Semakin modern perkembangan zaman, sesungguhnya akan semakin salah kaprah penilaian seseorang didalam mengukur tingkat kepemilikan harta kekayaan, baik kepemilikan hartanya sendiri, atau yang dimiliki oleh orang lain. Selama ini tolok ukur kekayaan yang dijadikan acuan hanya sebatas seberapa besar harta yang dimiliki jika dibandingkan dengan harta kekayaan yang dimiliki oleh orang lain. Jika kekayaan materi yang dimiliki nilainya lebih kecil dari yang dimiliki orang lain maka kita merasa bahwa kita adalah orang miskin. Begitu pula sebaliknya, jika harta yang kita miliki lebih banyak dengan harta yang dimiliki oleh orang lain, maka dapat dikatakan kita kaya raya. Semakin besar perbedaan jumlah harta yang kita miliki dengan milik orang lain, maka semakin besar pula tolok ukur terhadap nilai kekayaan yang kita miliki, yang pada umumnya bisa dikaitkan dengan seberapa besar pajak yang harus kita bayar. Semakin besar pajak yang menjadi tanggungan, maka akan semakin besar pula tingkat kekayaan seseorang.
Jika tolok ukurnya semacam diatas, sesungguhnya merupakan salah kaprah, dan apabila masih tetap menghitung kekayaan seseorang dengan begitu, cepat maupun lambat orang-orang tersebut akan mengalami kehancuran. Sebab apa artinya kaya materi, jika akhirnya miskin non materi.
Saya katakan demikian, sebab hidup didunia ini, bahkan kehidupan diseluruh alam semesta tidak terlepas dari hukum alam, yang senantiasa berpasangan, positif dan negative, siang dan malam, panas, dingin dan lain-lain. Jika semula tercipta dalam keadaan seimbang pada setiap pasangan, sudah barang tentu masing-masing memiliki kedudukan yang sama. Jika kedudukan positif ada 50 persen maka kedudukan negative yang ada juga 50 persen. Begitu pula halnya yang berlaku terhadap semua orang. Masing-masing diciptakan memiliki kekayaan materi 50 persen, kekayaan non materi( batini) juga 50 persen.
Selanjutnya didalam mengarungi perjalanan hidupnya, semua orang harus senantiasa membuat ukuran kekayaan asli dari Tuhan, selalu dalam keadaan seimbang. Jika seseorang akan menambah unsur materi dengan tambahan 10 persen, maka dia juga harus menambah kekayaan batin sebesar 10 persen. Sebab jika hanya sebatas materi saja yang bertambah, mau tidak mau, suka maupun tidak, kekayaan batin yang dimiliki akan berkurang 10 persen.
Dari mana kita mendapatkan tambahan kekayaan itu ?
Segala kekayaan yang ada didalam tubuh lahir maupun batin, merupakan modal dasar yang diberikan Tuhan kepada seluruh makhluk yang diciptakan. Dan khusus untuk manusia, seluruh kekayaan yang ada di alam semesta ini, memang semata-mata untuk manusia agar dikelola untuk seluruh kebutuhan ummat. Baik yang berupa kekayaan batin, maupun kekayaan materiil, semua sudah tersedia tidak terbatas dialam semesta. Adapun bentuk kekayaan itu masih berbentuk energy materi dan non materi untuk diunduh, serta dipergunakan secara maksimal, dengan memperhatikan keseimbangan diantara keduanya.
Akan tetapi didalam perjalanan kehidupan manusia sehari-harinya, amat jarang sekali seseorang akan mengambil kedua kekayaan itu secara bersamaan. Dan yang sering diunduh dialam semesta hanya sebatas apa yang nampak didalam segi materiil belaka, sedang kekayaan non materiil tidak diunduh. Padahal sebagaimana yang saya paparkan diatas telah jelas dikatakan, bahwa segala apa yang ada dialam semesta ini diciptakan dalam keadaan sempurna, seimbang dan berpasangan. Jika kita mengunduh positifnya, maka dengan semestinya kita harus pula mengunduh negatifnya. Jika kita mengunduh isinya, maka kita juga harus mengunduh tempatnya, atau ruangnya. Namun yang terjadi tidak demikian. Yang diunduh hanya isinya dan ditempatkan pada tempat yang sudah ada didalam diri manusia, sehingga lambat laun isi yang ada didalam tubuh akan memenuhi tempat yang kita miliki. Sehingga akan berakibat ketidak seimbangan antara ruang dan isi yang kita miliki. Sama halnya dengan kita memiliki ruang yang hanya memuat barang sebanyak 100, akan tetapi diisi dengan barang yang nilainya 110 atau bahkan lebih. Apa yang akan terjadi? Cepat atau lambat ruangan tadi akan rusak, bahkan barang yang ada didalamnya juga akan rusak bila terus menerus dijejalkan.
Begitu pula yang terjadi pada diri manusia, antara isi dan ruang untuk menampung kekayaan itu tidak seimbang. Dan ini yang sering kita kenal dengan keserakahan. Jika ruangannya yang diperbesar sedangkan isinya hanya sedikit, bisa dikatakan orang itu sombong, atau pemimpi.
Dan jika keadaan ini terus menerus terjadi pada diri manusia, sudah barang tentu akan menyebabkan kelainan pada tubuh manusia, baik lahir maupun batin. Seperti halnya susah, menderita, kecewa, sombong, serakah dan lain-lain, merupakan wujud dari ketidak seimbangan antara kekayaan materiil dan non materiil yang ada didalam dirinya.
Fungsi agama, dan ajaran Ketuhanan yang ada, semata-mata adalah untuk menjaga keseimbangan didalam mengunduh kekayaan materiil dan non materiil yang ada dialam semesta, untuk memenuhi kebutuhan masing-masing, seiring dengan bertambahnya umur dan pengetahuan yang dimiliki. Sehingga dengan demikian, orang yang mengunduh kekayaan bagi dirinya akan senantiasa merasakan ketentraman dan kedamaian seperti layaknya bayi yang baru lahir sampai meningkat ke tingkat dewasa sampai menuju batas akhir kematiannya. Dan inilah masa-masa seseorang itu berada didalam sorga. Jika tidak seimbang didalam mengunduh kekayaan dialam semesta, entah apakah karena non materinya yang terlalu besar, atau materinya yang lebih besar, tentu akan menimbulkan perubahan warna perasaan sebagai akibat ketidak seimbangan tadi.
Kesimpulannya : Kita sebagai manusia, didalam mencari kekayaan, jangan hanya bersifat materi saja, akan tetapi yang bersifat non materi harus juga dicari, serta harus selalu seimbang antara keduanya. Semakin seimbang kedudukan antara materi dan non materi yang dimiliki seperti saat kita dilahirkan, maka akan semakin tentram pula didalam mengarungi kehidupan manusia didunia ini.
Dan kita harus selalu melihat keadaan perasaan kita setiap saatnya. Jika suatu saat perasaan kita ada perubahan seperti ; susah, kecewa, menderita, senang, gembira dan lain-lain, baik itu merupakan perasaan positif maupun negative, menunjukkan ada ketidak seimbangan didalam diri. Jika sudah demikian, langkah yang harus kita lakukan hanyalah dengan satu jalan, yakni dengan menjadi tangan yang diatas. Jika warna perasaan menuju kearah positif, energy kekayaan materi yang dimiliki lebih besar dibandingkan ruang untuk tempat materinya. Dan karena jenis warna dan besar energy sudah jelas, kita hanya memberi unsur materi pada orang yang tidak mampu, dengan harapan akan bisa mendapatkan atau memperbesar ruangan untuk menampung energy yang kita miliki, kepada seorang laki-laki atau perempuan. Jika warna perasaan menuju kearah negative, menunjukkan ruang untuk menempatkan energy materi lebih besar. Jika demikian disaat kita menjadi tangan yang diatas harus mendapatkan energy materi, dengan memberikan materi pada dua orang yang berlainan jenis laki-laki dan perempuan. Hal ini disebabkan karena adanya energy materi senantiasa berpasangan, yakni energy negative dan energy positif.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar