab utamanya(kausa prima). Dengan begitu, maka akal dan budi yang ada dihati akan bekerja dengan sendirinya, sedang otak dikepala akan menunggu perintah hati untuk melaksanakan tugasnya, dari maya menuju nyata. Untuk lebih jelasnya silahkan membaca kembali tulisan-tulisan saya yang terdahulu di blog www.trisws.blogspot.com.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar